Penggunaan Palapa Ring Dinilai Masih Rendah di Kalangan ISP, Internet Byarpet Jadi Sorotan
Enam tahun proyek Palapa Ring telah dirilis, namun hanya 20 persen perusahaan internet anggota APJII yang baru menggunakannya.
Proyek Palapa Ring yang dibangun pemerintah untuk memeratakan akses internet di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan serius dalam pemanfaatannya oleh penyedia jasa internet atau Internet Service Provider (ISP).
Sebagaimana diketahui, Palapa Ring diresmikan pada 2019 oleh Presiden Jokowi kala itu. Jaringan tulang punggung internet Indonesia ini membentang dari Sabang di ujung Barat sampai Merauke di ujung Timur, dengan panjang 12.229 kilometer yang terdiri dari kabel optik darat dan bawah laut.
Sekretaris Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Zulfadly Syam, menyebut tingkat adopsi Palapa Ring oleh anggota ISP masih tergolong rendah.
“Kalau dikatakan penyerapannya besar apa enggak, ya kecil kalau di tahun 2024 dalam konteks jumlah ISP-nya ya,” kata Zul ketika ditemui Merdeka.com di Jakarta, Jumat (11/7).
Menurut dia, meski bandwidth Palapa Ring secara keseluruhan diakui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) telah terpakai dengan baik yakni lebih dari 70 persen, tetapi jumlah ISP yang benar-benar memakai jalur tersebut masih sangat sedikit.
Dari sekitar 1.328 anggota APJII, ia memperkirakan kurang dari 20 persen yang sudah bermitra dengan BAKTI untuk menggunakan Palapa Ring.
“Indikator pembanding kita cuma ISP-ISP yang sudah bergabung sama BAKTI,” ujarnya.
Lantas, mengapa ISP yang pakai jaringan Palapa Ring masih rendah?
Persoalan salah satunya, kata Zul, adalah service level agreement (SLA) atau tingkat ketersediaan layanan yang dinilai masih belum memadai, terutama di wilayah-wilayah tertinggal yang menjadi target utama proyek tersebut.
“SLA-nya itu mungkin di bawah 90 persen,” ungkapnya.
Ia menyontohkan bahwa tingkat availability seperti itu berarti koneksi internet masih kerap putus-nyambung, sehingga belum ideal untuk layanan bisnis atau pendidikan jarak jauh.
“Kalau dipakai untuk bisnis, sekolah, itu masih ada matinya internetnya. Artinya availability-nya sangat rendah di beberapa wilayah, enggak semua wilayah ya,” kata dia.
Palapa Ring adalah megaproyek infrastruktur serat optik nasional yang dibangun pemerintah untuk menghubungkan wilayah-wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) ke jaringan internet berkecepatan tinggi.
Proyek ini terdiri atas jalur barat, tengah, dan timur yang sudah selesai dibangun dan dioperasikan, dengan harapan mendongkrak pemerataan konektivitas digital.
Ia berharap pemerintah bersama BAKTI dan para penyelenggara internet dapat bersama-sama memperbaiki aspek teknis dan komersial, agar infrastruktur yang sudah mahal dibangun benar-benar bisa menjawab kesenjangan digital di Indonesia.