Amerika Serikat Sebut ISIS Kembali Bangkit di Suriah

Kamis, 8 Agustus 2019 11:48 Reporter : Merdeka
Amerika Serikat Sebut ISIS Kembali Bangkit di Suriah Anak-anak Irak cari tempat perlindungan dari ISIS. ©2016 REUTERS/Thaier Al-Sudani

Merdeka.com - Kelompok bersenjata ISIS kembali bangkit di Suriah, setelah lima bulan lalu dinyatakan seratus persen kalah oleh Presiden Donald Trump. Hal ini diungkap Pentagon, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) dalam laporan terbarunya, Selasa (6/8).

"Meskipun kehilangan wilayah 'kekhalifahannya', Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) memperkuat kemampuan gerilyanya di Irak dan kembali bangkit di Suriah," tulis laporan Petagon, seperti yang dilansir dari CNN, Kamis (8/8).

Dalam laporan terbaru Pentagon itu, disebutkan bahwa penarikan sebagian pasukan AS dari Suriah berdampak pada perang melawan ISIS. Akibat berkurangnya personel, pengawasan AS dan sekutu terhadap kamp ISIS pun melemah. Padahal, menurut laporan tersebut kamp-kamp pendukung ISIS perlu diawasi untuk memonitor kemungkinan adanya perpindahan secara internal, yang memberi peluang bagi ISIS untuk mengisi kembali jajarannya.

"Pengurangan pasukan AS telah mengurangi ketersediaan bantuan bagi pasukan pendukung Suriah, di saat mereka membutuhkan pelatihan dan amunisi untuk menghadapi kebangkitan ISIS," tulis Wakil kepala Inspektur Jenderal, Glenn Fine dalam sebuah lampiran di laporan tersebut.

Laporan Pentagon sekaligus mematahkan anggapan Presiden Trump, tentang keberhasilan pemerintahannya dalam menekan ISIS keluar dari wilayah kekuasaannya di Suriah.

"Kami melakukan kerja yang hebat terhadap kekhalifahan (ISIS). Kami telah memiliki seratus persen (wilayah) kekhalifahan (ISIS), dan dengan cepat menarik diri dari Suriah," ujar Trump dalam rapat kabinet bulan lalu.

Keputusan Trump untuk menarik kembali pasukannya dari Suriah juga disesalkan mantan utusan khusus presiden AS untuk peperangan ISIS, Brett McGurk. Dirinya menilai, laporan Pentagon harus segera ditanggapi serius.

"Perintah Trump untuk menarik kembali pasukannya, datang di saat yang tidak tepat dan mengurangi sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan misi," tulis McGurk pada Rabu (7/8).

Trump mengatakan, sebagian pasukan AS akan tetap berada di Suriah untuk jangka waktu yang belum ditentukan, guna memastikan ISIS masih dikalahkan. Namun, Pentagon hingga saat ini belum menyebutkan jumlah pasti pasukan AS yang tersedia di sana.

"Suriah dapat menangani masalah mereka sendiri, bersama Iran, Rusia, Irak, dan Turki. (Pasukan) Kami berada 7.000 mil (dari batas wilayah Suriah)," ungkap Trump bulan lalu.

Selain membahas soal berkurangnya personel AS di Suriah, Pentagon akhir-akhir ini juga menaruh kekhawatiran pada operasi militer Turki terhadap pasukan Kurdi, sekutu AS di Timur Laut Suriah. Pentagon menyebut, operasi itu dapat membahayakan pertempuran melawan ISIS.

Dikutip dari CNN, operasi semacam itu telah berulang kali diusulkan Turki, namun berkali-kali pula ditolak AS. Operasi militer Turki dikhawatirkan membuat pasukan AS terjebak dalam baku tembak. Di saat yang sama, dikhawatirkan pula tahanan ISIS dapat melarikan diri di tengah kekacauan akibat operasi militer tersebut.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita [pan]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Ekstremis ISIS
  3. Amerika Serikat
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini