Lima tahun lagi ekspor kayu Indonesia salip Malaysia dan Vietnam
Targetnya, nilai ekspor bisa meningkat menjadi USD 5 miliar.
Pengusaha mebel dan kerajinan menargetkan ekspor produk kayu dan rotan nasional sanggup menyalip Vietnam dan Malaysia dalam jangka waktu lima tahun ke depan.
"Kita nomor 13 di dunia, di bawah Malaysia dan Vietnam. Jadi lima tahun kedepan kita mau mengejar mereka. Mudah-mudahan mereka tidak lari. Selama ini performa industri furnitur kita selain memalukan juga memilukan, kita tidak akan biarkan," ujar Ketua Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Jumat (24/1).
Menurutnya, saat ini total nilai perdagangan produk kayu dan rotan dunia mencapai USD 112 miliar. China mendominasi dengan nilai ekspor mencapai USD 40 miliar. Sedangkan, Vietnam mencapai USD 4 miliar dan Indonesia hanya sebesar USD 1,7 miliar.
Untuk mengejar ketertinggalan, asosiasi telah menyusun target selama lima tahun terhitung sejak tahun 2012. Targetnya, nilai ekspor bisa meningkat menjadi USD 5 miliar.
"Dan untuk mencapai USD 5 miliar itu kita hanya butuh pertumbuhan 25 persen. Keliatannya agak janggal,tapi kalau orang yang tahu matematika langsung paham," jelasnya.
Selama ini ekspor produk kayu dan rotan Indonesia banyak didominasi ke negara-negara Eropa, Amerika Serikat, kawasan Timur Tengah dan Jepang. Tahun ini, pengusaha membuka pasar ekspor baru hingga ke wilayah Afrika.
"Dominasi sekarang Eropa dan Amerika, masing-masing sekitar 45 persen dan 40 persen, sisanya negara lain. Kita mau buka juga emerging market yaitu Rusia, India, Amerika Latin, negara-negara satelitnya Uni Soviet dulu, dan Afrika. Masih banyak pasar yang belum kita jamah," terangnya.
(mdk/noe)