Bastian Steel Ungkapkan Momen Sulit saat Syuting yang Membuat Lawan Mainnya Menangis
Bastian berbagi cerita mengenai pengalaman syuting SELEPAS TAHLIL.
Pada episode KapanLagi Show kali ini, Bastian Steel, salah satu pemeran dalam film SELEPAS TAHLIL, hadir sebagai bintang tamu. Acara ini juga dihadiri oleh komunitas pecinta film Movieverse, dan Farid Mardhi berperan sebagai host.
Bastian berbagi cerita mengenai pengalaman syuting SELEPAS TAHLIL, termasuk insiden unik yang terjadi di lokasi. Salah satu momen yang menarik adalah ketika Agni, yang berperan sebagai Saras, terjebak di dalam kamar mandi hingga pintunya harus didobrak. Bagaimana suasana seru di balik layar film ini?
Selalu Menerima Tawaran Film
Host: "Bastian, pernahkah kamu menolak tawaran film karena sutradara atau lawan mainnya? Bisa diceritakan?"
Bastian: "Wah, pertanyaannya langsung berat, ya! Sebenarnya, saya tidak pernah menolak tawaran film. Karena latar belakang saya adalah penyanyi, setiap kali ada kesempatan untuk bermain film, itu selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan. Jadi, saya tidak pernah menolak sebuah film hanya karena alasan lawan main, sutradara, atau bahkan cerita dan production house-nya. Saya merasa senang bisa berkontribusi dalam pembuatan film, jadi ketika ada tawaran, saya selalu bersemangat. Meskipun terkadang ada beberapa proyek yang kurang bagus, saya tetap mengambilnya dan berusaha sebaik mungkin."
Host: "Ya, yang penting adalah melakukan yang terbaik, terutama untuk film Indonesia."
Bastian: "Betul sekali, pengalaman-pengalaman seperti itu sangat berharga."
Host: "Bagus sekali, Bastian juga tadi menyebutkan bahwa jika ada film, sebaiknya ambil dan lakukan yang terbaik. Apakah kamu pernah menyesal menerima atau menolak tawaran film?"
Bastian: "Kalau ditanya tentang penyesalan, saya rasa tidak pernah. Namun, ada kalanya saya merasa, 'aduh, ini satu film yang mungkin kurang tepat.' Tapi, saya tidak merasa menyesal karena setiap pengalaman adalah pelajaran baru. Misalnya, ada satu kali saya syuting dengan tim yang masih baru, jadi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Namun, saya tetap berusaha memberikan yang terbaik, apalagi karena cerita film tersebut mengambil latar di Toba, kampung halaman saya."
Host: "Jadi, bukan karena cerita filmnya, tetapi lebih kepada tim yang baru, ya?"
Bastian: "Iya, sama-sama baru. Saya juga baru di situasi tersebut, jadi tidak bisa banyak membantu, hanya bisa fokus pada akting. Saya tidak pernah menyesal dengan film yang saya ambil, meskipun ada kalanya saya melewatkan film yang bagus karena bentrok jadwal, itu pernah terjadi."
Host: "Jadi, kebanyakan masalahnya hanya terkait bentrok jadwal, ya?"
Bastian: "Iya, dari dulu memang ada beberapa bentrok jadwal yang membuat saya tidak bisa ikut."
Bastian Pernah Membuat Lawan Mainnya Menangis
Host: "Oke-oke, aman ya aman aman haha. Selanjutnya, apakah kamu pernah mengalami salah paham dengan kru atau pemain lain saat syuting film?"
B: "Hmm, untungnya sih tidak pernah, karena itu yang harus dihindari agar syuting tetap berjalan lancar. Namun, sepertinya ketika aku masih kecil, pernah mengalami hal itu. Waktu kecil aku memang agak nakal dan sering jahil, jadi ada beberapa lawan main yang sampai menangis."
Host: "Serius, kamu sampai bikin lawan main nangis?"
Bastian: "Iya, karena aku jahil waktu kecil. Itulah keseruan yang terjadi, tapi kalau sekarang sih tidak ada lagi."
Host: "Sudah dewasa ya."
Bastian: "Sedikit sih, tapi masih terlihat baby face, kan?"
Host: "Iya, bagaimana menurut kalian? Masih terlihat baby face, kan? Oke-oke, mungkin ada di antara kalian yang sudah menonton trailer SELEPAS TAHLIL? Sudah? Wah, keren! Nanti kita akan ada beberapa pertanyaan dan permainan seru di sana, jadi siap-siap ya!"
Keistimewaan dari Film "Selepas Tahlil"
Host: "Apa yang membuat film ini berbeda dari film horor lainnya, dan apa yang mendorongmu untuk menerima tawaran bermain di film ini?"
Bastian: "Hal pertama yang membuat film horor ini istimewa dibandingkan yang lain adalah harapan. Sebagai pemain, saya ingin menyajikan lebih dari sekadar horor yang penuh dengan jump scare atau ketakutan yang disebabkan oleh penampakan hantu. Saya ingin ada elemen yang menunjukkan kesedihan, seperti kehilangan orang tua, yang sebenarnya jauh lebih menakutkan daripada hantu itu sendiri. Harapan saya sebagai aktor adalah untuk menampilkan kesedihan yang lebih mendalam, yaitu kehilangan seseorang yang kita cintai."
Host: "Memang, kehilangan adalah peristiwa yang sangat mengerikan dalam hidup."
Bastian: "Itulah harapan saya sebagai pemain film SELEPAS TAHLIL. Saya memilih proyek ini karena pada awalnya... Oh, by the way, saya adalah anggota terakhir yang bergabung dengan tim SELEPAS TAHLIL."
Host: "Apakah kamu adalah cast terakhir?"
Bastian: "Iya, saya adalah cast terakhir. Mereka sudah mulai reading, dan saya baru bergabung tiba-tiba."
Host: "Bagaimana bisa?"
Bastian: "Waktu itu, tim dari bio studio Visinema menghubungi saya dan mengirimkan sinopsis pada malam hari ke Mama, lalu Mama meneruskannya kepada saya. Setelah membacanya, saya langsung berpikir, 'Ya sudah, ayo besok pagi kita berangkat ke kantor untuk screen test!' Ceritanya sangat menarik. Saya juga sudah diberi tahu tentang cast yang sudah fix. Jadi saya berpikir, 'Wah, saya ingin berkolaborasi dengan Kang Epy lagi, ayo kita gas!' Kemudian saya berangkat untuk screen test dan ternyata cocok dengan perannya, asyik!"
Host: "Wow, berarti ini benar-benar datang tiba-tiba..."
Bastian: "Terima kasih kepada casting director yang masih mengingat saya dan tiba-tiba memikirkan saya."
Host: "Wow, pasti seru. Semoga film ini bisa menjadi sesuatu yang..."
Bastian: "Tentu saja berbeda."
Host: "Pastinya berbeda."
Bastian: "Iya, saya berharap film ini bisa memberikan pengalaman yang unik, terutama karena saat ini banyak sekali film horor yang beredar. Jadi harapan kami adalah menghadirkan film yang berbeda dari yang lain."
Dukungan dari Beberapa Pemain Diperlukan untuk Mengembangkan Karakter
Bastian mengungkapkan, "Dia curang nih dia nggak (hadir)."
Host menjawab, "Oh iya, punten banget."
Bastian melanjutkan, "Teman-teman doain ya Agni lagi sakit semoga cepat sembuh dan bisa kembali beraktivitas."
Host menanggapi, "Yes, bener banget. Tadi saya baru mendapat kabar dari tim bahwa Agni sakit sejak subuh, jadi tidak bisa datang. Nanti kita bisa nonton langsung, ya, bagaimana first impression kita bersama Agni?"
Bastian menjelaskan, "Jujur, ini adalah kali pertama saya syuting bersama semua pemain. Saya sangat senang karena saat saya bercerita, saya adalah yang terakhir bergabung, sementara mereka sudah mulai proses reading. Ketika saya masuk, saya merasa sedikit stres dan deg-degan karena saya sendiri baru mulai dan belum mengembangkan karakter saya, sementara mereka sudah setengah jalan. Namun, saya sangat beruntung karena rekan-rekan main saya sangat baik dan tidak sombong. Mereka membantu saya untuk mencoba ulang dari awal dan membantu menciptakan peran saya sebagai Yudhis. First impression saya terhadap Agni, Kang Epy, dan yang lainnya sangat menyenangkan. Mereka benar-benar mendukung dan membantu saya untuk mengembangkan semua karakter menjadi satu kesatuan."
Host kemudian bertanya, "Oke jadi untuk proses perkenalan dan reading-nya juga secara keseluruhan sangat baik?"
Bastian menjawab, "Enak banget semuanya."
Tantangan Terbesar Saat Mengerjakan Film
Host: "Dari semua peran yang sudah kamu jalani, adakah yang paling kamu sukai atau yang kurang kamu sukai dari karakter Yudhis ini?"
Bastian: "Peran yang paling saya nikmati adalah Yudhis karena ini adalah pengalaman pertama saya berakting dengan mengekspresikan ketakutan dan menangis. Ini adalah hal baru bagi saya, sehingga saya sangat senang bisa berperan sebagai Yudhis. Saya merasa bisa mengeksplorasi jenis akting yang sebelumnya belum pernah saya coba. Menangis dan merasa ketakutan adalah pengalaman yang sangat berbeda, jadi saya merasa sangat beruntung bisa memerankan karakter ini."
Host: "Oke."
Bastian: "Sungguh sulit, serius, guys. Saat kita menonton, tampaknya mudah melihat seseorang yang ketakutan dan merasa terancam, tetapi menjalani peran itu ternyata sangat menantang."
Host: "Itulah mengapa menurut saya, menangis adalah salah satu bentuk akting yang paling sulit."
Bastian: "Benar, karena itu harus benar-benar dirasakan."
Host: "Bagaimana kamu belajar untuk bisa menangis?"
Bastian: "Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman yang selalu mendukung dan membantu saya berdiskusi tentang bagaimana cara menyelesaikan tantangan ini. Saya banyak berbincang dengan Kang Epy dan pelatih aktingnya. Secara keseluruhan, saya akhirnya memahami cara melakukannya."
Host: "Kapan terakhir kali kamu menangis dalam kehidupan nyata?"
Bastian: "Dalam kehidupan nyata, saya jarang melakukannya."
Host: "Itulah mengapa itu akan sangat sulit?"
Bastian: "Itu juga masuk akal."
Host: "Wah, itu sangat menantang, ya..."
Bastian: "Karena karakter Yudhis sangat mencintai ayahnya. Jadi, saya benar-benar harus merasakan kesedihan itu."
Host: "Benar sekali, mungkin bagi kita yang menonton terlihat mudah, tetapi sebenarnya sangat sulit."
Tantangan dalam Mempelajari Bahasa Jawa
Host: "Bastian juga memerankan karakter Yudhis yang mengharuskan penggunaan bahasa Jawa, benar?"
Bastian: "Iya, benar."
Host: "Namun, kamu bukan orang Jawa asli, kan?"
Bastian: "Sangat Jawa, haha."
Host: "Bagaimana kamu mendalami peran tersebut dan belajar bahasa Jawa?"
Bastian: "Itu merupakan tantangan tersendiri, karena jujur saja, cukup sulit. Bahasa Jawa itu banyak variasinya, ada Jawa Tengah, Jawa Timur, dan lainnya, yang masing-masing memiliki perbedaan dalam bahasa dan logat. Hal ini sempat menjadi perbincangan di sesi reading, karena kami belum tahu mau menggunakan dialek Jawa yang mana."
Host: "Jadi, kamu sudah mendapatkan medoknya?"
Bastian: "Nanti bisa ditonton..."
Host: "Bisa, mungkin kami ingin mendengar satu kalimat dengan medok Jawa dari Bastian. Mau dengar, teman-teman Movieverse?"
Bastian: "Opo seh ha ha." Aku merasa malu sendiri. "Wes gitu aja, sedikit ya guys, nanti tonton saja di filmnya."
Host: "Boleh, boleh."
Bastian: "Bastian menjadi Jawa, oke."
Host: "Pasti ini adalah sesuatu yang sangat menantang, ya teman-teman..."
Bastian: "Dan menjadi jamet, haha..."
Disambut tawa riuh dari penonton di studio.
Host: "Apakah bahasa Jawa yang kamu gunakan itu halus atau yang lain?"
Bastian: "Bahasa Jawa Timur, tetapi tidak sepenuhnya Jawa. Kami tetap berusaha merealisasikan bagaimana caranya agar terdengar seperti orang Surabaya, tidak yang terlalu kental dengan nuansa Jawa."
Host: "Medoknya sudah dapat, saya orang Jawa, hanya..."
Bastian: "Oke, maaf ya, haha, saya minta maaf."
Agni Terjebak di Dalam Kamar Mandi Hingga Pintu Harus Didobrak
Host: "Film horor ini menarik, Bastian. Biasanya, film horor memiliki suasana yang mencekam. Apakah ada momen yang membuat kamu merinding saat berada di lokasi syuting atau saat proses pengambilan gambar?"
Bastian: "Sebetulnya, aku tidak terlalu takut dengan hal-hal gaib. Itu juga yang membuatku kesulitan saat berakting."
Host: "Tapi kamu takut kehilangan kesempatan, ya?"
Bastian: "Sepertinya aku sudah terbiasa dengan hal-hal tersebut. Jadi, seperti yang aku katakan sebelumnya, sulit sekali untuk berakting ketakutan karena aku tidak terlalu percaya pada hal-hal mistis. Namun, ada satu kejadian ketika aku syuting dan terkurung di sebuah tempat. Saat itu, lokasi syutingnya nyata, dan aku merasakan ketakutan setelah melakukan adegan tersebut. Awalnya aku tidak merasa takut, tetapi saat adegan itu, aku terjebak di dalam gudang dan baru saat itu aku merasakan 'Oh, ternyata menakutkan ya, begini rasanya merinding.' Aku benar-benar merinding karena suasananya, dengan semua elemen yang ada di set yang menambah kesan mistis."
Host: "Di mana lokasi syutingnya, Bastian?"
Bastian: "Lokasinya rahasia, guys."
Host: "Oh, rahasia ya."
Bastian: "Jangan sampai dipakai untuk syuting lain."
Host: "Baiklah, kita jaga rahasia itu."
Bastian: "Karena kebiasaan kita, setelah satu lokasi syuting, biasanya digunakan di tempat lain."
Host: "Itu benar-benar agar tetap unik..."
Bastian: "Sebenarnya, aku hanya bercanda, tapi memang aku merasakan aura mistis yang membuatku ingin cepat selesai. Aku terus bertanya kepada sutradara tentang apa yang diinginkan dan bagaimana sudut pandang kameranya. Kami berusaha melakukan pengambilan gambar dengan cepat, karena suasananya sangat seru."
Host: "Lebih parah lagi, ya?"
Bastian: "Ya, Agni terkurung di kamar mandi selama 40 menit."
Host: "Bagaimana bisa begitu?"
Bastian: "Dia tidak bisa membuka pintunya, jadi selama 40 menit itu, kami tidak bisa melanjutkan syuting sampai akhirnya pintunya didobrak."
Host: "Apakah tempat ini memang dikenal angker?"
Bastian: "Aku tidak tahu pasti, tetapi sebagai tim, kami selalu menjaga sikap agar hal-hal buruk tidak terjadi. Sementara itu, ada satu anak yang sedikit nakal, dan sepertinya dia merasakan ada sesuatu yang aneh. Dia terkurung selama 40 menit dan proses syuting terhenti karena kami menunggu dia keluar dari kamar mandi. Dia sedang buang air kecil dan tidak bisa keluar. Untungnya, dia membawa handphone dan menghubungi asistennya. Kami bahkan sampai menggunakan alat untuk membuka engsel, tetapi tetap tidak bisa. Akhirnya, kami harus merusaknya."
Host: "Ini saat adegan apa, ya?"
Bastian: "Ini bukan adegan, ini kejadian nyata. Dia izin ke toilet dan tidak bisa keluar, sehingga kami harus menunggu dia untuk melanjutkan syuting. Aku bilang, 'Ayo, hantu sudah siap, kita mau syuting.'"
Host: "Wah, itu sudah tengah malam, ya?"
Bastian: "Iya, bahkan sudah subuh."
Host: "Wow, jadi memang syutingnya terasa nyata?"
Bastian: "Iya, kami syuting hingga larut malam."
Bagian yang Paling sulit saat Proses Syuting
Host: "Ingat, tanpa spoiler ya. Bagian mana yang menurutmu terlihat mudah saat dibaca, tetapi sulit saat dilakoni?"
Bastian: "Oh, saat mengetahui bahwa ayahnya telah meninggal."
Host: "Ah, saya sangat menyesal mendengar itu."
Bastian: "Iya, saat reading memang terasa ringan, tetapi ketika adegan itu dijalani, rasanya jauh lebih berat. Mengambil adegan tersebut menjadi tantangan tersendiri, dan itu adalah salah satu momen yang paling menyentuh bagiku."
Host: "Secara umum, apa tantangan terbesar dalam bermain film horor menurut Bastian? Apa yang membedakannya dari genre lain?"
Bastian: "Seperti yang sudah aku sampaikan, tantangan terbesarnya adalah akting ketakutan. Itu sulit karena aku bukan tipe orang yang takut pada hal-hal mistis, jadi ini menjadi pengalaman baru bagiku."
Host: "Mana yang lebih sulit, akting nangis atau akting ketakutan?"
Bastian: "Sepertinya akting ketakutan lebih sulit."
Host: "Ketakutan, ya?"
Bastian: "Sumpah, itu sangat sulit. Namun, jika ketakutan itu disebabkan oleh omelan orang tua, sepertinya lebih mudah karena sudah sering mengalami. Itu saja yang terasa berat."
Host: "Baiklah, sejauh ini dalam karir perfilman Bastian, apa yang paling kamu suka dari semua yang telah kamu lakukan? Genre apa yang paling kamu nikmati?"
Bastian: "Aku suka berbagai genre, terutama yang baru dan berbeda. Film ini sangat spesial bagiku karena setelah hampir bertahun-tahun tidak syuting, akhirnya aku kembali berakting di film SELEPAS TAHLIL yang bergenre horor."
Bastian Merasa Senang Menjadi Seorang Publik Figur
Host: "Oke, tetapi jika kita berbicara tentang pilihan antara film dan musik untuk karir kamu ke depannya..."
Bastian: "Jangan begitu dong."
Host: "Bastian lebih suka yang mana?"
Bastian: "Sebenarnya, aku suka keduanya. Namun, jika berbicara tentang mimpi, aku sangat ingin mendapatkan proyek film dengan cerita yang bagus, seperti film SELEPAS TAHLIL."
Host: "Seru sekali! Nah, kalau kita sudah membahas hal-hal menyenangkan, apa sih yang tidak enak dari menjadi artis cilik?"
Bastian: "Tidak enaknya jadi artis cilik, aduh, ini artis sekarang atau artis cilik dari kecil sampai sekarang?"
Host: "Dari kecil sampai sekarang."
Bastian: "Mungkin ada beberapa kehilangan, tetapi sebenarnya ada plus dan minusnya. Jadi, aku mencoba untuk seimbang dan tidak terlalu merasakan tekanan. Misalnya, orang sering bilang bahwa aku tidak bisa bermain waktu kecil, tetapi menurutku hobiku dan kebahagiaanku adalah bernyanyi atau syuting, jadi sebenarnya tidak ada yang hilang."
Host: "Jadi, itu seperti taman bermain ya?"
Bastian: "Iya."
Host: "Jadi, bekerja tetapi terasa seperti bermain."
Bastian: "Rasanya seperti aku sedang hangout di atas panggung atau di lokasi syuting."
Host: "Apakah ada yang tidak enak dari itu?"
Bastian: "Mungkin soal privasi. Sejak kecil, aku sudah merasakan tidak memiliki privasi dan semua orang mengenaliku. Sebenarnya, itu bagus, dan aku beruntung karena aku tipe orang yang menikmati situasi ini. Ketika orang memperhatikanku, aku merasa seperti, 'Oke, saya seorang artis,' tetapi ada juga yang merasa bahwa privasi adalah hal yang sangat penting. Misalnya, kadang-kadang sulit untuk makan dengan tenang. Namun, karena aku sudah terbiasa sejak kecil, aku menikmatinya. Sekarang, jika aku sedang makan atau berjalan di trotoar dan seseorang memanggil, 'Woi Bastian!' aku akan menikmatinya. Jadi, jika ada yang ingin berfoto atau mengobrol, ya, ayo saja!"
Host: "Ayo, ayo!"
Bastian: "Apa lagi yang bisa dilakukan? It is what it is, dan justru semakin banyak orang yang ingin berinteraksi dengan kita, berarti apa yang kita berikan masih diterima dengan baik."
Jika Tidak Menjadi Artis, Bastian Mungkin Akan Berprofesi Sebagai Pengacara
Host: "Apakah kamu pernah merasakan suasana bahagia? Sepertinya dari tadi tidak ada hal negatif yang muncul."
Bastian: "Janganlah, masa aku bisa berpikir negatif? Aku selalu bersikap positif."
Host: "Benar, sangat benar. Namun, apakah kamu pernah ingin beralih ke profesi lain? Mungkin kamu berpikir untuk berhenti menjadi artis dan mencoba pekerjaan lain yang lebih menarik?"
Bastian: "Sebenarnya, aku tidak pernah ingin beralih. Sepertinya nyanyi dan berakting adalah jalanku. Tapi jika memang tidak ditakdirkan untuk menjadi artis, aku mungkin akan memilih menjadi pengacara. Kebetulan aku orang Batak, jadi mungkin jalanku akan menuju ke sana."
Host: "Itu bisa jadi pilihan yang menarik, mungkin di alam semesta yang berbeda, kamu sudah menjadi pengacara."
Bastian: "Sepertinya di multiverse lain, aku sudah menjadi pengacara."
Host: "Kamu pasti sudah mahir berbicara di depan umum, seolah-olah sudah berpengalaman sebagai pengacara."
Bastian: "Setiap hari aku berhadapan dengan sidang."
Bastian Mengalami Gemetar saat Melakukan Casting Pertamanya
Host: "Baiklah, Bastian, sebagai pertanyaan terakhir, bisa ceritakan perbandingan pengalamanmu dari hari pertama hingga hari terakhir syuting? Bagaimana proses syuting dan interaksi dengan para pemain lainnya?"
Bastian: "Pada hari pertama, suasananya pasti terasa kaku karena saya harus berkenalan dengan tim yang tidak pernah saya temui sebelumnya saat persiapan reading. Namun, pada hari kedua, suasananya masih sama. Memasuki hari ketiga, saya mulai merasa lebih nyaman, dan di hari keempat, semuanya sudah sangat cair. Proses syuting menjadi menyenangkan, semua berjalan tepat waktu tanpa masalah, dan tiba-tiba sudah sampai di hari terakhir."
Host: "Apakah syutingnya hanya berlangsung selama 5 hari?"
Bastian: "Tentu tidak, karena suasananya sudah cair, jadi waktu berlalu begitu cepat hingga tidak terasa bahwa itu adalah hari terakhir."
Host: "Saya kira syutingnya hanya 5 hari, ternyata cepat sekali."
Bastian: "Kalau hanya 5 hari, itu mungkin cukup untuk konten di YouTube atau di Instagram saja, haha."
Host: "Berapa total hari syuting yang sebenarnya?"
Bastian: "Totalnya sekitar dua minggu lebih. Kami tidak banyak berpindah lokasi, jadi tidak terlalu banyak waktu yang terbuang untuk berpindah tempat. Untungnya, kami tidak mengalami banyak kesulitan saat berpindah lokasi. Saya ingat saat ayah saya meninggal, berpindah-pindah lokasi saat itu sangat sulit, apalagi saat anak-anak sudah siap untuk dikuburkan."
Host: "Kalau boleh tahu, ini adalah casting yang keberapa untuk film ini?"
Bastian: "Saya sudah melakukan banyak casting, meskipun tidak semua berhasil. Saya sudah melakukan banyak screen test, dan tidak mungkin tiba-tiba mendapatkan peran tanpa usaha. Jika saya mendapatkan peran, itu berarti karakter tersebut cocok dengan saya, seperti karakter yang saya mainkan di film. Jadi, saya pasti sudah melakukan banyak casting dan screen test."
Host: "Oke, casting yang sekarang ini, mungkin Bastian berasal dari dunia musik. Pasti tidak mudah untuk beralih ke dunia film. Bisa ceritakan bagaimana pengalaman casting pertamamu?"
Bastian: "Haha, saya sangat gemetar saat casting pertama. Saya masih kecil saat itu dan casting untuk iklan. Seperti casting pada umumnya, saya harus memegang papan dan memperkenalkan diri. 'Halo, saya Bastian, umur saya 12 tahun.' Saya gemetar hingga harus mengulang hingga lima kali karena merasa tidak bisa. Namun, casting yang paling berkesan bagi saya adalah saat screen test untuk film LOVE STORY 2, yang berlangsung hampir 4 jam. Sutradara tidak ingin saya pulang sebelum saya bisa menunjukkan kemampuan saya. Dia terus meminta saya untuk menunggu dan mengulang, hingga akhirnya saya terpilih. Pengalaman itu tidak akan pernah saya lupakan. Terima kasih, Abe."