CEK FAKTA: Tidak Benar Turki dan Negara Arab Siap Ratakan Prancis

Jumat, 20 November 2020 15:48 Reporter : Syifa Hanifah
CEK FAKTA: Tidak Benar Turki dan Negara Arab Siap Ratakan Prancis CEK FAKTA: Tidak Benar Turki dan Negara Arab Siap Ratakan Prancis. ©Facebook

Merdeka.com - Sebuah video diklaim menunjukkan Turki dan negara-negara Arab siap ratakan Prancis setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menghina Islam.

Video berdurasi delapan menit dan 34 detik itu diunggah akun Facebook Akademi Militer pada tanggal 29 Oktober 2020. Unggahan tersebut bernarasi:

"BERITA TERKINI ~ TURK1 DAN ARAB SIAP R4TAKN PRANCIS

BERITA TERKINI ~ TURK1 DAN ARAB SIAP R4TAKN PRANCIS PENGH1N4 15L4M ~ BERITA MILITER TERBARU HARI INI"

Penelusuran

Hasil penelusuran terkait Turki dan negara-negara Arab siap ratakan Prancis tidak ada pernyataan seperti yang disebutkan dalam video.

Narasi video yang dibacakan di rentang waktu 1:02-5:29 diambil dari artikel CNBC Indonesia diterbitkan tanggal 27 Oktober 2020 dengan judul: "Dunia Terbelah Macron Hina Islam: Arab-Erdogan vs Eropa."

Berikut isi artikelnya:

Jakarta, CNBC Indonesia - Opini memimpin dunia 'terbelah' akibat Presiden Prancis Emmanuel Macron. Pernyataan Macron yang kontroversial soal Islam membuat sejumlah pemimpin dunia mengambil posisi berbeda.

Negara-negara seperti Iran, Turki, dan Pakistan mengecam pemimpin 42 tahun itu. Dalam pernyataan di media sosial, Iran melalui Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menilai Prancis telah menyulut "ekstremisme".

"Muslim adalah korban utama dari 'pemujaan kebencian', diberdayakan oleh rezim kolonial dan diekspor oleh klien mereka sendiri," tulis Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di Twitter dikutip Selasa (27/10/2020).

karena mendukung Islamofobia. Ia juga mengatakan umat Islam kini diperlakukan seperti Yahudi saat Perang Dunia II.

Sedangkan Presiden Pakistan menilai Macron telah menyerang Islam dan melukai Muslim. Komentar Macron makin menimbulkan perpecahan.

"Sangat disayangkan bahwa dia telah memilih untuk mendorong Islamofobia dengan menyerang Islam daripada teroris yang melakukan kekerasan, baik itu Muslim, Supremasi Kulit Putih atau ideolog Nazi,' katanya.

Kecaman juga datang dari umat Kristen Arab. Salah satunya penyiar senior Al Jazeera yang berbasis di Qatar, Jalal Chahda.

Sementara itu di Eropa, sejumlah petinggi justru membela Macron. Di antaranya Kanselir Jerman Angela Merkel, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte dan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, .

Merkel menilai yang dikatakan Erdogan khususnya, membandingkan Muslim dengan Yahudi, terlalu berlebihan. Ia menyebutnya fitnah yang sama sekali tak bisa diterima.

Hal senada juga dikatakan Conte. Menurutnya komentar Erdogan bisa memperburuk hubungan Turki dengan Eropa.

Rutte sendiri menyatakan Belanda mendukung kebebasan mengemukakan pendapat. Ia menegaskan negeri itu, melawan ekstremisme dan radikalisme.

Sebelumnya Macron telah memicu kontroversi sejak awal September. Saat itu, ia mengajukan UU untuk 'separatisme Islam' di Prancis.

Macron sempat berujar bahwa 'Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia'. Karenanya pemerintahnya akan mengajukan rancangan undang-undang pada bulan Desember untuk memperkuat undang-undang tahun 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Prancis.

Setelah seorang guru di Prancis dipenggal karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas yang ia pimpin, seraya berbicara soal kebebasan, Macron kembali berkomentar. Ia berujar sang guru 'dibunuh karena kaum Islamis menginginkan masa depan kita'.

Boikot

Sementara itu, seruan boikot produk Prancis juga terjadi. Salah satunya di Yordania, Qatar, Kuwait dan Turki.

"Berdasarkan posisi Presiden Prancis Emmanuel Macron dan dukungannya terhadap kartun ofensif terhadap nabi tercinta kami, kami memutuskan untuk menghapus semua produk Prancis dari pasar dan cabang sampai pemberitahuan lebih lanjut," kata asosiasi perdagangan Kuwait dikutip dari Al Jazeera, Senin (26/10/2020).

"Kami menegaskan bahwa sebagai perusahaan nasional, kami bekerja sesuai dengan visi yang sejalan dengan agama kami yang benar, adat istiadat dan tradisi kami yang mapan, dan dengan cara yang melayani negara dan keyakinan kami serta memenuhi aspirasi pelanggan kami," kata Al Merra perusahaan Qatar dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu Erdogan juga meminta warga Turki memboikot produk Prancis. "Jangan membeli produk Prancis" tegasnya.

Pemerintah Prancis dalam sebuah pernyataan meminta boikot dihentikan. Hal tersebut dikatakan tak berdasar.

"Seruan boikot ini tidak berdasar dan harus segera dihentikan, serta semua serangan terhadap negara kami, yang didorong oleh minoritas radikal," kata pemerintah dalam sebuah keterangan dikutip dari AFP.

Federasi pengusaha Perancis MEDEF mendesak perusahaan untuk menolak boikot produk yang dilakukan negara Arab. Mereka menyebut hal ini 'pemerasan'.

"Ada saatnya untuk menempatkan prinsip di atas bisnis," kata Geoffroy Roux de Bezieux kepada penyiar RMC.

Selanjutnya dari menit 5:30 hingga ke akhir video, narasi itu membacakan keseluruhan berita Sindonews tanggal 21 Oktober 2020 ini, yang berjudul "Erdogan: Inisiatif Macron untuk Reformasi Institusi Islam Upaya Serang Muslim."

Berikut isi artikelnya:

ANKARA - Inisiatif Presiden Prancis, Emmanuel Macron untuk mereformasi institusi Islam di negara itu tidak lain adalah upaya untuk menyerang Muslim. Hal itu diungkapkan oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Menyusul pembunuhan seorang guru di Paris oleh seorang remaja Chechnya minggu lalu, sebuah rancangan undang-undang yang berusaha untuk melarang pembenaran kejahatan dengan motif etnis atau agama atas dasar konstitusional diajukan ke Senat Prancis.

Menurut Macron, yang telah menciptakan istilah "separatisme Islam" dan mengkritik manifestasi ekstremisme atas dasar agama, ideologi seharusnya tidak mengklaim bahwa hukumnya sendiri harus lebih tinggi daripada hukum republik.

"Tujuan utama dari inisiatif seperti yang dipimpin oleh Macron adalah untuk menyelesaikan masalah lama dengan Islam dan Muslim," kata Erdogan, seperti dilansir Sputnik pada Rabu (21/10/2020).

"Mereka yang peduli dengan kebangkitan Islam menciptakan krisis yang mereka gunakan sebagai alasan untuk menyerang Islam dan menutupi kegagalan mereka sendiri," sambungnya.

RUU itu diresmikan kembali pada 2 Oktober, beberapa minggu sebelum tragedi di salah satu pinggiran kota Paris terjadi dan memicu gelombang baru sentimen anti-Islam di seluruh Prancis.

Macron mengatakan, RUU itu akan menyiratkan aturan wajib netralitas bagi karyawan perusahaan layanan publik yang harus diikuti saat melakukan pekerjaan mereka untuk menghindari manifestasi separatisme.

RUU itu diresmikan kembali pada 2 Oktober, beberapa minggu sebelum tragedi di salah satu pinggiran kota Paris terjadi dan memicu gelombang baru sentimen anti-Islam di seluruh Prancis.

Macron mengatakan, RUU itu akan menyiratkan aturan wajib netralitas bagi karyawan perusahaan layanan publik yang harus diikuti saat melakukan pekerjaan mereka untuk menghindari manifestasi separatisme.

Tidak satupun dari kedua berita di atas menyebutkan bahwa “Turki dan Arab siap ratakan Prancis”.

Selanjutnya dilansir dari AFP Periksa Fakta, pencarian dilanjutkan menggunakan verifikasi digital InVid-WeVerify menemukan klip-klip yang menunjukkan Erdogan.

Video itu menunjukkan potongan-potongan rekaman yang diambil dari video rekaman langsung ini di kanal kantor berita Turki Anadolu Agency YouTube pada tanggal 26 Oktober 2020 berjudul “Presiden Erdogan: Saya memanggil rakyat saya: Jangan pernah membeli produk-produk Prancis”. Di mana Erdogan berbicara tentang pembelaan Macron atas kartun Nabi Muhammad.cek fakta tidak benar turki dan negara arab siap ratakan prancis

Unggahan menyesatkan (kiri) dan video asli Anadolu (kanan)

Kemudian terdapat potongan rekaman kongres Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Erdogan yang dihelat di Malatya, Turki, yang diambil dari siaran langsung pada tanggal 25 Oktober 2020 di kanal YouTube Erdogan. Judul berbahasa Turki video itu terjemahannya adalah "Kongres tingkat provinsi Partai AK kami di Malatya".

cek fakta tidak benar turki dan negara arab siap ratakan prancis

Unggahan menyesatkan (kiri) dan video asli di kanal YouTube Erdogan (kanan)

Kesimpulan

Video Turki dan negara Arab siap ratakan Prancis adalah tidak benar. Faktanya, narasi dalam video tersebut diambil dari dua artikel berbeda dan tidak satupun dari kedua berita di atas menyebutkan bahwa Turki dan Arab siap ratakan Prancis.

Jangan percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan, pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini