Supaya hemat, perawatan pesawat tak perlu ke luar negeri
Jika ada taman perawatan pesawat, perputaran bisnis di area ini mencapai USD 600 juta per tahun.
Industri perawatan pesawat Indonesia saat ini sangat membutuhkan taman terpadu perawatan pesawat atau Aerospace Park sebagai kawasan terpadu untuk meningkatkan serapan pasar perawatan nasional dan internasional.
Keberadaan Aerospace Park dipercaya dapat mendorong sinergi antar organisasi perawatan pesawat (Aircraft Maintanance Organization/AMO) sehingga memberikan dukungan yang optimal bagi maskapai domestik.
Direktur Utama AeroAsia sekaligus President IAMSA (Indonesia Aircraft Maintanance Shop Association) Richard Budihadianto mengatakan keberadaan Aerospace Park akan meminimalkan perawatan pesawat maskapai domestik ke luar negeri sehingga terjadi penghematan devisa dan belanja luar negeri.
"Kehadiran Aerospase Park juga akan menciptakan 3.500 lapangan kerja baru dan perputaran bisnis di area ini diperkirakan mencapai USD 600 juta per tahun," ucap Budi dalam acara Aviation MRO Indonesia di Jakarta, Rabu (22/5)
Saat ini ada 67 organisasi perawatan pesawat di Indonesia yang terdaftar di Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU). Sebanyak 29 AMO di antaranya menjadi anggota IAMSA. Aerospace Park terdiri dari perusahaan MRO, manufaktur, logistik, vendor, pusat pelatihan, dan sekolah penerbangan.
"Dengan ada ini, ketersediaan dan akses terhadap kebutuhan perawatan pesawat semakin mudah karena berada dalam satu area. Ini akan meningkatkan daya saing industri nasional," jelasnya
Budi menyebut untuk mendukung keberhasilan Aerospace Park, organisasi perawatan pesawat di Indonesia harus fokus pada empat hal yaitu quality standard, personnel development, capability development, SCM and infrastructure.
"Untuk meningkatkan quality standard setiap AMO harus memiliki sertifikat DGCA, EASA maupun FAA," tegasnya.
(mdk/noe)