Ada Celah Peluang Indonesia di Balik Kebijakan Tarif Impor Baru Presiden AS Donald Trump
Kebijakan tarif impor baru yang diterapkan Presiden AS Donald Trump berpotensi membuka celah peluang relokasi pabrik dari vietnam ke Indonesia.
Kebijakan tarif impor baru yang diterapkan Presiden AS Donald Trump berpotensi membuka celah peluang relokasi pabrik dari vietnam ke Indonesia.
Sebab, tarif Impor yang dikenakan AS ke Indonesia masih lebih rendah dibandingkan Vietnam. Saat ini, Indonesia dikenakan tarif impor sebesar 32 persen. Sedangkan Vietnam mencapai 46 persen.
Diperkuat dengan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia di level USD 4.876 relatif masih kompetitif dengan Vietnam sebesar USD 4.282. Sementara PDB per kapita dari Malaysia mengalami perbandingan yang cukup besar mencapai USD 11.379.
"(Dengan ini) kebijakan tarif Presiden Trump Indonesia berpeluang mendapatkan relokasi pabrik dari Vietnam ke Indonesia," ujar Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Sabtu (5/5).
Bhima menekankan kecepatan dan kemampuan lobi politik harus diadopsi Pemerintah Indonesia untuk memperoleh keringanan tarif. Hal ini sebagaimana yang tengah diupayakan Pemerintah Vietnam
Lobi Pemerintah Vietnam dengan menawarkan tarif impor spesifik produk AS hingga 0 persen, bisa ditiru pemerintah Indonesia. Meskipun pemerintah bisa kehilangan pendapatan bea masuk.
"Solusi ini perlu dikaji lebih detil, karena situasi pendapatan negara sedang turun," imbuhnya.
Langkah kedua, pemerintah perlu memperbesar kerjasama seperti relaksasi impor untuk alutsista atau produk pertahanan. Ketiga, menurunkan level Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk produk impor AS khususnya komponen energi terbarukan yang dibutuhkan Indonesia.
Bhima mensyaratkan relaksasi TKDN ini dapat diterapkan bagi barang yang tidak diproduksi di Indonesia. Hal ini sekaligus merupakan cara untuk menarik investasi AS di Indonesia.
"Selama produknya memang tidak diproduksi didalam negeri, sah-sah saja ada relaksasi TKDN," ucapnya.
Melalui cara tersebut, lanjut Bhima, Indonesia sendiri mempunyai peluang besar menjadi tempat relokasi pabrik dari China yang hendak berinvestasi ke Vietnam. Mengingat PDB per kapita Indonesia di level USD 4.876 masih kompetitif dengan Vietnam sebesar USD 4.282. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan PDB dari Malaysia yang mencapai USD 11.379.
Dalam pandangannya, kebijakan manapun yang diambil harus diukur untung ruginya dan diupayakan kecepatannya. Mengingat, saat ini negara yang terdampak kebijakan tarif impor AS tengah berlomba-lomba untuk memberikan penawaran menarik ke Presiden Trump.
"Opsi manapun yang diambil harus diukur untung rugi nya dan berkerjaran dengan waktu. Khawatir Vietnam bisa diturunkan tarif resiprokalnya dan relokasi industri dari Indonesia ke Vietnam akan lebih massif lagi," tutupnya.