Aktivis Myanmar Pantang Bungkam di Tengah Ancaman Pidana dan Kekerasan Junta Militer

Senin, 3 Mei 2021 18:51 Reporter : Hari Ariyanti
Aktivis Myanmar Pantang Bungkam di Tengah Ancaman Pidana dan Kekerasan Junta Militer Aksi Protes Kudeta Militer Myanmar. ©2021 REUTERS/Stringer

Merdeka.com - Sejak pihak berwenang Myanmar mulai menindak keras warga sipil yang menentang kudeta militer tiga bulan lalu, pangusaha dan kreator digital Aung Min mulai mengampanyekan dukungannya untuk gerakan pembangkangan sipil dan Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) di sejumlah platform media sosial.

Tapi bulan lalu, setelah dia didakwa pihak berwenang Myanmar di bawah UU yang melarang kritik publik terhadap kudeta, Aung Min menerima sebuah petunjuk bahwa sesuatu yang lebih buruk bisa menimpanya.

Pria 28 tahun itu mengumpulkan beberapa baju, mengemas ponsel dan laptopnya, dan menuju perbatasan Myanmar-Thailand. Dengan bantuan kawan dan pendukungnya, Aung Min yang meminta menggunakan nama samaran demi alasan keamanan, sekarang “berada di tempat aman” di Bangkok.

“Dua kawan saya didakwa dan diculik, dan kami tidak tahu di mana mereka sekarang,” jelasnya, dikutip dari South China Morning Post, Senin (3/5).

Dia mengatakan, dia memilih meninggalkan Myanmar untuk terus menggunakan “kekuatan media sosial untuk mendorong gerakan tersebut lebih jauh”.

Aung Min berada di antara sekitar 1.000 orang yang didakwa menggunakan Pasal 505 hukum pidana, termasuk sejumah influencer media sosial ternama, selebritas, figur publik, PNS, jurnalis, dan juga tenaga kesehatan yang melakukan mogok kerja untuk menentang kudeta.

Sebelum kekuasaan digulingkan, Aung Min memproduksi vlog wisata berkolaborasi dengan biro media berita Myanmar dan membentuk start up yang diinisiasi anak muda.

“Sebagai influencer dan pemuda Myanmar, saya percaya saya bertanggung jawab secara sosial untuk berdiri bersama rakyat Myanmar untuk memperjuangkan keadilan,” jelasnya kepada This Week in Asia pada Maret lalu.

“Saya menginspirasi para pemuda melalui platform saya dengan artikel dan video untuk mendorong mereka atas perjuangan mereka dan tidak menyerah sampai tujuan kia tercapai.”

Pekan lalu dia mengatakan: “Militer ingin menakuti rakyat. Tapi mereka tidak akan berhasil. Saya berencana untuk terus menyuarakan apa yang ingin saya sampaikan."

KTT darurat pada 24 April, di mana para pemimpin Asean bertemu dengan pemimpin kudeta Jenderal Senior Min Aung Hlaing untuk menyerukan diakhirinya kekerasan, tidak mengubah pendekatan kekerasan yang digunakan militer untuk melawan orang yang berbeda pendapat.

Dalam sepekan terakhir, aparat terus menindak pengunjuk rasa anti-kudeta. Bentrokan besar pecah di Myanmar utara antara pasukan pemerintah dan pemberontak etnis Kachin, dan serangan terhadap desa-desa etnis Karen di tenggara, memicu ketakutan orang-orang akan melarikan diri secara massal. melintasi perbatasan ke Thailand.

Pada Jumat, kantor kemanusiaan PBB menyampaikan secara keseluruhan, sekitar 56.000 orang terlantar akibat konflik di Myanmar tahun ini, sementara Program Pangan Dunia PBB (WFP) mengatakan krisis tersebut akan "sangat merusak kemampuan" orang-orang termiskin untuk menyediakan makanan yang cukup.

Bank Dunia memperkirakan ekonomi Myanmar bisa menyusut 10 persen tahun ini. Sementara itu, aparat keamanan terus bersikap kasar terhadap mereka yang turun ke jalan. Lebih dari 750 pengunjuk rasa tewas dalam tiga bulan terakhir.

Baca Selanjutnya: Iklim Ketakutan...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini