Aktor-aktor kunci dalam unjuk rasa di Iran

Kamis, 4 Januari 2018 07:08 Reporter : Pandasurya Wijaya
Aktor-aktor kunci dalam unjuk rasa di Iran Demo antipemerintah di Iran. ©AFP PHOTO/STR

Merdeka.com - Rakyat Iran sepekan terakhir turun ke jalan menuntut perbaikan ekonomi karena harga-harga melonjak tinggi. Mereka juga meminta pemerintah lebih fokus pada urusan dalam negeri ketimbang terlibat dalam konflik di luar seperti di Suriah, Irak, dan Libanon.

Unjuk rasa kali ini menggambarkan masalah ekonomi dihadapi Iran yang selama empat dekade ini dipimpin oleh tokoh agama.

Meski ada satu sosok pemimpin spiritual tertinggi, namun Iran juga memiliki seorang presiden yang dipilih lewat pemilu. Meski bukan sepenuhnya negara demokrasi, Iran juga bukan tipe negara diktator.

Menghadapi serangkaian demo kali ini pemerintah melarang wartawan asing dan menutup sejumlah saluran media sosial di internet.

Dikutip dari laman NPR, Rabu (3/1), siapa saja para aktor kunci dalam unjuk rasa Iran belakangan ini?

1. Pemimpin spiritual tertinggi Ayatullah Ali Khamenei

Khamenei bisa dikatakan sebagai sosok penentu kebijakan atau keputusan pemerintah. Dia dikenal sebagai orang yang kerap melancarkan kritik keras terhadap negara Barat, khususnya Amerika Serikat dan Israel.

"Dalam beberapa hari belakangan, musuh Iran memakai segala cara, termasuk uang, senjata, politik, dan aparat keamanan, untuk menciptakan masalah keamanan," kata dia dalam sebuah pertemuan rutin, seperti dilansir laman Press TV, Selasa (2/1).

Komentar Khamenei itu sudah tidak aneh lagi mengingat dia memimpin para ulama konservatif di pemerintahan dan menjalin hubungan dekat dengan pasukan keamanan.

Khamenei, 78 tahun, pernah dua periode menjabat presiden para 1980-an dan menjadi pemimpin spiritual tertinggi setelah pada 1989 Ayatullah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran 1979, wafat.

2. Presiden Hassan Rouhani

Rouhani terpilih untuk periode kedua sebagai presiden Iran tahun lalu. Dia menggambarkan diri sebagai sosok pragmatis yang ingin membuat Iran lebih modern.

Unjuk rasa kali ini jadi ujian bagi Rouhani.

Di kalangan garis keras, Rouhani mendapat tekanan karena mereka ingin para perusuh ditindak tegas. Namun Rouhani juga dikritik di kalangan moderat dan liberal yang mengatakan kebijakannya selama ini belum bisa membuat perubahan berarti untuk mengubah tatanan pemerintah yang dikuasai tokoh agama.

demo antipemerintah di iran

Demo antipemerintah di Iran ©AFP PHOTO/STR



Rouhani memimpin Iran dalam menghadapi kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat dan sejumlah negara kuat dunia. Kesepakatan ini membuat sanksi bagi Iran dicabut namun rakyat belum merasakan perbaikan ekonomi seperi yang dijanjikan Rouhani.

"Menurut konstitusi dan hak warga negara, rakyat bebas mengungkapkan kritik dan protes, namun pemerintah tidak akan membiarkan para perusuh merusak fasilitas publik dan kekacauan di masyarakat," kata dia dalam pidato di stasiun televisi pemerintah Ahad lalu.

3. Para pengunjuk rasa

Berbeda dengan demo besar pada 2009 yang dipimpin kelas menengah kota, para pengunjuk rasa kali ini digerakkan oleh kaum muda di daerah terpencil, kota kecil yang selama ini sudah muak dengan kaum elit politik dan agama.

BACA JUGA:
{news_title}

Para pengamat menilai pengangguran di kalangan muda Iran mencapai 40 persen sedangkan Iran menggelontorkan dana miliaran dolar untuk terlibat dalam konflik di Suriah, Irak, dan Libanon.

Pemicu kemarahan rakyat pada unjuk rasa kali ini terjadi ketika Presiden Rouhani mengajukan usulan anggaran pemerintah. Buat pertama kalinya ada bagian anggaran yang selama ini rahasia terungkap ke publik, berisi alokasi dana untuk institusi keagamaan.

suasana pasar di teheran

BACA JUGA:
{news_title}

suasana pasar di teheran ©Getty Images



Rakyat Iran menemukan miliaran dolar dana anggaran itu akan disalurkan ke kelompok organisasi garis keras, militer, Pasukan Garda Revolusi, dan yayasan keagamaan yang bisa memperkaya tokoh elit agama. Di saat yang sama pemerintah ingin mengakhiri dana subsidi bagi jutaan rakyat, menaikkan harga BBM, dan membuat sekolah negeri menjadi swasta.

BACA JUGA:
{news_title}

Bocoran anggaran itu beredar luas di Telegram, aplikasi obrolan di ponsel yang dipakai hampir 40 juta rakyat Iran.

"Ini bikin saya marah," kata Mehdi, 33 tahun, asal Izeh, kota miskin di Provinsi Khuzestan. "Lembaga keagamaan ini dapat anggaran dana besar sementara kami masih bergelut dengan pengangguran."

Selama beberapa dekade, rakyat yang tinggal di kota-kota kecil dan desa dinilai sebagai tulang punggung dari rezim pemerintah. Mereka cenderung konservatif dan mengikuti gaya hidup islami yang diserukan negara.

BACA JUGA:
{news_title}

Dalam waktu kurang dari satu dekade, semua berubah. Kekeringan yang berlangsung selama 14 tahun membuat warga desa hijrah ke kota terdekat dan berjuang mencari pekerjaan. Zaman telah membuat warga melek informasi lewat televisi satelit dan internet di ponsel.

"Di Instagram saya melihat foto seorang perempuan di Teheran mengendarai mobil S.U.V dan mengatakan dia menghabiskan uang USD 3.000 setiap bulan untuk hewan peliharaannya," kata Mehdi. "Sementara di sini orang bisa hidup dengan uang sebesar itu selama setahun. Saya marah." [pan]

Baca juga:
Demo Iran bisa berdampak luas ke Timur Tengah
Aksi massa pro-pemerintah menyemut di jalanan Iran
KBRI imbau 370 WNI di Iran hindari kerumunan massa demonstrasi
Puluhan ribu massa gelar demo dukung pemerintah Iran
Bayang-bayang Revolusi 1979 dalam unjuk rasa di Iran

BACA JUGA:
{news_title}

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini