24.000 Panggilan Darurat Diterima Polisi Hong Kong Saat Penyerangan Pria Bertopeng

Kamis, 25 Juli 2019 12:22 Reporter : Merdeka
24.000 Panggilan Darurat Diterima Polisi Hong Kong Saat Penyerangan Pria Bertopeng Aksi demo di Hong Kong. ©AFP/ANTHONY WALLACE

Merdeka.com - Seorang perwira senior di Kepolisian Hong Kong mengungkap, layanan darurat di kota itu sempat macet dengan adanya 24 ribu panggilan dalam tiga jam pada Minggu (21/7) lalu. Hari itu bertepatan dengan penyerangan sekelompok pria bertopeng. Pernyataan pejabat tinggi polisi itu disampaikan setelah polisi mendapat kecaman karena dianggap lambat menghentikan kekerasan di stasiun kereta bawah tanah.

Jika dihitung, pusat layanan darurat menerima dua panggilan setiap detik, dengan hanya terdapat 10 operator untuk menjawab panggilan pada Minggu malam. Sementara pada hari biasanya, layanan itu hanya menangani rata-rata 2.500 panggilan setiap hari. Demikian dilansir dari laman The Star, Kamis (25/7).

Dalam sebuah video yang diunggah di halaman Facebook pada Selasa,Inspektur Lau Siu-pong mengatakan banyak panggilan tidak dijawab karena banyak orang mencoba melaporkan serangan di dalam stasiun MTR Yuen Long dari sekitar pukul 22.45.

"Dan itu menjelaskan alasan kemacetan layanan. Jadi bukan kita yang tidak mau menerima panggilan. Sebenarnya, kami tidak bisa," kata salah seorang petugas Kepolisian Hong Kong.

Polisi juga sempat dikritik karena cukup lama tiba di stasiun yang menjadi lokasi serangan, sekitar 35 menit. Padahal pada Minggu, terdapat 100 orang bersenjata berpakaian putih menyerang demonstran RUU ekstradisi dan penumpang lainnya. Para penyerang telah melarikan diri pada saat petugas tiba pukul 23.20 malam, meninggalkan 45 orang terluka.

Sekitar 40 menit kemudian, konfrontasi antara lebih dari 400 orang dari kedua belah pihak pecah di desa terdekat.

Sumber polisi lainnya mengatakan, karena semua petugas di Distrik kepolisian Yuen Long sibuk berurusan dengan perkelahian dan penyerangan di daerah yang berbeda, satu regu lebih dari 500 petugas yang membubarkan demonstran anti-pemerintah di Sheung Wan pada waktu itu dipulangkan ke Yuen Long untuk menangani kekacauan. Pada saat pasukan tiba, sebagian besar pria berbaju putih telah pergi.

Salah satu sumber mengatakan, sementara pasukan memiliki 31.000 petugas, manajemen terutama menggunakan 3.000 polisi anti huru hara untuk menangani protes yang masif, termasuk pawai yang diperkirakan menarik hingga 2 juta orang.

"Kami kelelahan karena kami bekerja hampir 24 jam dan harus memakai perlengkapan kerusuhan penuh selama lebih dari 12 jam," kata salah seorang polisi yang tak mau disebutkan namanya.

Petugas mengatakan dia merasa tidak berdaya karena tidak jelas kapan protes akan berakhir.

Orang dalam polisi juga mengecam pengguna internet dan media lokal karena menerbitkan video dan rumor yang tidak terverifikasi yang memicu tuduhan kolusi polisi dengan triad dalam serangan Minggu.

Salah satu video, yang diterbitkan pada Senin malam, menunjukkan komandan divisi Pat Heung Li Hon-man mengobrol dengan sekelompok pria yang sebagian besar berpakaian putih.

Orang dalam polisi mengatakan klip video itu tidak menyebutkan bahwa percakapan di Yuen Long terjadi bukan pada hari Minggu, tetapi pada 16 Juli.

"Li bahkan tidak mengatakan sesuatu yang salah dalam video. Pengunggah ingin menghubungkan kedua acara tersebut dan membuat orang-orang percaya bahwa kami memiliki koneksi dengan triad. Mereka ingin mencoreng (nama baik) kami," katanya.

Reporter: Siti Khotimah
Sumber: Liputan6 [pan]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Protes Hong Kong
  3. Hong Kong
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini