Aktivis HAM Kritik UU Separatisme Prancis karena Targetkan Komunitas Muslim

Jumat, 12 Februari 2021 10:00 Reporter : Hari Ariyanti
Aktivis HAM Kritik UU Separatisme Prancis karena Targetkan Komunitas Muslim Aksi demo di Prancis. ©2020 REUTERS/Gonzalo Fuentes

Merdeka.com - Pada 2 Oktober tahun lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan UU melawan apa yang dia sebut “separatisme Islam” bertujuan untuk mengatasi gerakan “radikal” di negara tersebut.

Dia menyebut Islam sebagai agama yang sedang dalam krisis secara global, yang memicu kecaman internasional.

Para kritikus mengatakan usulan UU itu akan semakin menstigmatisasi 5,7 juta komunitas Muslim di negara itu - tidak hanya individu-individu yang diduga menjadi targetnya - dan merupakan bagian dari tindakan keras yang lebih luas terhadap kebebasan sipil.

Pada 4 Februari, majelis rendah Prancis mendukung RUU tersebut. Pemungutan suara oleh anggota parlemen diperkirakan berlangsung pekan depan.

Majelis Nasional saat ini sedang memilah 1.860 usulan amandemen UU kontroversial, termasuk perluasan larangan jilbab pada mahasiswa dan larangan pemakaian simbol agama oleh orang tua saat tamasya sekolah.

Legislasi yang nama resminya adalah RUU Penghormatan terhadap Asas Republik, menjadi subjek perdebatan sengit masyarakat sipil dan di antara para politikus.

“Saya tidak mengerti bagaimana ini akan membantu menghentikan terorisme,” ujar pengacara kelompok HAM Collective Against Islamophobia in France (CCIF), Ouadie Elhamamouchi, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (12/2).

CCIF sendiri dipaksa untuk pindah setelah pemerintah Prancis menuding kelompok ini "radikal" dan memerintahkan penutupannya selama tindakan keras terhadap dugaan "separatisme". Kelompok HAM mengecam tindakan terhadap CCIF, dinilai memperparah iklim Islamofobia.

Menurut Elhamamouchi, jika RUU tersebut disahkan, pemerintah akan melegitimasi pendapat xenofobia oleh kelompok sayap kanan Prancis.

“Itu akan mengipasi api kelompok kanan,” ujarnya.

“Itu akan menjadi serangan bagi kebebasan publik. Itu tidak adil. UU itu menjadi wacana yang sangat mengkhawatirkan dan Muslim Prancis akan menderita.”

Baca Selanjutnya: Pertaruhan Macron...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini