Ada Israel di Balik Perang Saudara Sudan Selatan

Senin, 9 September 2019 08:04 Reporter : Merdeka
Ada Israel di Balik Perang Saudara Sudan Selatan Israel. dailymail.co.uk

Merdeka.com - Sejak Sudan Selatan meraih kemerdekaannya 9 Juli 2011, Israel terus melancarkan penjualan senjata dan teknologi pengawasan ke negara dengan nama resmi Republik Sudan itu. Hanya berselang dua tahun sejak merdeka, perang saudara terjadi di Sudan Selatan.

Tak hanya persenjataan, Israel turut mengadakan pelatihan militer dan keamanan di Sudan Selatan. Dikutip dari Al Araby, peralatan dan pelatihan militer dari Israel telah menyokong terjadinya kejahatan kemanusiaan di negara anyar tersebut.

Pada Maret 2015, Dewan Keamanan PBB memberlakukan larangan penjualan senjata ke pihak yang bertikai. Sebuah komite ahli pun dibentuk, guna memantau pelaksanaan sanksi.

Lima bulan setelah pemberlakuan aturan tersebut, PBB mengeluarkan laporan pemantauannya. Hasilnya, pihak yang terlibat perang saudara masih bisa membeli senjata, sekalipun telah dilarang.

Berdasarkan laporan tersebut, senapan serbu milik Israel ditemukan dalam gudang militer Sudan Selatan. Ada pula senjata dari Ukraina dan China.

Al Araby melaporkan, pemerintah Sudan Selatan menggunakan senapan-senapan dari Israel untuk melakukan serangan terhadap suku Nuer, Desember 2013 silam. Insiden penyerangan Nuer, disebut menjadi cikal bakal pecahnya perang saudara di negara baru yang terletak di Afrika Utara itu.

Meski bukti laporan PBB sudah memberatkan, Israel masih mengelak. Israel mengaku menjual senjata kepada Republik Sudan, sebelum perang saudara melanda.

Bertolak belakang dengan pengakuan Israel, laporan PBB justru menunjukkan, Israel telah menjual peralatan penyadapan ke Sudan Selatan setelah perang saudara terjadi. Alat penyadapan itu digunakan untuk mengidentifikasi dan menangkap pihak yang dianggap sebagai lawan pemerintah.

Pengacara asal Israel, Eitay Mack mengatakan, Israel tidak hanya menjual dan memasangkan alat penyadapan ini untuk pemerintah Sudan Selatan, tetapi juga mengoperasikannya lewat teknisi yang ditempatkan di sana.

Menyusul setelah publikasi laporan tersebut, anggota panel ahli PBB bertemu dengan para pejabat senior dari kementerian luar negeri dan pertahanan Israel. Para pejabat Israel meyakinkan, pihaknya akan menangguhkan pengiriman persenjataan ke pihak mana pun di Sudan Selatan.

Di hadapan delegasi, Israel mengatakan keputusan tersebut akan dilaksanakan sepenuhnya dan berlaku tetap. Faktanya, hal itu tidak terjadi.

Kementerian pertahanan Israel nyatanya terus memberikan izin ekspor kepada perusahaan-perusahaan senjata Israel. Nilai transaksi yang dilancarkan melalui proyek Green Horizon itu disebut mencapai USD 150 juta.

Juli tahun lalu, Dewan Keamanan PBB akhirnya menetapkan embargo senjata untuk mengakhiri pasokan senjata. Senada dengan PBB, Uni Afrika juga mendukung pemberlakuan sanksi terhadap para pemimpin yang memperpanjang konflik dan memungkinkan pelanggaran gencatan senjata di Sudan Selatan. Pihak yang dimaksud adalah mereka yang menyediakan pasokan senjata untuk Sudan Selatan.

