CEK FAKTA: Hoaks Pejabat Denmark Meninggal saat Umumkan Larangan Vaksin AstraZeneca

Kamis, 22 April 2021 12:03 Reporter : Syifa Hanifah
CEK FAKTA: Hoaks Pejabat Denmark Meninggal saat Umumkan Larangan Vaksin AstraZeneca Ilustrasi Vaksin AstraZeneca/Oxford. ©Reuters

Merdeka.com - Kabar pejabat pemerintah Denmark meninggal dunia karena diracun saat mengumumkan larangan penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca beredar di Facebook. Klaim tersebut terdapat video menunjukkan momen saat seorang perempuan terjatuh di hadapan peserta sebuah forum.

Dalam video tersebut terdapat tulisan: "Denmark melarang vaksin AstraZeneca dan selama pengumuman berlangsung salah satu pejabat pemerintah pingsan dan meninggal."

Unggahan tersebut juga bernarasi:

"Ini risikonya kalau berani melawan ndoro globe. Kemarin presiden Tanzania yg sempat 1 minggu menghilang dan dinyatakan meninggal akibat serangan jantung. Sekarang salah satu pejabat pemerintah Denmark meregang nyawa saat mengumumkan pelarangan vax astrazeneca. Mungkin di racun."

hoaks pejabat denmark meninggal saat umumkan larangan vaksin astrazeneca
©Facebook

Penelusuran

Hasil penelusuran, menunjukkan perempuan yang terjatuh dalam video tersebut adalah Kepala Badan Obat-obatan Denmark, Tanja Erichsen. Namun, ketika itu, Erichsen hanya pingsan, tidak meninggal karena diracun.

Dilansir dari Tempo, video tumbangnya Erichsen ini pernah dipublikasikan oleh sejumlah media. Media Inggris, The Sun, memuat video itu dalam artikelnya yang berjudul "Dramatic moment Danish vaccine chief FAINTS during a Covid conference announcing the permanent ban of AstraZeneca jab" pada 15 April 2021.

Erichsen pingsan dalam sebuah konferensi pers yang mengumumkan larangan permanen Denmark terhadap vaksin Covid-19 AstraZeneca. Namun, menurut The Sun, pemerintah Denmark mengumumkan bahwa Erichsen sudah sadar dan telah dilarikan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Klaim-klaim palsu terkait pingsannya Tanja Erichsen itu tidak hanya beredar di Indonesia, tapi juga di Eropa. Di sana, menyebar klaim yang menyebut bahwa dia pingsan setelah menerima vaksin Astrazeneca.

Dilansir dari Associated Press, Direktur Jenderal Otoritas Kesehatan Denmark Soren Brostrom mengatakan bahwa Erichsen baik-baik saja. Brostrom menjelaskan bahwa Erichsen pingsan karena terlalu banyak bekerja dan berdiri terlalu lama. Juru bicara Badan Obat-obatan Denmark Kim Voigt Ostrom juga mengatakan bahwa Erichsen belum menerima vaksin Covid-19.

Lewat akun pribadinya di Twitter, pada 19 April 2021, Tanja Erichsen pun menyatakan bahwa pemulihannya berjalan dengan baik.

"Terima kasih banyak atas perhatian dan salam Anda. Ini adalah pukulan keras yang harus saya terima, tapi untungnya saya dalam pemulihan yang baik sekarang. Ini sangat berarti bagi saya, dengan dukungan besar yang saya terima, baik di sini di Twitter maupun di platform lain. Terima kasih banyak," kata Erichsen dalam bahasa Denmark.

Sementara itu, dilansir dari Liputan6.com, Denmark memutuskan untuk menghentikan penggunaan vaksin AstraZeneca untuk program imunisasi COVID-19 mereka. Keputusan itu diambil setelah adanya laporan kemungkinan risiko pembekuan darah yang langka tetapi serius.

Kebijakan itu diambil meskipun World Health Organization (WHO) dan European Medicines Agency (EMA) masih merekomendasikan penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca, mengingat manfaatnya masih lebih besar ketimbang risiko efek sampingnya.

"Kampanye vaksinasi COVID-29 di Denmark akan diteruskan tanpa vaksin AstraZeneca," kata Soren Brostrom, kepala otoritas kesehatan Denmark dalam konferensi persnya Rabu waktu setempat, seperti dikutip dari The Guardian pada Kamis (15/4/2021).

Mengutip CNA, Denmark kemungkinan akan menggunakan vaksin COVID-19 Johnson & Johnson, yang peluncurannya di Eropa juga masih ditunda terkait masalah pembekuan darah serupa. Negara itu pun masih menahan pemakaiannya.

Menurut Brostrom, penghentian vaksin AstraZeneca itu diambil karena hasil penyelidikan terhadap pembekuan darah terkait penyuntikan "menunjukkan efek samping yang nyata dan serius."

"Karena itu kami memilih untuk melanjutkan program vaksinasi untuk semua kelompok sasaran tanpa vaksin ini," katanya.

Kesimpulan

Informasi pejabat Denmark meninggal dunia saat mengumumkan mengumumkan pelarangan vaksin AstraZeneca adalah tidak benar. Faktanya, pejabat tersebut yang diketahui sebagai Kepala Badan Obat-obatan Denmark, Tanja Erichsen hanya pingsan dan tidak meninggal karena diracun.

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan. Pastikan itu berasal dari sumber terpercaya sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Referensi

https://cekfakta.tempo.co/fakta/1337/keliru-pejabat-denmark-meninggal-karena-diracun-saat-umumkan-larangan-vaksin-astrazeneca
https://www.liputan6.com/health/read/4532585/denmark-setop-total-penggunaan-vaksin-astrazeneca# [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini