Harga BBM naik, pengeluaran masyarakat makin besar
Saat ini, masyarakat kelas menengah ke bawah menghabiskan 25-30 persen pendapatan mereka untuk transportasi.
Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sudah di depan mata. Postur perubahan anggaran dalam APBN-P 2013 telah disepakati pemerintah bersama DPR.
Kenaikan harga BBM bersubsidi diyakini sangat memberatkan masyarakat, terlebih dalam bidang transportasi. Masyarakat sangat memerlukan transportasi murah, apalagi di tengah kenaikan harga BBM yang akan mendongkrak harga komoditas lainnya.
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno memaparkan data pengeluaran masyarakat untuk transportasi. Saat ini saja, sebelum BBM naik, masyarakat kelas menengah ke bawah menghabiskan 25-30 persen pendapatan mereka untuk transportasi.
"Beban ongkos transportasi untuk rakyat semakin berat dan bisa membuat mereka tambah miskin. Standar bank dunia itu 10 persen. China 7 persen, bahkan Singapura sudah bisa 3 persen," ucap Djoko dalam pesan singkatnya kepada merdeka.com di Jakarta, Selasa (18/6).
Dengan naiknya harga BBM subsidi, rakyat sangat membutuhkan transportasi murah yang nyaman dan berkeselamatan. Namun hal itu tidak direspons sebagian besar kepala daerah. Djoko menilai, kepala daerah malas membangun sektor transportasi karena harus kerja keras, ikhlas dan cerdas bahkan sering keluar uang non budgeter untuk urusan lainnya.
"Mereka hanya tahu transportasi adalah bangun jalan raya. Dan hanya butuh transportasi umum 5 tahun sekali hanya untuk nempel fotonya di dinding angkot untuk kampanye. Kebanyakan mereka tidak mau kerja cerdas, tapi senang kerja culas," tegasnya.