Alasan ekonomi dan politik di balik unjuk rasa besar di Iran

Selasa, 2 Januari 2018 07:04 Reporter : Pandasurya Wijaya
unjuk rasa di iran. ©Anadolu

Merdeka.com - Seorang perempuan muda di Teheran, Iran, melepaskan jilbabnya lalu memanjat sebuah kotak telepon umum kemudian dengan sebatang kayu dia mengibarkan hijabnya. Adegan mengagetkan itu diabadikan dalam sebuah foto seorang fotografer amatir dengan kamera ponsel.

Foto itu mungkin terlihat si perempuan tengah mengibarkan bendera putih tanda menyerah, tapi di negara seperti Iran yang mewajibkan perempuan memakai hijab, foto itu memperlihatkan sebuah bentuk perlawanan.

Foto mengguncang itu beredar pekan lalu saat gelombang unjuk rasa terjadi di beberapa kota di Iran. Pada demo hari ketiga yang berlangsung Sabtu, sedikitnya dua orang dilaporkan tewas dan kemarin stasiun televisi pemerintah menyebut 12 orang sudah tewas. Apa sebenarnya yang sedang terjadi di Iran?

Rakyat Iran mulai berdemonstrasi sejak Kamis lalu di kota terbesar kedua, Masshad. Mereka memprotes melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok. Sebagian kalangan menyebut masalah ekonomi di Iran akibat dari kebijakan luar negeri negara itu yang terlibat dalam konflik di kawasan Timur Tengah. Sebagian pengamat memandang sanksi ekonomi dialami Iran pada akhirnya berdampak pada rakyat kecil.

Laman Aljazeera melaporkan, Senin (1/1), unjuk rasa merembet ke Ibu Kota Teheran pada Jumat dan ke beberapa kota lain. Menurut media lokal, ribuan warga turun ke jalan menyuarakan protes mereka terhadap pemerintah. Laporan kemudian menyebutkan sekitar 50 orang ditangkap di Masshad.

Demonstrasi kali ini disebut-sebut yang terbesar sejak 2009 silam usai putaran kedua pemilu presiden yang memenangkan Ahmadinejad. Pada waktu itu massa menuding pemilu dicurangi.

Di Teheran puluhan mahasiswa di Universitas Teheran meneriakkan slogan antipemerintah yang kemudian dihalau aparat dengan tembakan gas air mata dan gelombang pengunjuk rasa propemerintah.

Apa yang dituntut massa pengunjuk rasa?

Kantor berita Fars dan sejumlah aktivis mengatakan massa berdemo untuk memprotes mahalnya harga-harga kebutuhan serta meluasnya pengangguran dan ketimpangan ekonomi. Harga telur misalnya, melonjak hingga 40 persen dalam enam bulan.

Sebagian massa juga menyerukan slogan anti-kebijakan luar negeri pemerintah seperti 'Matilah Rouhani', 'Lupakan Palestina', 'Bukan Gaza atau Libanon, jiwa ragaku untuk Iran.' Mereka meminta pemerintah fokus pada masalah dalam negeri dan melupakan Suriah serta Palestina.

"Karena kebijakan ekonomi Presiden Rouhani gagal maka ketidakpuasan yang tadinya terpendam kini bangkit," ujar pengamat dari Brooking Doha Center, Ali Fathullah-Najed kepada Aljazeera.

"Di sisi lain, ketika menyangkut soal politik yang represif, keadaan tidak juga berubah. Jadi pada dasarnya, ada ketidakpuasan sosioekonomi dan politik."

Pemerintah menyatakan mereka prihatin dengan kondisi ekonomi namun akan menindak para pengunjuk rasa yang berbuat kerusakan.

"Mereka yang merusak fasilitas umum, melawan hukum harus bertanggung jawab dan membayar harganya," ujar Menteri Dalam Negeri Abdulrahman Rahmani Fazli dalam siaran televisi, Minggu.

Fazli juga menyerukan agar rakyat tidak ikut serta dalam 'acara kumpul-kumpul ilegal'.

Wakil Presiden Pertama Iran Eshaq Jahangiri Jumat lalu mengatakan sejumlah pendemo memprotes kenaikan harga tapi ada juga yang ingin menggulingkan pemerintah.

"Semua indikator ekonomi negara masih baik. Memang ada kenaikan harga untuk beberapa barang dan pemerintah sedang berusaha memperbaiki ini," kata dia. [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Iran
  2. Demo
  3. Jakarta
  4. Demo Iran
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.