Industri Senjata Rahasia Israel

Mei 2017, sebanyak 54 aktivis Israel yang dipimpin oleh Eitay Mack mengajukan petisi ke pengadilan tinggi Israel. Aksi tersebut menuntut diadakannya investigasi tentang ekspor senjata Israel ke Sudan Selatan.

Mack dan rekan-rekannya mendesak pejabat kementerian luar negeri dan pertahanan diselidiki. Pasalnya, izin menjual senjata ke Sudan Selatan yang dikeluarkan oleh kementerian tersebut, membuka peluang terjadinya kejahatan perang dan kemanusiaan. Mack dan aktivis lainnya juga menuntut investigasi terhadap pemegang lisensi ekspor senjata.

Senada dengan tuntutan tersebut, anggota parlemen Israel, Tamar Zandberg, meminta menteri pertahanan untuk meninjau semua lisensi ekspor yang diberikan untuk memastikan tidak ada senjata yang dikirim.

"Kami ingin tahu apa yang telah dilakukan atas nama Israel, apakah orang terluka karena senjata yang kami jual dan jika perempuan diperkosa dengan senapan Uzi dan Galil mengarah ke kepala mereka," kata Tamar.

Sayangnya, para aktivis gagal. Pengadilan Israel mengabaikan permintaan mereka. Sikap pengadilan yang menggagalkan permintaan investigasi, semakin membungkam praktik penjualan senjata Israel ke Sudan Selatan.

Seorang penulis buku bernama Yotam Gidron mengatakan, ekspor senjata Israel ke negara-negara Afrika adalah komponen mendasar dari diplomasi mereka. Menurutnya, Israel memanfaatkan perusahaan swasta dan perantara untuk mempertahankan hubungan dengan para pemimpin di Afrika.

Dikutip dari Al Araby, ekspor senjata ke wilayah Afrika membawa keuntungan ekonomi dan diplomatik bagi Israel. Itu sebabnya, Israel begitu aktif melindungi praktik ekspor senjata mereka.

Mack menilai, keterlibatan Israel di Sudan Selatan termasuk yang terbesar dalam sejarah ekspor militernya. "Ini jauh melampaui keserakahan," tegasnya.

Hubungan Khusus Israel dan Sudan Selatan

Hubungan persahabatan antara Israel dan Sudan Selatan sudah terjalin sejak tahun 1960. Jauh sebelum Sudan Selatan merdeka.

Hubungan dua negara terjadi ketika Mossad Israel memberikan dukungan militer pertama kepada Sudan Selatan untuk meraih kemerdekaannya, Yotam Gidron menerangkan. Penulis sekaligus akademisi itu mengatakan, Mossad juga membuat propaganda atas nama kelompok pemberontak Sudan Selatan, antara tahun 1969 hingga 1971.

Dalam kurun waktu 24 jam sejak mendeklarasikan kemerdekaannya, Israel segera mengakui kedaulatan Sudan Selatan.

"Bagi Israel, hubungan dengan Sudan Selatan merupakan jalan untuk mengekang pengaruh Arab dan Iran di tanduk Afrika, terutama karena Sudan dulu adalah sekutu terpenting Iran, sebagai fasilitas untuk mengirim senjata ke Gaza," jelas Gidron.

Bagi Sudan Selatan sendiri, hubungan dekat dengan Israel membantu mengamankan dan mempertahankan dukungan Amerika untuk mereka.

Di sisi lain, selama senjata Israel terus mengalir ke Sudan Selatan, maka pertumpahan darah akan terus berlangsung. Pasokan senjata Israel secara tidak langsung memberikan harapan palsu akan kemenangan militer dari salah satu pihak yang bertikai.

Eitay Mack menegaskan, Israel harus serius menghentikan ekspor senjata dan pelatihan militer di Sudan Selatan. Menurutnya, ini adalah satu-satunya cara untuk menjamin agar Israel tidak terlibat dalam kejahatan perang dan kemanusiaan yang mewarnai perang saudara di Sudan Selatan.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Sudan Selatan
  2. Israel
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini