Waspada Penipuan Modus Catut Pejabat Negara Pakai Teknologi AI Deepfake, Begini Tips Cegah jadi Korban
Pelaku mencatut nama pejabat negara dalam melancarkan aksinya.
Kepolisian mengungkap kasus penipuan bermodus teknologi Artificial Intelligence (AI) Deepfake alias penyerupa wajah hingga suara, melalui platform media sosial. Pelaku mencatut nama pejabat negara dalam melancarkan aksinya.
Dirtipidsiber Bareskrim Polri Brigjen Himawan Bayu Aji membenarkan pengungkapan kasus tersebut. Pelaku telah ditangkap kepolisian.
"Pengungkapan kasus Deepfake ini berhasil kami ungkap dengan cepat, di mana pelaku saat ini sudah kami amankan," kata Himawan kepada wartawan, Kamis (23/1).
Pelaku Ditangkap di Lampung
Himawan belum mengungkap lebih jauh informasi dan hasil dari operasi penangkapan kasus penipuan lewat AI Deepfake tersebut. Dia menyatakan kepolisian tengah menyiapkan konferensi pers untuk publik.
"Penangkapan terhadap pelaku dilakukan oleh tim Dittipidsiber Bareskrim di wilayah Lampung Tengah Provinsi Lampung. Nanti akan kami rilis secepatnya,” kata Himawan.
Langkah Cegah jadi Korban
Ancaman deepfake yang dimanfaatkan penipu untuk memperdayai korbannya tidak dimungkiri bisa terjadi. Hal itu diungkapkan oleh pakar keamanan siber Alfons Tanujaya.
Berbekal AI, menurut Alfons, gambar video dan suara bisa dipalsukan serta menghasilkan video yang sulit dibedakan oleh mata telanjang.
Potensi bahaya tersebut pun diolah menjadi iklan sebuah merek smartphone yang memasarkan produk mereka di Malaysia. Merek itu mengklaim, perangkat mereka memiliki teknologi untuk mendeteksi deepfake.
Untuk bisa melakukannya, teknologi itu menganalis kontak mata, pencahayaan, kejelasan gambar dan video playback. Kepada Tekno Liputan6.com, Rabu (18/12/2024), Alfons menuturkan, secara teknologi hal tersebut memang memungkinkan.
Kendati demikian, Alfons menuturkan, ada hal yang perlu disadari oleh pengguna. Dalam hal ini, teknologi AI telah berkembang pesat dan kelemahan-kelemahan yang tadinya mudah terdeteksi akan bisa disempurnakan.
Akibatnya, konten semacam itu akan makin sulit diidentifikasi keasliannya. "Sehingga mengandalkan Ai untuk mendeteksi AI palsu bisa saja dilakukan, tapi bukan jaminan akan mampu mendeteksi semua konten manipulasi AI," tutur Alfons.
Oleh sebab itu, masyarakat tidak disarankan hanya mengandalkan satu teknologi atau parameter untuk mendeteksi penipuan.
"Konten tersebut sah-sah saja dijadikan peringatan untuk meningkatkan awareness atau kesadaran atas ancaman AI, tetapi salah juga kalau melihat AI sebagai monster jahat yang harus ditakuti dan digunakan sebagai sarana penipuan," ujar Alfons.
Alfons pun menyatakan, smartphone memang bisa membantu mengidentifikasi konten AI, seperti yang diiklankan oleh salah satu merek. Namun, penipuan tidak hanya menggunakan AI.
Alfons menuturkan, malah berdasarkan kasus yang beredar saat ini, aksi penipuan tidak terindikasi menggunakan AI, melainkan memakai rekayasa sosial untuk menakuti hingga mengelabui korbannya.
Untuk mencegah menjadi korban penipuan digital, Alfons pun memberikan beberapa hal yang harus dilakukan sebagai berikut:
1. Amankan aset digital anda dengan baik. Jaga kredensial penting seperti email, media sosial dan finansial. Lalu, pastikan dilindungi dengan perlindungan Otentikasi Dua Faktor yang akan mengamankan akun anda sekalipun kredensialnya berhasil dicuri.
2. Gunakan password yang unik, panjang dan berbeda untuk setiap akun. Simpan password menggunakan password manager supaya aman dan mudah dikelola.
3. Pakai program anti phising pada ponsel seperti True Caller yang akan mengidentifikasi nomor telpon penipu dengan metode crowdsourcing. Jadi,nama penelpon akan tampil di ponsel anda sekali pun tidak disimpan di kontak.
4. Gunakan sandi rahasia atau pertanyaan rahasia yang hanya anda ketahui dengan keluarga anda, jika mendapatkan telepon darurat atau permintaan transfer uang.
5. Lakukan crosscheck dengan ketat serta pastikan tidak ditipu ketika melakukan transfer ke rekening yang tidak diketahui sebelumnya.