Bukannya Tobat Usai Dibebaskan Hamas, Tentara Israel ini Mau Kembali ke Gaza buat Lakukan Genosida
Edan Alexander, tentara Israel-Amerika yang dibebaskan Hamas, siap kembali ke Gaza untuk melanjutkan operasi militer.
Seorang tentara Israel-Amerika bernama Edan Alexander, yang telah dibebaskan oleh Hamas Mei lalu, mengumumkan niatnya untuk kembali ke Gaza. Alexander, yang berusia 21 tahun, menyatakan bahwa ia ingin melanjutkan tugasnya di tentara Israel meskipun telah mengalami penyanderaan selama 584 hari.
Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah acara Friends of the Israel Defence Forces (FIDF) di Amerika Serikat.
"Bulan depan saya akan kembali ke Israel dan sekali lagi mengenakan seragam (tentara Israel) saya, bertugas dengan bangga bersama saudara-saudara saya. Kisah saya tidak berakhir dengan bertahan hidup – ini berlanjut dengan pelayanan. Sampai kemenangan," katanya dikutip dari Middle East Eye, Senin (22/9/2025).
Edan Alexander, yang juga merupakan warga negara Amerika, menganggap melayani Israel sebagai salah satu kehormatan terbesar dalam hidupnya. Keputusan untuk kembali ke Gaza ini muncul di tengah situasi yang semakin memprihatinkan, di mana jumlah korban tewas di Gaza akibat agresi Israel telah mencapai lebih dari 65.000 orang sejak Oktober 2023.
Profil Edan Alexander
Edan Alexander, terkadang disebut Idan Alexander, adalah seorang tentara Israel-Amerika yang lahir 21 tahun lalu. Ia memiliki kewarganegaraan ganda, yaitu Amerika Serikat dan Israel.
Alexander bergabung dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya di Tenafly, New Jersey.
Alexander ditangkap pada 7 Oktober 2023, saat bertugas di dekat perbatasan Gaza. Selama masa penyanderaannya, ia mengalami berbagai tantangan yang menguji ketahanan mental dan fisiknya.
Ia akhirnya dibebaskan pada bulan Mei 2025, sebagai bagian dari upaya Hamas untuk memajukan pembicaraan gencatan senjata dan membuka jalan bagi bantuan kemanusiaan.
Penyanderaan dan Pembebasannya
Edan Alexander ditangkap oleh Hamas saat konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina semakin meningkat. Ia ditahan selama 584 hari, yang merupakan periode yang sangat sulit baginya dan keluarganya.
Pembebasannya pada Mei 2025 dilakukan sebagai niat baik dari Hamas untuk memfasilitasi negosiasi gencatan senjata.
Setelah dibebaskan, Alexander menyatakan keinginannya untuk kembali ke tugas militernya. Dia bahkan tak menolak jika harus kembali ke Gaza.
Ia merasa bahwa pengalamannya sebagai tawanan tidak akan menghentikannya untuk melanjutkan perjuangannya.
Jumlah Korban Wafat di Gaza Akibat Genosida Israel Sejak Oktober 2023
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 65.000 warga Palestina telah kehilangan nyawa akibat agresi Israel. Selain itu, lebih dari 165.000 orang lainnya mengalami luka-luka.
Dalam 24 jam terakhir sebelum laporan tersebut, sebanyak 98 orang dilaporkan meninggal dan 385 orang terluka dirawat di rumah sakit di Jalur Gaza. Selain itu, masalah kelaparan dan malnutrisi akibat blokade yang dilakukan Israel terhadap Gaza juga semakin memperburuk situasi.
432 orang warga Gaza, termasuk 146 anak-anak, meninggal dunia akibat kekurangan gizi dan kelaparan. Sebuah tragedi kemanusiaan yang begitu luar biasa di era modern ini.
Keputusan Edan Alexander untuk kembali ke Gaza dan melanjutkan tugas militernya menuai berbagai reaksi dari masyarakat internasional. Banyak yang mempertanyakan etika dan dampak dari tindakan tersebut, terutama di tengah meningkatnya jumlah korban jiwa di Gaza.
Organisasi hak asasi manusia menyerukan agar semua pihak menghentikan kekerasan dan mencari solusi damai untuk konflik yang berkepanjangan ini. Namun, Alexander tetap berpegang pada keyakinannya bahwa melayani Israel adalah panggilan hidupnya.