CEK FAKTA: Mitos-Mitos Menyesatkan Seputar Vaksin, Ini Faktanya

Kamis, 15 Oktober 2020 19:33 Reporter : Syifa Hanifah
CEK FAKTA: Mitos-Mitos Menyesatkan Seputar Vaksin, Ini Faktanya Petugas medis Rusia mulai disuntik vaksin Covid-19. ©REUTERS/Tatyana Makeyeva

Merdeka.com - Mitos-mitos terkait vaksin sering kali beredar di masyarakat. Banyak yang masih menganggap bahwa vaksin sama saja dengan memasukkan penyakit ke dalam tubuh.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, dr. Reisa Broto Asmoro menjelaskan, banyak yang beranggapan bahwa vaksin sama saja dengan memasukkan penyakit ke dalam tubuh. Padahal, vaksin hanya menggunakan satu bagian dari kuman yang direkayasa secara bioteknologi, partikel protein kuman atau kuman yang sangat dilemahkan, sehingga, tubuh dapat meresponsnya dengan membentuk antibodi yang kuat.

"Yang pasti jika masih ada masyarakat yang khawatir bahwa vaksin ini seolah memasukkan penyakit ke dalam tubuh, itu artinya kurang informasi ya." kata dr. Raisa dalam keterangan tertulis, Kamis (15/10).

Ada anggapan lain yang mengatakan, vaksin berbahaya karena dapat menyebabkan autisme pada seseorang. Hal tersebut tidak benar. Faktanya, penelitian yang menyatakan hal tersebut adalah penelitian tidak valid yang dilakukan Andrew Wakefield pada tahun 1998. Dimana dia terbukti melakukan kecurangan penelitian yang mengakibatkan penelitian tersebut dicabut dan pada akhirnya General Medical Council tidak memperbolehkannya untuk berpraktik lagi di Inggris dari tahun 2010.

Vaksin juga dianggap mengandung merkuri yang berbahaya bagi tubuh. Namun faktanya, jumlah penggunaan Thimerosal, suatu jenis ethylmercury yang berguna sebagai pengawet vaksin, sangat sedikit dan tidak berisiko buruk bagi kesehatan. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir. Sebelum diproduksi massal dan diedarkan vaksin sudah melalui evaluasi dan pengawasan yang ketat dari pemerintah.

Ada juga mitos lain soal vaksin. Apabila menyuntikkan vaksin secara simultan, akan melemahkan daya tahan. Sementara itu manusia terpapar banyak sekali bakteri, kuman, dan penyakit lainnya setiap hari. Faktanya, sejak bayi baru dilahirkan, dia sudah bisa menerima vaksinasi atau imunisasi sebagai langkah untuk mencegah penularan penyakit.

Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi mampu mencegah 2-3 juta kematian anak setiap tahunnya. Maka, pemberian imunisasi penting untuk kelangsungan hidup manusia.Dengan vaksinasi, hal-hal buruk seperti komplikasi penyakit kecacatan, bahkan kematian dapat dihindari. Vaksin juga terbukti dapat menghemat waktu dan biaya dibandingkan kalau terkena penyakit tersebut.

Peningkatan kasus kanker juga disebut sebagai salah satu dampak dari vaksinasi, faktanya vaksin tidak menyebabkan kanker dan justru dapat membantu mencegah kanker. Salah satunya adalah kanker mulut rahim yang disebabkan oleh virus HPV yang kini telah tersedia vaksinnya.

Salah satu mitos yang juga ramai dibicarakan yaitu terdapatnya microchip di dalam vaksin untuk melacak seseorang. Hal ini sudah pasti mitos belaka. Karena vaksin hanyalah berisi kuman tidak aktif, yang dilemahkan atau partikelnya dan bahan media pembawa dan pengaman kumannya saja dan bukti lainnya yaitu tidak ada microchip yang dapat lewat melalui jarum suntik.

"Maka vaksinasi ini sangatlah penting. Vaksin dapat membuat kekebalan tubuh kita siap untuk melawan dan mengalahkan kuman penyebab penyakit. Kalau ada kuman yakni virus atau bakteri yang masuk ke tubuh kita, maka sudah kebal atau tidak tertular. Walaupun sampai terinfeksi, tidak akan separah atau sefatal kalau tidak dilakukan vaksinasi," ujar dr. Reisa.

Sementara itu, dr.Windhi Kresnawati, spesialis anak dari Yayasan Orangtua Peduli, mitos yang sering jadi perbincangan lainnya adalah penyakit yang sudah ada vaksinnya tidak butuh vaksinasi lagi.

Riset menunjukkan penurunan angka vaksinasi memicu kenaikan penyakit spesifik yang dilawan vaksin tersebut.

"Di AS juga terjadi, tahun 2018 angka imunisasi turun dan muncul lagi. Polio sempat muncul kembali di Papua, padahal kita pernah dapat bendera bebas polio dari WHO. Tahun 1970an, Jepang mengalami kenaikan angka Pertusis (batuk rejan) saat angka cakupan vaksinasi turun. Campak rubella masih mengancam karena banyak hoaks tadi. Jadi hati-hati, kalau angka mulai turun dan kita hadapi wabah ini sangat menderita." jelas dr. Windhi.

Selanjutnya ada juga isu mengenai kandungan vaksin yang menggunakan sel janin aborsi. Itu adalah mitos. dr. Windhi menjelaskan pada proses pembuatan vaksin, virus dikembangbiakkan menggunakan media sel hidup, dan proses tersebut terjadi hanya di awal pembuatan vaksin (misalnya vaksin MMR pada tahun 1960-an).

"Jadi, kalau ada yang bilang ada sel janin yang digunakan, itu terjadi pada tahun 1960-an, di mana sel hidup digunakan secara legal untuk membuat vaksin dan itu sekali saja proses yang terjadi. Lantas apakah dalam vaksin ada sel janin? Jawabannya, hanya ada hasil produknya, yakni berupa virusnya saja," ujar dr. Windhi.

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan, pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini