5 Hal Mengejutkan tentang Trump yang Ditulis Mantan Penasihat Keamanan John Bolton

Kamis, 18 Juni 2020 16:06 Reporter : Iqbal Fadil
5 Hal Mengejutkan tentang Trump yang Ditulis Mantan Penasihat Keamanan John Bolton John R Bolton. ©2019 AFP Photo

Merdeka.com - Mantan penasihat keamanan nasional John Bolton mengungkapkan pandangannya selama bertugas membantu Presiden Donald Trump dalam sebuah buku memoar yang ditulisnya. Sejumlah hal mengejutkan diungkapkan oleh Bolton yang dipecat oleh Trump pada 2019 lalu.

Beberapa media di AS yang memperoleh salinan, Selasa, mengutip isi buku itu menulis, Trump digambarkan sebagai 'orang yang kurang informasi dan kewalahan dengan pekerjaan yang dia pilih'.

Gedung Putih telah berusaha untuk memblokir publikasi buku berjudul 'The Room Where It Happened: A White House Memoir' dengan mengajukan gugatan terhadap Bolton minggu ini karena sebagian isinya dinilai sebagai rahasia negara.

Namun, langkah itu malah membantu meningkatkan profil memoar itu, membuat buku itu berada di puncak daftar buku terlaris nasional bahkan sebelum diterbitkan pada 23 Juni.

Kutipan yang diterbitkan Selasa oleh New York Times, Wall Street Journal dan Washington Post berisi banyak hal yang mengejutkan. Berikut adalah beberapa yang paling eksplosif seperti dikutip dari Yahoo News:

2 dari 6 halaman

Trump Minta Bantuan Xi Jinping Menangkan Pilpres 2020

Dalam sebuah kutipan yang diterbitkan di Wall Street Journal, Bolton, yang mengundurkan diri dari pemerintahan pada bulan September, menulis:

"Trump mengatakan dengan menyetujui bahwa ada permusuhan besar terhadap Cina di antara Demokrat. Trump kemudian, secara menakjubkan, mengalihkan pembicaraan ke pemilihan presiden AS mendatang, menyinggung kemampuan ekonomi China dan memohon [Presiden] Xi [Jinping] untuk memastikan dia menang. Dia menekankan pentingnya petani dan meningkatkan pembelian kedelai dan gandum China dalam hasil pemilu. Saya akan mencetak kata-kata persis Trump, tetapi proses tinjauan pra-publikasi pemerintah telah memutuskan sebaliknya."

3 dari 6 halaman

Trump Dukung Pembangunan Kamp Konsentrasi Etnis Uighur

pembangunan kamp konsentrasi etnis uighur rev1

Kutipan lain yang diterbitkan oleh Wall Street Journal membahas percakapan antara Trump dan Xi tentang pembangunan kamp konsentrasi untuk minoritas Muslim Uighur di China, yang kesetiaannya kepada Beijing dianggap mencurigakan oleh rezim.

"Pada makan malam pembukaan pertemuan G-20 Osaka pada Juni 2019, dengan hanya hadir penerjemah, Xi telah menjelaskan kepada Trump mengapa ia pada dasarnya membangun kamp konsentrasi di Xinjiang," tulis Bolton.

"Menurut penerjemah kami, Trump mengatakan bahwa Xi harus melanjutkan pembangunan kamp, yang menurut Trump adalah hal yang tepat untuk dilakukan. Staf utama Dewan Keamanan Nasional Asia, Matthew Pottinger, mengatakan kepada saya bahwa Trump mengatakan sesuatu yang sangat mirip selama perjalanan November 2017 ke China."

4 dari 6 halaman

Trump akan Eksekusi Jurnalis AS yang Tidak Ungkapkan Sumber Berita

Menurut kutipan yang diberikan kepada Washington Post, Bolton merinci pertemuan Juli 2019 dengan presiden di mana Trump mengeluhkan tentang liputan media yang ia terima.

Secara khusus, Trump mencerca wartawan yang menolak mengungkapkan sumber cerita mereka, kata Bolton.

"Orang-orang ini harus dieksekusi," kata Trump dalam pertemuan itu, menurut Bolton. "Mereka bajingan."

5 dari 6 halaman

Menlu dan Staf Trump Ejek Presiden di Belakangnya

Sementara Kutipan yang diterbitkan oleh New York Times menceritakan sebuah insiden yang terjadi pada pertemuan Trump tahun 2018 dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo memberi Bolton catatan tentang Trump yang berbunyi, "Dia sangat penuh dengan omong kosong."

Tak lama setelah dia mulai di posnya, Bolton diberitahu oleh kepala staf kepresidenan saat itu John Kelly, "Anda tidak bisa membayangkan betapa putus asa saya untuk keluar dari sini."

Kelly, menurut Bolton menceritakan kembali, lalu menambahkan, "Ini adalah tempat yang buruk untuk bekerja, karena Anda akan mengetahuinya."

6 dari 6 halaman

Demokrat Gagal Memakzulkan Trump karena Berfokus Kasus Ukraina

memakzulkan trump karena berfokus kasus ukraina

Dalam kutipan yang diterbitkan oleh Times, Bolton sangat kritis terhadap Demokrat di Kongres karena membatasi proses impeachment mereka pada pro quo quid Trump dengan para pemimpin Ukraina untuk membantu mengamankan pemilihannya kembali.

Sebaliknya, Bolton menulis, mereka seharusnya memperluas penyelidikan mereka ke sejumlah kesalahan presiden, termasuk apa yang digambarkan Bolton sebagai keterlibatan yang tidak patut atas nama pemerintah otoriter di Cina dan Turki.

"Seorang presiden tidak boleh menyalahgunakan kekuasaan sah pemerintah nasional dengan mendefinisikan kepentingan pribadinya sebagai identik dengan kepentingan nasional, atau dengan menciptakan dalih untuk menutupi pengejaran kepentingan pribadi di bawah kedok kepentingan nasional," tulis Bolton.

"Seandainya DPR tidak hanya berfokus pada aspek Ukraina dari kebingungan Trump tentang kepentingan pribadinya, mungkin ada peluang yang lebih besar untuk membujuk orang lain bahwa 'kejahatan tinggi dan pelanggaran ringan' telah dilakukan."

Namun, saat proses impeachment itu berlangsung, Bolton sendiri menolak untuk bersaksi dalam penyelidikan dan malah mengancam akan menuntut Partai Demokrat jika memanggilnya sebagai saksi di Kongres. [bal]

Baca juga:
Eks Penasihat Keamanan Ungkap Trump Minta Bantuan Xi Jinping Agar Menang Pilpres 2020
Presiden Trump Tandatangani Perintah Reformasi Kepolisian
Kematian George Floyd, Presiden Trump Akhirnya Teken Inpres Reformasi Kepolisian
Sri Mulyani Sebut Donald Trump Geram Soal Pemberlakuan PPh Netflix, Bukan PPN
Donald Trump Akan Keluarkan Perintah Eksekutif Reformasi Kepolisian

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini