Komisi VII DPR Dorong Inovasi AK-Tekstil Solo Tingkatkan Kualitas SDM Industri Tekstil
Komisi VII DPR RI mendesak AK-Tekstil Solo untuk berinovasi, termasuk pengembangan mesin dan program studi, demi peningkatan kualitas SDM industri tekstil nasional. Simak tantangan dan solusi yang diusulkan untuk menghadapi kebutuhan industri modern.
Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI baru-baru ini menyoroti peran penting Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta (AK-Tekstil Solo) dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Kunjungan ini bertujuan menggali permasalahan serta potensi pengembangan SDM di sektor industri tekstil. Komisi VII DPR menekankan perlunya inovasi berkelanjutan di kampus vokasi tersebut.
Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, secara tegas meminta AK-Tekstil Solo untuk menciptakan inovasi baru, terutama dalam pengembangan mesin. Hal ini krusial agar lulusan memiliki kesiapan yang memadai saat memasuki dunia kerja yang telah menggunakan mesin modern. Evita Nursanty juga menyarankan program magang intensif di industri sebagai solusi praktis.
Tuntutan peningkatan kualitas lulusan ini menjadi tantangan besar bagi AK-Tekstil Solo di tengah dinamika industri yang terus berkembang. Komisi VII DPR melihat adanya sejumlah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh politeknik ini guna memastikan relevansi dan daya saing lulusannya di pasar kerja nasional maupun internasional.
Tantangan Kualitas Lulusan dan Minat Mahasiswa
Salah satu tantangan utama yang diidentifikasi adalah kesenjangan antara kurikulum dan kebutuhan industri. Evita Nursanty menyoroti bahwa banyak industri sudah menggunakan mesin modern, sementara lulusan AK-Tekstil Solo belum sepenuhnya siap mengoperasikannya. "Sementara industri kerja sudah pakai mesin modern, jadi mereka (lulusan AK-Tekstil) belum siap pakai," kata Evita Nursanty saat kunjungan ke AK-Tekstil Solo, Jawa Tengah, Jumat (22/5). Ia menambahkan bahwa efisiensi pemerintah dalam membeli mesin baru memang sulit, sehingga magang di industri menjadi alternatif penting untuk mempelajari teknik yang ada.
Selain itu, jumlah mahasiswa di kampus vokasi tersebut masih tergolong minim, tidak sebanding dengan ketersediaan dosen serta sarana dan prasarana. Data menunjukkan bahwa satu angkatan mahasiswa hanya berjumlah 90 orang, sedangkan ada 30 dosen dan 42 tenaga pendidikan. Situasi ini menunjukkan perlunya upaya lebih keras dari AK-Tekstil Solo untuk menarik minat calon mahasiswa.
Evita Nursanty juga menyoroti jenjang pendidikan yang mayoritas masih D2, padahal kebutuhan industri saat ini lebih mengarah ke D4, S1, bahkan S2. "Mayoritas mahasiswa kita D2, padahal yang dibutuhkan D4 bahkan S1 dan S2. Maka politeknik harus meng-upgrade prodi yang ada," tegasnya. Peningkatan jenjang pendidikan ini diharapkan dapat membuat lulusan lebih kompetitif dan setara dengan SDM dari negara tetangga.
Solusi dan Harapan dari Berbagai Pihak
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi, menjelaskan bahwa kunjungan Komisi VII DPR RI ini bertujuan memperoleh data riil terkait pendidikan di AK-Tekstil Solo. Diskusi melibatkan asosiasi, industri, dan pihak pendidikan, yang menghasilkan masukan, arahan, dan penajaman dari Komisi VII. Doddy Rahadi menekankan pentingnya rebranding yang dikaitkan dengan kebutuhan industri, termasuk penyesuaian peralatan yang sudah berusia 15 tahun.
Program link and match dengan dunia industri, termasuk program magang, menjadi fokus utama untuk menyamakan output lulusan dengan ekspektasi industri. Doddy Rahadi menyatakan bahwa ini adalah bagian dari cara BPSDMI menyamakan output. Upaya ini selaras dengan misi BPSDMI yang menaungi politeknik dan akademi komunitas untuk menyelenggarakan pendidikan vokasi yang link and match dan berbasis dua sistem.
Direktur AK-Tekstil Solo, Wawan Ardi Subakdo, mengungkapkan bahwa pihaknya aktif menjajaki kerja sama program beasiswa dengan pemerintah daerah yang memiliki pabrik tekstil. Program beasiswa ini diharapkan dapat mendukung kebutuhan industri di Solo Raya. "Wilayah yang ada industrinya kami datangi pemdanya, kami jajaki. Kemarin kami mulai dari Dinas Perindustrian dan Dinas Tenaga Kerja," jelas Wawan Ardi Subakdo, dengan harapan dapat bertemu bupati dan wali kota setempat.
Rekomendasi Peningkatan Program Studi dan Kurikulum
Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah, Samuel Hartono, turut memberikan masukan penting terkait jenjang pendidikan. Ia berharap AK-Tekstil Solo dapat membuka program D4 atau S1. "Masukan saya agar bisa dibuka program D4 atau S1, karena kalau masih D2 tentu kita kalah dari SDM negara tetangga," ujarnya, merujuk pada lulusan S3 di sektor tekstil di China.
Selain peningkatan jenjang, Samuel Hartono juga mengusulkan penambahan Program Studi Pencelupan dan Kimia Tekstil. Menurutnya, program ini sangat penting karena merupakan kunci dalam industri tekstil. "Ini paling penting karena merupakan kunci, tekstil itu ya kimia tekstil," katanya. Penambahan program studi ini akan melengkapi kompetensi lulusan agar lebih relevan dengan kebutuhan spesifik industri.
Peningkatan program studi dan kurikulum ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki pemahaman mendalam tentang aspek-aspek krusial dalam produksi tekstil. Kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan industri menjadi kunci untuk mewujudkan SDM industri tekstil yang unggul dan berdaya saing global.
Sumber: AntaraNews