CEK FAKTA: Tidak Benar Vaksin Sinovac dari China Mengandung Babi

Senin, 28 September 2020 11:17 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
CEK FAKTA: Tidak Benar Vaksin Sinovac dari China Mengandung Babi Ilustrasi Vaksin Covid-19. ©2020 REUTERS

Merdeka.com - Informasi vaksin dari China mengandung babi dan racun berbahaya beredar di media sosial. Informasi ini juga menyebutkan bahwa informasi yang disampaikan Luhut Binsar Panjaitan terkait vaksin Sinovac dari China masih diragukan.

tangkapan layar informasi vaksin dari china mengandung babi

"Sehubungan dengan rencana akan dilakukan vaksinasi Corona kepada seluruh Rakyat Indonesia yang disampaikan oleh Luhut Binsar Panjaitan, maka KAMI berharap kepada
Majlis Ulama Indonesia, para Pimpinan Pondok Pesantren,
Para Ulama, Kyai, Asatidzah, Dai, Tokoh Masyarakat dan Seluruh Rakyat Indonesia untuk menolak rencana Vaksinasi Corona tersebut di atas dengan alasan sebagai berikut :

1. Bisa jadi Vaksin mengandung unsur babi.

2. Bisa jadi Vaksin mengandung racun yang membahayakan.

3. Vaksinasi merupakan bagian dari sindikat perdagangan gelap internasional yang belum jelas juntrungnya.

4. Informasi Vaksinasi disampaikan oleh Luhut Binsar Panjaitan masih sangat diragukan kevalidannya. Sebab, dia bukan seorang muslim dan telah dianggap kurang jujur, kurang amanah dan boneka Negeri Komunis Cina.

Demikianlah informasi ini kami sampaikan, semoga bermanfaat bagi seluruh Rakyat dan Bangsa Indonesia. Aamiin.

Wassalamu'alaikum. Wr. Wb.

Jakarta, 24 September 2020.

Dari
Relawan Pribumi dan Santri.

MHA, Anggota LAPINGGO & BMI."

Penelusuran

Penjelasan terkait vaksin Sinovac dari China dijelaskan dalam artikel Bisnis.com berjudul "Bio Farma Pastikan Vaksin Sinovac Tak Ada Kandungan Gelatin Babi" pada 27 Agustus 2020.

PT Bio Farma (Persero) telah mendapatkan surat pernyataan dari Sinovac Biotech Ltd. bahwa vaksin yang diproduksi tidak mengandung gelatin babi.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir saat melakukan video conference dengan Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Kamis (27/8/2020). Dia mengatakan Sinovac telah memberikan jaminan bahan baku yang digunakan bebas dari kandungan gelatin babi (porcine).

“Kami sudah mendapatkan statement letter [surat pernyataan] dari Sinovac, kalau mereka menyatakan bahwa bahan baku yang diproduksi mereka itu tidak mengandung Porcine,” ungkapnya.

Kendati demikian, masih diperlukan uji kehalalan dari Majelis Ulama Indonesia guna mendapatkan sertifikasi halal resmi.

“Nanti akan segera kita laporkan kepada LPPOM MUI untuk bersama-sama ditindaklanjuti melalui berbagai macam uji yang dibutuhkan nanti untuk menjamin bahwa memang vaksin ini bisa dijamin kehalalannya,” imbuhnya.

Kemudian dalam laman resmi LPPOM MUI, halalmui.org, berjudul "Klarifikasi Status Kehalalan Vaksin Covid 19" pada 15 Agustus 2020, dijelaskan bahwa hingga saat ini vaksin Sinovac masih memasuki uji coba klinis dan telah memasuki tahap ketiga.

Sampai saat ini Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) baru melakukan komunikasi dan kesepakatan awal dengan pihak Bio Farma berkaitan dengan prosedur dan dokumen-dokumen yang diperlukan dalam sertifikasi halal vaksin COVID-19. Hal ini disampaikan oleh Direktur LPPOM MUI, Dr. Ir. Lukmanul Hakim, M.Si. dalam wawancara eksklusif TVONE pada 12 Agustus 2020.

“Kami sampai saat ini memang baru diskusi dan membuat kesepakatan dengan Bio Farma untuk menyampaikan informasi secara terbuka sebagaimana standar audit kami, sedangkan untuk hasil akhirnya nanti disampaikan ke Komisi Fatwa MUI,” ujarnya.

Lebih lanjut, Lukmanul menekankan bahwa LPPOM MUI hanya mengkaji kehalalannya, apakah vaksin diproduksi sesuai dengan syariat Islam atau tidak. Ia mengakui bahwa pihaknya masih menunggu dokumen-dokumen terkait vaksin COVID-19 dari Bio Farma secara lengkap. Setelah itu, proses audit ke tempat produksi sebagai verifikasi keabsahan dokumen baru bisa dilakukan.

“Sampai saat ini, kami juga belum menemukan vaksin COVID 19 yang sudah jelas kehalalannya. Artinya, peluangnya masih 50:50. Kami tidak berani mengatakan di awal bahwa vaksin ini halal atau haram, sebelum kami melakukan pengkajian. Hasil pengkajian tersebut yang kemudian menjadi dasar penetapan fatwa oleh Komisi Fatwa MUI,” jelas Lukmanul.

Kesimpulan

Informasi vaksin Sinovac mengandung babi adalah tidak benar. Sampai saat ini, vaksin Sinovac masih dalam tahap uji klinis dan memasuki tahap ketiga. Vaksin tersebut juga masih diperlukan uji kehalalan.

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan, pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini