Ambisi Terselubung Erdogan di Balik Operasi Militer di Suriah

Selasa, 22 Oktober 2019 07:29 Reporter : Pandasurya Wijaya
Ambisi Terselubung Erdogan di Balik Operasi Militer di Suriah Siluet Presiden Recep Tayyip Erdogan. AFP

Merdeka.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan punya ambisi lebih dari sekadar menguasai perbatasan Suriah dengan menggempur pasukan milisi Kurdi Suriah.

Beberapa pekan sebelum dia mengumumkan operasi militer, Erdogan mengungkapkan ambisinya yang lebih besar.

"Sejumlah negara punya rudal dengan hulu ledak nuklir," kata dia di depan partai pendukungnya pada September lalu. "Tapi negara Barat berkeras 'kita tidak boleh memilikinya'," kata dia. "Saya tidak bisa terima ini."

Kini di saat Turki berhadapan dengan sekutu NATO dan bertaruh untuk bisa masuk ke Suriah tanpa mendapat sanksi apa pun, ancaman Erdogan itu punya arti lain.

Jika Amerika Serikat tidak bisa mencegah Erdogan menghancurkan Kurdi, bagaimana mungkin AS bisa menghentikan Turki menguasai senjata nuklir atau teknologi nuklir?

Bukan kali pertama Erdogan mengungkapkan ambisinya untuk memiliki senjata nuklir dan tak ada pihak mana pun yang tahu percis apa sebetulnya tujuan dia. Erdogan adalah sosok yang lihai menjaga keseimbangan antara pihak sekutu dan musuhnya, seperti yang diketahui Presiden Trump dalam dua pekan terakhir.

"Turki sudah mengatakan bertahun-tahun lalu mereka akan mengikuti jejak Iran," kata John J Hamre, mantan wakil menteri pertahanan yang kini mengelola Pusat Strategis Studi Internasional di Washington.

"Tapi kali ini berbeda. Erdogan memanfaatkan mundurnya pasukan AS dari kawasan itu."

"Mungkin seperti Iran, dia ingin memperlihatkan dirinya sudah semakin dekat dengan ambisi mempunyai senjata nuklir kapan saja," ujar Hamre.

1 dari 2 halaman

Pasar Gelap Nuklir

Jika benar, maka Erdogan tampaknya sudah mengarah pada kepemilikan senjata nuklir yang jauh lebih canggih dari Arab Saudi, meski tidak lebih dari yang sudah dibikin Iran. Namun sejumlah ahli meragukan jika Erdogan mampu merahasiakan ambisinya itu dan setiap langkah untuk mengarah ke sana akan memicu krisis baru: Turki akan menjadi negara NATO pertama yang melanggar kesepakatan nuklir.

Kini Turki sudah membuat program bom nuklir dengan menyimpan stok uranium dan reaktor penelitian serta punya kaitan dengan sosok yang terkenal di pasar gelap mengenai senjata nuklir" Abdul Kadir Khan dari Pakistan. Turki juga membangun pembangkit listrik besar pertama dengan bantuan Rusia. Negeri Beruang Merah juga diketahui membantu Iran membangun reaktor nuklir Bushehr.

Para ahli mengatakan masih butuh beberapa tahun lagi bagi Turki untuk mempunyai senjata nuklir, kecuali Erdogan langsung membelinya.

"Erdogan sedang memainkan isu anti-Amerika dengan retorika nuklirnya, tapi tampaknya dia tidak berambisi punya senjata nuklir," kata Jessica C Varnum, pengamat Turki dari Pusat Studi Nonproliferasi James Martin di California, AS. "Akan ada ongkos ekonomi bagi Turki yang bisa merusak lumbung suara Erdogan."

2 dari 2 halaman

Turki Punya Partner

Ada satu lagi elemen yang menambah pelik isu ini: 50 senjata nuklir AS saat ini tersimpan di Turki. AS selama ini tidak pernah secara terbuka mengakui fakta itu sampai Rabu lalu Trump mengungkapnya.

Ketika ditanya soal keamanan senjata nuklir AS yang disimpan di bunker pangkalan udara Incirlik, Trump mengatakan, "Kami cukup yakin dan punya pangkalan udara yang hebat di sana."

Tapi tidak semua orang benar-benar yakin karena pangkalan udara itu berada di bawah kendali pemerintah Turki. Jika hubungan dengan Turki memburuk maka akses Amerika terhadap senjata nuklirnya tidak terjamin.

Turki menjadi tempat AS menyimpan senjata nuklir selama lebih dari enam dekade. Awalnya senjata itu untuk menghadapi Uni Sovyet dan menjadi bahan posisi tawar ketika Kirisi Rudal Kuba pada 1962 saat Presiden John F Kennedy diam-diam setuju memindahkan rudal dari Turki sebagai imbalan Moskow melakukan hal sama dari Kuba.

Selama beberapa dekade Turki sudah memulai program untuk mengarah kepada kepemilikan senjata nuklir. Dimulai dari 1979 dengan mengoperasikan reaktor penelitian sederhana dan sejak 1986 membangun reaktor bahan bakar di Istanbul.

Menurut sebuah laporan "Pasar Gelap Nuklir" dari jaringan Khan yang dibuat lembaga peneliti Studi Strategis Institut Internasional di London, sejumlah perusahaan di Turki mengawal impor diam-diam sejumlah material dari Eropa dan mengirimkannya ke konsumen.

Yang jelas, Turki kini sudah punya seorang partner: Presiden Vladimir Putin. April 2018 Putin melawat ke Turki dan memberi sinyal untuk memulai pembangunan reaktor nuklir senilai USD 20 juta di pesisir Mediterania Turki. [pan]

Baca juga:
Ini Terowongan Milik Kurdi yang Ditemukan Pemberontak Suriah Dukungan Turki
Gencatan Senjata, Turki Tambah Tank Perang ke Perbatasan
Usai Negosiasi dengan AS, Turki Tunda Operasi Militer di Suriah
Kotak Pandora Turki vs Kurdi, Militan ISIS Asal Indonesia Kabur dari Penjara Suriah
Surat Ancaman Trump kepada Erdogan: Jangan Keras Kepala, Jangan Bodoh!
Nyali Besar Erdogan Lawan Ancaman Trump & Teruskan Serangan Turki ke Kurdi

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini