Analisis Washington Post: Tindakan Polisi Berujung Kematian Massal di Kanjuruhan

Kamis, 6 Oktober 2022 20:56 Reporter : Hari Ariyanti
Analisis Washington Post: Tindakan Polisi Berujung Kematian Massal di Kanjuruhan Suasana kericuhan di laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan. ©2022 AFP

Merdeka.com - Tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur Sabtu lalu masih menjadi perhatian dunia. Sejumlah media asing melakukan investigasi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada malam nahas itu.

Salah satu media luar yang melakukan investigasi adalah The Washington Post. Hasilnya mengejutkan, menyatakan bahwa tewasnya sekitar 130 orang akibat kekacauan fatal setelah polisi menembakkan gas air mata ke arah penonton pertandingan Arema lawan Persebaya.

Washington Post melaporkan, penembakan 40 amunisi yang terdiri dari gas air mata, pistol suar, dan granat setrum ke arah supporter dalam rentang waktu 10 menit memicu para penonton berhamburan mencari pintu keluar. Washington Post juga menyebut penembakan amunisi tersebut melanggar protokol nasional dan pedoman keamanan internasional untuk pertandingan bola.

Investigasi menemukan, banyak penonton yang terinjak-injak sampai tewas maupun tertimpa tembok dan gerbang besi karena beberapa pintu keluar ditutup. Mabes Polri tidak menanggapi permintaan komentar yang diajukan berulang kali oleh Washington Post.

Investigasi ini dilakukan berdasarkan hasil pengujian atau analisis dari 100 lebih video maupun foto, wawancara 11 saksi mata dan analisis oleh pakar pengendalian massa dan aktivis HAM. Hasilnya mengungkapkan bagaimana polisi menggunakan gas air mata untuk merespons ratusan penonton yang memasuki lapangan menyebabkan gelombang besar massa di ujung selatan stadion Kanjuruhan, di mana para penyintas mengatakan sebagian besar kematian terjadi di sana.

Sejumlah saksi mata mengatakan beberapa pintu terkunci, menambah kepanikan para penonton yang berusaha menyelamatkan diri. Ini juga dibenarkan Presiden Joko Widodo setelah mengunjungi Stadion Kanjuruhan pada Rabu (5/10).

2 dari 3 halaman
analisis washington post: tindakan polisi berujung kematian massal di kanjuruhan

Sampai Kamis (6/10), kepolisian mengatakan 131 korban tewas, termasuk 40 anak-anak. Sementara sejumlah kelompok HAM, termasuk Amnesty International mengatakan korban jiwa bisa mencapai 200.

Pejabat Polda Jatim berdalih, penggunaan gas air mata dibenarkan karena ada anarkisme. Namun pernyataan ini dibantah pakar pengendalian massa yang menganalisis sebuah video rekonstruksi dari The Washington Post.

The Post juga menyebut polisi melanggar protokol PSSI, yang menyatakan semua pertandingan harus mengikuti ketentuan FIFA. FIFA melarang penggunaan gas air mata untuk mengendalikan massa di dalam stadion dan memerintahkan pintu keluar dan pintu darurat tetap terbuka sepanjang waktu.

Video yang diperoleh The Post secara eksklusif menunjukkan polisi, sesaat setelah pertandingan selesai, menembakkan sedikitnya 40 amunisi non-lethal (tidak mematikan) ke arah penonton di lapangan dan tribun. Sebagian besar gas air mata itu mengarah ke tribun 11, 12, dan 13.

Polisi yang berdiri di depan tribun 13 menembakkan gas ke arah lapangan dan ke atas tribun, mendorong ribuan penonton berusaha menyelamatkan diri dari kursi mereka. Penonton terjebak di pintu keluar, yang luasnya hanya cukup untuk satu atau dua orang, kata para saksi mata.

Clifford Stott, profesor di Universitas Keele Inggris yang mempelajari penanganan terhadap penggemar olahraga, mengkaji sejumlah video yang diberikan The Post. Stott mengatakan apa yang terjadi di Kanjuruhan akibat tindakan langsung polisi ditambah buruknya pengelolaan stadion. Dia juga berpendapat, penggunaan gas air mata oleh polisi tidak proporsional.

"Menembakkan gas air mata ke tribun ketika gerbang terkunci hanya akan menyebabkan kematian dalam jumlah besar," paparnya.
"Dan itulah yang terjadi."

Setelah polisi menembakkan gas air mata, penonton di tribun 9 dan 10 mengungkapkan kepada The Post, mereka batuk-batuk dan mata mereka mulai berair. Di tribun 12 dan 13, para penonton hampir seluruhnya diselimuti asap gas air mata. Para saksi mengungkapkan, saat itu teriakan para penonton dari tribun 13 menggema.

"Gasnya terbakar," kata Elmiati (33). Dia duduk di dekat pintu keluar nomor 13 bersama suami dan putranya yang berusia tiga tahun namun mereka terpisah selama kekacauan tersebut. Suami dan putranya meninggal malam itu.

"Mereka terus menembak ke tribun, tapi orang-orang tidak tahu apa yang sedang terjadi," ujarnya.

Menurut 10 saksi mata yang diwawancarai The Post, ketika gas dan asap memenuhi tribun 12 dan 13, banyak penonton melompat ke lapangan untuk menyelamatkan diri. Ada juga yang berusaha menuju pintu keluar, tapi setelah pintu keluar terkunci, mereka berusaha melompat ke lapangan.

Aparat kemudian menembakkan kembali gas air mata ke ujung selatan stadion, beberapa mengarah ke tribun.

"Semua orang panik. Pendukung panik karena mereka ingin keluar, dan pasukan keamanan juga panik," kata seorang fotografer, Ari Bowo Sucipto yang saat itu berada di TKP.

3 dari 3 halaman
analisis washington post: tindakan polisi berujung kematian massal di kanjuruhan

Pengacara HAM di Medan, Ranto Sibarani yang menganalisis tayangan sejumlah video mengatakan aparat tampaknya menembakkan amunisi "secara sporadis" dan tanpa strategi yang jelas. Ada anggota polisi daerah dan nasional serta TNI di lapangan, tapi tidak jelas siapa yang bertanggung jawab. Akibatnya terjadi penggunaan bahan kimia (gas air mata) yang masif dan tidak terkoordinasi.

Wakil Direktur Amnesty International Indonesia, Wirya Adiwena mengatakan tindakan polisi mencerminkan masalah sistemik penegak hukum Indonesia. Laporan Amnesty pada 2020 mendokumentasikan ada 43 insiden kekerasan polisi selama unjuk rasa, termasuk video yang menunjukkan polisi menggunakan gas air mata di ruang-ruang sempit dan menembakkan meriam air pada jarak dekat.

"Ini bukan hanya tanggung jawab orang-orang yang mengayunkan tongkat," kata Wirya, "tetapi juga orang-orang yang membiarkan prosedur seperti ini dilakukan berulang kali."

Muhammad Iqbal (17), yang duduk di kursi dekat Elmiati di tribun 13, mengatakan dia berlari ketika gas air mata ditembakkan. Dia menuju pintu di tribun 8, tapi pintu tampak tertutup. Dia kembali ke tribun 13, di sana dia tergelincir dan jatuh ke tangga menuju pintu keluar. Dia mengalami luka di lengan, kaki, dan perut.

"Saya rasanya mau mati di sana," kata Iqbal. "Saya yakin saya tidak bisa keluar."

Juru bicara Mabes Polri, Dedi Prasetyo mengatakan, pengaturan pintu keluar tanggung jawab penyelenggara, bukan polisi.

PSSI pada Selasa mengakui beberapa pintu keluar ditutup ketika polisi mulai menembakkan gas air mata, tapi tidak menyebutkan berapa banyak pintu yang dikunci. Perwakilan PSSI, Erwin Tobing mengatakan petugas stadion tidak punya waktu untuk membuka kembali semua pintu keluar.

Namun menurut pakar pengendalian massa, saat polisi mulai menembakkan gas air mata, pertandingan telah selesai sekitar 11 menit.

Penyelidik polisi, berdasarkan CCTV di enam dari 14 pintu keluar stadion, mengatakan pintu tersebut terbuka tapi sangat sempit untuk massa yang jumlahnya sangat banyak.

Sejumlah foto dan video menunjukkan beberapa pintu di sekitar stadion ringsek setelah insiden tersebut.

"Saya melihat video gerbang baja berat yang ringsek karena dorongan. Ya, itu hanya bisa ringsek karena dorongan ketika terkunci rapat," jelas Stott.

Saksi mata mengatakan, pintu keluar yang terbuka di beberapa tempat terhalang oleh orang-orang yang pingsan atau tersandung.

Bhaitul Rohman (27) mengatakan dia keluar melalui pintu di tribun 3 sebelum menuju tribun empat untuk membantu orang-orang yang terjebak di sana.

"Saya melihat sekitar 20 orang bertumpukan satu sama lain," tuturnya.

"Saya merasakan ada tangan memegang kaki saya dan melihat seorang laki-laki yang tidak bisa keluar dari bawah tumpukan mayat." [pan]

Baca juga:
Kapolri: 11 Personel Tembak Gas Air Mata ke Tribun & Lapangan Stadion Kanjuruhan
Tragedi Kanjuruhan: 20 Polisi Diproses Etik, 3 Perintahkan Tembak Gas Air Mata
PSSI: FIFA Tidak Bicara Sanksi Sama Sekali Soal Tragedi Kanjuruhan
Penanganan Korban Kanjuruhan, Menko PMK: Tidak Ada Pungutan Semua Gratis

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini