LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

JK sebut BI Rate, infrastruktur, dan birokrasi hambat laju investasi

Tingginya BI Rate, menurut JK, menjadi salah satu penyebab kinerja investasi melambat.

2015-02-24 15:46:59
Investasi
Advertisement

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) berharap suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate dapat kembali diturunkan. Tingginya BI Rate, menurut JK, menjadi salah satu penyebab kinerja investasi melambat.

"Ada 3 hal mengapa investasi di Indonesia tidak sebaik di negara lain. Bunga (perbankan) salah satu yang termahal di Asia," kata JK di Kantor Pusat BKPM, Jakarta, Selasa (24/2).

Penyebab lain ialah lemahnya sisi infrastruktur sehingga menjadi penyebab mahalnya biaya logistik. "Infrastruktur, biaya logistik, angkut barang pelabuhan," ucap JK.

Dari sisi birokrasi, JK menilai waktu yang dihabiskan untuk mengurus administrasi sangat panjang. Hal ini memicu kekesalan para calon investor.

"(Proses izin) Butuh waktu, menjengkelkan, membosankan. Kehutanan 2 tahun. Izin PLN 1 tahun, 2 tahun. Sistem itu orang nggak akan datang, industri akan angkat kaki," ucap JK.

Sebelumnya, pemerintah menyatakan target pertumbuhan ekonomi sebesar lima persen tak signifikan membantu penyerapan tenaga kerja. Maka dari itu, peran Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) penting untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi melalui investasi.

Hal ini disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saat meninjau pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di Kantor Pusat BKPM, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (24/2).

JK mengatakan, tahun lalu saja, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1 persen dinilai tidak bisa menyerap lapangan pekerjaan lebih banyak. Oleh sebab itu, pemerintah manargetkan menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga mencapai angka 7 persen agar bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Selain itu, angka 7 persen juga dinilai bakal menjadikan perekonomian Indonesia lebih stabil. "Tahun lalu kita tumbuh 5,1 persen. GDP kita tumbuh 5,1 persen, dengan itu kita belum bisa menambah lapangan kerja," ujar JK.

(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.