LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Penurunan Suku Bunga Dinilai Belum Bisa Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Peneliti Core Indonesia, Pieter Abdullah menyesalkan kebijakan moneter yang dikeluarkan Bank Indonesia lebih banyak diminati perusahaan besar ketimbang masyarakat umum. Seperti penurunan suku bunga acuan sejak awal pandemi belum banyak dirasakan manfaatnya bagi masyarakat secara luas.

2021-12-29 20:20:40
Suku bunga
Advertisement

Peneliti Core Indonesia, Pieter Abdullah menyesalkan kebijakan moneter yang dikeluarkan Bank Indonesia lebih banyak diminati perusahaan besar ketimbang masyarakat umum. Seperti penurunan suku bunga acuan sejak awal pandemi belum banyak dirasakan manfaatnya bagi masyarakat secara luas.

Salah satunya tidak ada pengurangan cicilan dari pihak pemberi kredit saat suku bunga acuan diturunkan bank sentral. Masyarakat baru mendapatkan keringanan cicilan bila mengajukan restrukturisasi. Seharusnya, bila terjadi penurunan suku bunga acuan, maka bunga kredit juga ikut turun agar bisa meringankan beban masyarakat.

"Ketika Bank Indonesia melakukan pelonggaran (penurunan suku bunga acuan) diharapkan cicilan kita ini berkurang karena suku bunga (kreditnya) turun," kata Pieter saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (29/12).

Advertisement

Sulitnya suku bunga kredit turun membuat daya beli masyarakat sulit terungkit. Padahal sektor konsumsi rumah tangga menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Sebaliknya suku bunga deposito langsung mengalami penurunan setiap kali Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuannya.

"Setiap kali ada penurunan suku bunga acuan, ini seolah enggak ada hubungannya sama suku bunga kredit, investasi dan lain-lain. Suku bunga kredit selalu ringgit, kalau turun hanya sedikit," kata dia.

Tak heran, lanjut Pieter bila saat ini pertumbuhan kredit masih terbatas. Penyaluran kredit yang macet secara tidak langsung disebabkan daya beli masyarakat yang masih tertahan. Sehingga dampaknya bisa menurunkan efektivitas pertumbuhan ekonomi.

Advertisement

Bila ini terus berlanjut, dia khawatir akan terjadi gejolak di tahun 2022. Mengingat peluang kenaikan suku bunga acuan lebih besar dilakukan Bank Indonesia karena kondisi perekonomian sudah bergerak ke arah pemulihan yang kuat.

"Kalau 2021 ini masih longgar, tahun 2022 sudah bisa lebih cenderung menaikkan suku bunga. Waktu menurunkan saja tidak efektif bantu pertumbuhan ekonomi, apalagi kalau suku bunga dinaikkan," kata dia.

Semua ini kata Pieter karena perbankan memainkan perannya sebagai pebisnis. Lebih mengutamakan keuntungan yang besar sehingga kebijakan moneter yang dibuat Bank Indonesia menjadi tidak efektif. Untuk itu hal ini harus bisa diantisipasi agar kebijakan moneter bisa efektif. Namun selama anomali suku bunga perbankan tidak dilakukan, maka hasilnya akan tetap sia-sia.

"Selama anomali suku bunga perbankan ini tidak dilakukan, efektivitasnya ini sulit untuk ditingkatkan," tutupnya.

Baca juga:
LPS: Tingkat Bunga Rendah, Perbankan Punya Fleksibilitas Dorong Penyaluran Kredit
Bank Indonesia Kembali Tahan Suku Bunga Acuan di Level 3,5 Persen
BI Desak Perbankan Turunkan Suku Bunga Kredit Mulai 2022
November 2021, BI Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5 Persen
Fitur Anyar KPR Murah Jadi solusi Milenial Miliki Rumah, Suku Bunga 4,75 Persen
Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan di 3,50 Persen

(mdk/azz)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.