Air dan misterinya

Rabu, 12 Maret 2014 09:04 Reporter : Ardini Maharani
Air dan misterinya Ilustrasi Malaysia Airlines. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Kaitan mistis dalam sebuah kecelakaan di laut bukan lagi milik bangsa timur, barat pun mengakui ada hal-hal tidak bisa dijawab dengan teknologi. Segitiga bermuda salah satunya. Teori, analisis, hipotesis, dan uji coba hingga kini belum satu pun benar-benar pasti menjelaskan mengapa kawasan itu menjadi sangat angker bagi transportasi laut maupun udara.

Kawasan ini berada di wilayah Samudra Atlantik Utara, luasnya empat juta kilometer persegi membentuk garis segitiga antara Bermuda masih menjadi wilayah teritori inggris (titik utara), Puerto Rico menjadi teritori Amerika Serikat (titik Selatan), dan Negara Bagian Florida (titik barat).

Hingga 1999 misteri kapal dan pesawat hilang di sana masih terjadi. Pelbagai teori muncul. Ada yang mengatakan di sana banyak memproduksi gas metan, ada yang bilang wilayah itu tempat berkumpulnya kapal makhluk asing luar angkasa (UFO), hingga lokasi permusyawaratan bangsa jin.

Ternyata tak hanya Segitiga Bermuda dikenal horor sejagat, bahkan badan Amal Satwa Liar Dunia (WWF) mengatakan Laut China Selatan justru paling angker menurut survey diadakan lembaga itu.

Laut China Selatan hanya seluas 3,5 kilometer persegi namun daerah ini tempat lalu lalang topan dan badai serta angin besar lainnya. Riset ini menempatkan perairan di wilayah antara Singapura dan Vietnam itu paling menakutkan disusul oleh Laut Hindia Timur, Laut Mediterania, Laut Hitam, dan Laut Utara, serta perairan antara pulau-pulau di Inggris.

Kecelakaan terakhir mirip dengan segitiga bermuda yakni 1999 dan kejadian itu menggenapkan jumlah kapal yang tenggelam yakni 239 sama persis dengan jumlah penumpang Malaysia Airlines MH370 hilang sejak sabtu. Hingga hari kelima ini belum juga ditemukan.

Riset WWF itu didasari bahwa tingkat bahaya perairan dunia dipengaruhi dua faktor, yakni semakin ramainya lalu lintas di perairan tersebut dan kegagalan otoritas serta industri untuk menyesuaikan dengan laju percepatan itu, seperti dilansir christian science monitor (11/3).

Dalam riset itu, WWF juga menyebutkan bahwa jumlah kecelakaan di Laut China Selatan paling banyak dari pada perairan manapun di dunia ini. Hal ini kemudian diperparah dengan kurangnya kerja sama global untuk mengatur lalu lintas laut, adanya perubahan iklim penyebab cuaca ekstrem. "Sebaiknya kerjasama semakin ditingkatkan," ujar Manajer Kelautan WWF Simon Walmsley. [din]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini