Aktivis Perempuan Saudi Tolak Dibebaskan Setelah Diminta Mengaku Tak Ada Penyiksaan

Sabtu, 16 Mei 2020 18:31 Reporter : Hari Ariyanti
Aktivis Perempuan Saudi Tolak Dibebaskan Setelah Diminta Mengaku Tak Ada Penyiksaan loujain al hathloul. ©2020 Merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Aktivis HAM Arab Saudi, Loujain Al-Hathloul menolak perjanjian pembebasannya karena diminta membantah pernah disiksa selama di dalam penjara. Demikian disampaikan keluarganya.

Aktivis perempuan tersebut ditangkap pada Mei 2018 saat terjadi kritik besar-besaran terhadap pemerintah negara kerajaan tersebut. Awalnya dia setuju menandatangani dokumen perjanjian tersebut yang berisi bantahan adanya penyiksaan.

Hal ini disampaikan saudaranya, Walid Al-Hathloul di Twitter pada Selasa lalu. Namun saat pejabat Saudi memintanya menyampaikan pernyataan tersebut di depan kamera, dia menolak tawaran tersebut, kata Walid.

"Ketika aparat keamanan memintanya menandatangani dokumen untuk video publikasi, dia langsung menyobek dokumen itu," kicau Walid, dilansir dari CNN, Sabtu (16/5).

"Dia mengatakan kepada mereka, dengan meminta saya menandatangani dokumen ini, kalian terlibat menutupi dan kalian mencoba membela Saud Al-Qahtani yang memerintahkan penyiksaan."

Loujain menuding Qahtani, mantan penasihat senior putra mahkota Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) terlibat dalam penyiksaan.

CNN mencoba mengonfirmasi kepada Qahtani melalui pemerintah Arab Saudi tapi tak berhasil dan otoritas Saudi tak merespons permintaan konfirmasi dari CNN terkait dugaan penyiksaan tersebut.

Qahtani dipecat dari jabatannya setelah disangkutpautkan dengan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada Oktober 2018.

1 dari 2 halaman

Disetrum dan Dicambuk

Dalam opini di CNN yang terbit Januari lalu, Walid mengungkapkan penyiksaan yang dialami adiknya di penjara.

"Kapan pun Loujain membicarakan penyiksaan yang dialaminya kepada orang tua saya, tangannya tiba-tiba gemetaran. Saya takut rasa sakit itu akan membuatnya trauma selamanya," tulisnya.

"Adik saya sendiri mengatakan dia dicambuk, dipukul, disetrum dan dilecehkan berkali-kali," tulisnya dalam opininya di CNN."

Dia mengatakan kadang-kadang ada para pria bertopeng yang membangunkannya tengah malam dan melontarkan ancaman-ancaman yang tak dapat dibayangkan.

"Dalam enam lembar surat dakwaan kasus Loujain yang dilihat CNN, satu bagian berjudul "kejahatan yang dilakukan" menyangkut aktivisme terhadap undang-undang perwalian pria kerajaan, bersama dengan kontak dengan wartawan asing dan diplomat.

Lamaran pekerjaan ke PBB yang pernah diisi oleh Hathloul digunakan sebagai bukti, menurut lembar dakwaan.

2 dari 2 halaman

Pelecehan Seksual dan Bantahan Riyadh

Awal bulan ini, Arab Saudi mengumumkan akan melonggarkan pembatasan perwalian pria.

Beberapa pembela hak-hak perempuan yang dipenjara, termasuk aktivis terkenal Aziza Al-Yousef, telah dibebaskan sementara dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam satu persidangan pada Maret, Yousef menangis ketika dia berbicara tentang pelecehan fisik dan seksual yang dia alami dalam tahanan, menurut dua sumber yang menjelaskan tentang kejadian tersebut.

"Mereka tidak menghargai siapa saya," kata aktivis senior itu, menurut satu sumber.

Riyadh sebelumnya membantah tuduhan penyiksaan dalam sebuah pernyataan kepada CNN setelah laporan Lembaga Pemantau HAM (HRW) awal yang menuduh penganiayaan fisik dan seksual terhadap Hathloul dan aktivis perempuan lainnya yang ditahan pada bulan November. [gil]

Baca juga:
Arab Saudi Rilis Foto Raja Salman Setelah Berita Penangkapan Anggota Kerajaan
Pangeran Muhammad bin Salman Tangkap Paman & Sepupu Atas Tuduhan Perencanaan Kudeta
Diduga Singgung Warga Mekkah, Rapper Perempuan Saudi Hendak Ditangkap
Tunangan Minta Dilakukan Penyelidikan Internasional Kasus Pembunuhan Jamal Khashoggi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini