Afghanistan Tuding Taliban Diperintah Qatar untuk Bunuh Warga

Senin, 9 September 2019 12:01 Reporter : Merdeka
Afghanistan Tuding Taliban Diperintah Qatar untuk Bunuh Warga Presiden Afganistan Ashraf Ghani. AFP

Merdeka.com - Sadiq Sediqi, juru bicara Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, mengatakan rakyat Afghanistan tidak akan pernah menerima kesepakatan damai yang tidak lengkap dengan Taliban yang ujung-ujungnya akan mengakibatkan pertumpahan darah.

Pernyataan itu dia sampaikan dalam sebuah konferensi pers di Kabul kemarin.

Al Arabiya melaporkan, Senin (9/9), Sediqi mengungkapkan para pemimpin Taliban yang sedang berada di Qatar untuk agenda perundingan damai kini tengah 'berbulan madu' di Doha," dan para pemimpin Taliban itu menerima perintah dari Qatar untuk membunuhi warga Afghanistan.

Menurut Sediqi, perundingan yang dilakukan di Qatar tidak rampung, dan pemerintah Afghanistan bersama AS menyatakan keprihatinan yang sama tentang 'proses perdamaian yang cacat' ini.

Juru bicara Ghani mengungkapkan keputusan Presiden AS Donald Trump pada hari Sabtu untuk membatalkan pembicaraan damai dengan para pemimpin Taliban Afghanistan membuktikan bahwa kekhawatiran pemerintah diakui.

Trump membatalkan pembicaraan damai tersebut setelah kelompok gerilyawan itu mengatakan mereka sebagai otak di balik serangan di Kabul menewaskan seorang tentara Amerika dan 11 orang lainnya.

"Pembicaraan damai memberikan peluang bagi Taliban untuk menjalani kehidupan politik," Sediq Sediqi mengatakan kepada wartawan di Kabul.

"Kami (pemerintah Afghanistan) mengharapkan hasil yang mengarah ke gencatan senjata dan mengadakan pembicaraan langsung dengan Taliban, tetapi kami tidak melihat upaya nyata dari mereka (Taliban)," katanya.

Kantor kepresidenan Ghani mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya berkomitmen untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat dan sekutu untuk perdamaian yang bermartabat dan dalam jangka panjang. Dia menambahkan, Afghanistan akan mengadakan pemilihan presiden bulan ini.

Ghani sedang berambisi meraih jabatan kedua dalam pemilu yang telah dijadwalkan pada 28 September, namun Taliban menyerukan pemilu tersebut harus dibatalkan sebagai prasyarat untuk menandatangani perjanjian damai dengan AS.

Reporter Magang: Ellen RiVeren [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Afghanistan
  2. Taliban
  3. Qatar
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini