CEK FAKTA: Semua Klaim Dalam Video Ini Terkait Covid-19 Hoaks!

Jumat, 18 Juni 2021 09:49 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
CEK FAKTA: Semua Klaim Dalam Video Ini Terkait Covid-19 Hoaks! Sembako gratis untuk peserta vaksinasi Covid-19. ©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Merdeka.com - Sebuah video tentang cara penanganan Covid-19 setelah divaksin beredar di media sosial. Dalam video berdurasi 7 menit 27 detik terlihat seseorang mengaku dokter dengan jas putih. Dia mengaku sudah bekerja di bidang kesehatan selama lebih dari 40 tahun. Dia juga mengaku berhasil merawat lebih dari 1.000 pasien yang menderita Covid-19.

hoaks tentang covid 19
istimewa

Ada beberapa klaim yang dia katakan, seperti Hydroxychloroquine dan ivermectin bisa mengobati Covid-19. Kemudian vaksin Covid-19 sebenarnya bukan vaksin, dan wanita yang sudah divaksin tidak akan bisa punya anak.

Penelusuran

Merdeka.com coba menelusuri masing-masing klaim yang disampaikan dalam video itu.

Klaim 1 yang menyebut Hydroxychloroquine dan Ivermectin bisa mengobati Covid-19

Dalam artikel merdeka.com berjudul "Penelitian: Obat Hydroxychloroquine Tidak Efektif untuk Covid-19 Gejala Ringan" pada 17 Juli 2020, dijelaskan bahwa Hydroxychloroquine tidak bisa menyebuhkan Covid-19.

Obat antimalaria hydroxychloroquine, yang dipuji oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai pengobatan COVID-19, tidak efektif untuk pasien dengan gejala ringan, menurut sebuah penelitian.

Menurut studi yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Minnesota, sekitar 24 persen dari pasien yang diberi hydroxychloroquine dalam penelitian itu memiliki gejala yang bertahan selama 14 hari, sementara sekitar 30 persen dari kelompok yang diberi pil plasebo (obat kosong) memiliki gejala terus-menerus selama periode yang sama.

Perbedaannya tidak signifikan secara statistik, kata para peneliti.

"Hydroxychloroquine tidak secara substansial mengurangi keparahan gejala atau prevalensi dari waktu ke waktu pada orang yang tidak dirawat di rumah sakit dengan COVID-19," para peneliti menulis dalam sebuah artikel, yang akan diterbitkan dalam jurnal Annals of Internal Medicine kemarin, seperti dikutip Antara, Jumat (17/7).

Klaim 2 terkait vaksin Covid-19 sebenarnya bukan vaksin, tetapi eksperimen agen biologi

Dalam artikel AFP Fact Check dijelaskan bahwa vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna mengandung mRNA. Fungsinya untuk menambah kekebalan tubuh.

Para ahli juga berulang kali mengatakan bahwa vaksin mRNA tidak mengubah susunan genetik penerima vaksin.

"mRNA adalah kode untuk protein. Itu tidak mengubah DNA sel Anda." kata Matthew Miller, profesor di Departemen Biokimia dan Ilmu Biomedis di Universitas McMaster di Hamilton, Ontario.

Klaim 3: Wanita yang sudah divaksin tidak akan bisa punya anak

Dalam artikel antaranews.com berjudul "Hoaks! Vaksin COVID-19 sebabkan wanita mandul" pada 4 Maret 2021, dijelaskan bahwa tidak ada vaksin Covid-19 yang bereaksi mandul pada wanita maupun pria.

Snopes, lembaga pencari fakta asal Amerika Serikat, menjelaskan narasi vaksin COVID-19 menyebabkan kemandulan SALAH.

Snopes memaparkan narasi itu bersumber dari sebuah blog bernama Health and Money News. Blog tersebut sudah tidak bisa diakses.

Narasumber dalam tulisan di blog itu bernama Michael Yeadon, yang diklaim sebagai Kepala Penelitian Pfizer.

Faktanya, Michael Yeadon bukanlah Kepala Penelitian Pfizer.

Yeadon memang pernah bekerja untuk Pfizer sebagai wakil presiden dan kepala ilmuwan untuk alergi dan pernapasan, tetapi keluar dari perusahaan farmasi itu pada 2011, menurut informasi biografi Yaedon di blog "Lockdown Skeptics".

Dalam blog Health and Money News disebutkan, Yeadon dan dokter Jerman Wolfgang Wodarg mengirim surat ke European Medicines Agency (EMA), meminta penghentian uji klinis vaksin COVID-19 Pfizer di Uni Eropa.

Dalam surat tersebut, Wodarg dan Yeadon menyatakan vaksin Pfizer memblokir protein yang merupakan kunci dalam pembentukan plasenta pada mamalia. Mereka mengklaim ada kemungkinan wanita yang menerima vaksin tersebut menjadi tidak subur.

Namun, baik Michael Yeadon dan Wolfgang Wodarg tidak pernah menunjukkan bukti penelitian sebagaimana diklaim dalam surat itu.

Perusahaan obat Pfizer menepis isu tersebut dan mengatakan tidak ada masalah keamanan yang signifikan yang diamati selama studi vaksin.

Uji klinis Pfizer yang telah melibatkan puluhan ribu sukarelawan, menunjukkan vaksin itu 95 persen efektif dan tidak menghasilkan efek samping yang serius.

Kesimpulan

Informasi Hydroxychloroquine dan ivermectin bisa mengobati Covid-19. Kemudian vaksin Covid-19 sebenarnya bukan vaksin, dan wanita yang sudah divaksin tidak akan bisa punya anak adalah hoaks. Tidak ada penelitian resmi terkait isu tersebut.

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan, pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini