CEK FAKTA: Tidak Benar Ada Penyogokan yang Dilakukan Rumah Sakit di Manado

Selasa, 2 Juni 2020 16:00 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
CEK FAKTA: Tidak Benar Ada Penyogokan yang Dilakukan Rumah Sakit di Manado ilustrasi rumah sakit. Shutterstock/sfam_photo

Merdeka.com - Sebuah video tentang pengakuan seorang anak dari pasien yang disogok petugas rumah sakit di Manado beredar di media sosial Facebook dan Youtube. Salah satunya akun Facebook Moch Prasetya pada 2 Juni 2020.

video pengakuan anak disogok petugas rs di manado

Facebook

"Pengakuan seorang anak dari pasien yg meninggal karena jantung yg hendak disogok tim medis Rumah Sakit Manado dengan uang pecahan 50.000 senilai 9jt rupiah agar siAnak mau mengakui Ayahnya meninggal karena disebabkan oleh virus corona, padahal sang Ayah sejatinya meninggal karena penyakit jantung.
Namun terang saja siAnak beserta keluarga pasien menolak keras akan hal itu dan mengambil paksa jenazah Ayahnya dari rumah sakit untuk selanjutnya dikuburkan secara wajar.
Ada apa dengan tim medis/pahlawan garda terdepan negri kita Indonesia ini??"

Penelusuran

Menurut penelusuran merdeka.com, video tersebut belum diketahui kebenarannya. Dalam artikel manadopost.jawapos.com berjudul "Ini Penjelasan Dirut RS Pancaran Kasih Terkait Tudingan ‘Uang Sogok’" pada 2 Juni 2020, dijelaskan kronologi yang sebenarnya.

Direktur Utama (Dirut) RS Pancaran Kasih dr Frangky Kambey menegaskan, isu menawarkan uang sogok kepada keluarga pasien, tidak benar. “Saya atas nama direksi dan seluruh karyawan RS GMIM Pancaran Kasih, turut berbelasungkawa atas kepergian almarum yang meninggal di rumah sakit kami siang tadi (kemarin, red),” katanya.

Lanjutnya, setiap pasien yang masuk RS, baik ODP, PDP, dan positif Covid-19, langsung dinotifikasi ke Gugus Tugas Kota Manado dan Pemprov Sulut. Apabila pasien meninggal, juga diberi tahu ke Gugus Tugas. Ada protokol yang dilakukan jika pasien meninggal. Yakni protokol jenazah, karena situasi wabah.

“Di RS kami, yang meninggal ada pasien yang beragama Kristen Protestan, Katolik, Muslim, Budha, dan Hindu. Masing-masing ada penanganan sesuai agamanya. Kebetulan pasien ini beragama Muslim. Jadi kami menggunakan fatwa MUI nomor 18 tahun 2020 tentang pedoman pengurusan jenazah muslim yang terinfeksi Covid-19,” jelasnya.

Di pasal 7 katanya, disebutkan jenazah bisa dimandikan, dikafani, dan disalatkan oleh pemuka agama yang beragama muslim. “Di kami ada kebijakan, karena ini bukan yang pertama, biasanya kami memberikan insentif kepada yang memandikan, mengkafani, dan mensalatkan jenazah. Mengingat mereka menanggung resiko yang besar, dalam hal ini tertular, maka harus menggunakan APD level 3. Biasanya kami berikan insentif sebesar Rp 500 ribu per orang,” ungkapnya.

Lanjut Kambey, kebetulan yang terjadi adalah yang memandikan, mengkafankan dan mensalatkan hanya satu orang, biasanya tiga. Sehingga petugas RS melaporkan, ada dua insentif yang tertinggal. Sehingga dia menginstruksikan, berikan saja ke siapa saja yang disitu. Kebetulan yang ada di situ keluarga.

“Menurut petugas, keluarga tidak menerima. Jadi sebenarnya ada kesalahpahaman. Kalaupun kami salah, kami minta maaf. Tapi dari lubuk hati yang terdalam, kami hanya menjalankan kebijakan. Misalnya pun kalau diterima, anggaplah itu sebagai ungkapan belasungkawa kami, bukan seperti yang diisukan bahwa kami menyogok untuk mengatakan pasien ini positif Covid-19,” urainya, sembari mengatakan, pasien tersebut terdiagnosa sebagai PDP. Karena itu, protokol yang digunakan adalah penanganan jenazah Covid-19.

Kambey juga mengklarifikasi, pihaknya tidak pernah membolehkan jenazah pasien dibawa pulang. “Kalau kami membolehkan, kami bisa diproses karena melanggar protokol. Semua pasien yang meninggal, baik statusnya ODP, PDP, dan positif, harus dinotifikasi ke Gugus Tugas Manado. Jadi kami sudah melakukan tugas dan kewajiban kami, yakni menangani dan melaksanakan apa yang menjadi protokol. Prinsip kami adalah menjalankan tugas, dan menunaikan misi kemanusiaan tenaga kesehatan. Kalaupun ada kesalahan, mungkin miskomunikasi antara dua belah pihak, kami mohon maaf,” tukasnya.

Sementara itu, dalam status di akun Facebook yang diposting pukul 22.29 Wita tadi malam, anak pasien tersebut menjelaskan apa yang menjadi keberatan pihak keluarga.

“Sedikit mau diperjelaskan supaya tidak timbul fitnah atau cerita-cerita lain, kalau almarhum sakit ginjal bukan Covid-19 dan dari pihak RS Pancaran Kasih mengizinkan jika almarhum dimakamkan di penguburan Ketang Baru (Kombos). Yang jadi permasalahan, keluarga tidak terima ketika jenazah mau dipetikan (taruh dalam peti) karena kami orang Muslim seharusnya taruh si keranda. Karena pasien negatif bukan positif,” tulis akun FB dengan nama Khairullah Lasarika itu.

Kesimpulan

Video yang beredar bahwa sebuah rumah sakit di Manado menyogok keluarga pasien, belum terbukti kebenarannya. Kejadian sebenarnya, ada kesalahpahaman antara pihak keluarga dengan pihak rumah sakit.

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan, pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini