11 Juta Anak Perempuan Diperkirakan Tak Akan Kembali Bersekolah Usai Pandemi Corona

Rabu, 16 September 2020 17:05 Reporter : Iqbal Fadil
11 Juta Anak Perempuan Diperkirakan Tak Akan Kembali Bersekolah Usai Pandemi Corona Aktivitas Belajar Murid SD di Wuhan. ©2020 REUTERS/Aly Song

Merdeka.com - Sebanyak 11 juta anak perempuan mungkin tidak akan pernah kembali ke sekolah setelah pandemi virus corona. Sedangkan 24 juta anak diperkirakan akan putus sekolah.

Hal itu disampaikan oleh para pemimpin lembaga PBB dalam jumpa pers bersama yang digelar Selasa. Disebutkan, anak perempuan dan remaja yang berasal dari komunitas yang kurang beruntung paling terdampak.

"Semakin lama sekolah ditutup, semakin merusak dampaknya, terutama bagi anak-anak dari latar belakang yang lebih kurang beruntung, yang selain belajar, bergantung pada sekolah untuk kesehatan atau keselamatan, dan terkadang untuk nutrisi," kata Audrey Azoulay, direktur jenderal Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) seperti dikutip Business Insider.

Azoulay bersama Tedros Ghebreyesus, direktur jenderal WHO, dan Henrietta Fore, direktur eksekutif UNICEF, menekankan bahwa negara-negara harus memprioritaskan pembukaan kembali sekolah, dan harus melakukannya dengan aman. Ketiga organisasi tersebut merilis panduan baru tentang bagaimana melakukannya pada 14 September lalu.

"Mengingat dampak yang menghancurkan pada anak-anak, remaja, dan masyarakat kita secara keseluruhan, keputusan untuk menutup sekolah harus menjadi pilihan terakhir, sementara, dan hanya pada tingkat lokal di daerah dengan penularan yang intens," kata Tedros.

Azoulay menambahkan, 11 juta anak perempuan di seluruh dunia berisiko tidak pernah kembali ke sekolah, sebuah proyeksi yang diinformasikan oleh bagaimana krisis Ebola memengaruhi pendidikan kaum muda, terutama di negara-negara Afrika yang paling terpukul oleh wabah tersebut.

Saat sekolah tutup, anak-anak, dan sebagian besar perempuan, tidak dapat belajar dengan baik atau sama sekali di rumah karena tanggung jawab mereka bergeser ke mengurus rumah dan keluarga, dan menghasilkan uang.

Jika virus corona mengarah pada fenomena serupa, kesenjangan gender dalam pendidikan akan melebar dan anak perempuan akan berisiko lebih tinggi mengalami pelecehan seksual, kehamilan remaja, dan pernikahan dini, sebuah laporan dari UNESCO memperingatkan.

Baca Selanjutnya: 24 Juta Anak Terancam Putus...

Halaman

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Covid 19
  3. Virus Corona
  4. UNICEF
  5. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini