LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Tragedi keorangutanan di Kalimantan

Jika ada istilah tragedi kemanusiaan,maka di Kalimantan adalah tragedi keorangutanan.

2012-09-13 10:12:11
Orangutan
Advertisement

Nasib orangutan di Kalimantan makin tersudut. Tragedi orangutan yang mati terbakar di Desa Wajok Hilir, Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, menambah panjang deretan penderitaan satwa tersebut. Kerusakan hutan akibat perluasan lahan kelapa sawit mendesak hewan yang ber-DNA mirip manusia ini.

Jika ada istilah tragedi kemanusiaan, maka yang cocok untuk menyebut peristiwa di Kalimantan adalah tragedi keorangutanan.

Berikut wawancara merdeka.com dengan Koordinator World Wildlife Fund (WWF) Kalimantan Barat Hermayani Putera, Selasa (11/9) soal nasib orangutan di Kalimantan.

T: Berapa populasi Orangutan yang tersisa di Kalimantan?

Populasi Orangutan di Kalimantan mengacu pada data PHVA (Population Habitat Viability Assessment) tahun 2004:

Kalimantan Timur (P.p.morio) 4.335 ekor.
Kalimantan Tengah, termasuk Ketapang dan KKU-bagian Kalbar (P.p.wurmbii) 32.300 ekor
Kalimantan Barat (P.p.pygmaeus) 4.500 ekor.

T: Apa saja permasalahan yang dihadapi orangutan di Kalimantan?

Saat ini permasalahan utama dan merupakan akar permasalahan yaitu hilangnya habitat orangutan. Habitat orangutan dalam hal ini adalah kawasan hutan dataran rendah yang telah banyak dikonversi untuk berbagai kepentingan manusia. Sebenarnya hal ini dapat dicegah jika di dalam penyusunan rencana tata ruang wilayah provinsi/kabupaten mempertimbangkan aspek habitat ini. Selanjutnya, sebelum dilakukan pembukaan wilayah berhutan mestinya dilakukan HCV (High Conservation Value) untuk mengetahui bagian-bagian hutan bernilai tinggi, termasuk kepentingan bagi satwa liar dilindungi.

Perburuan dan perdagangan (meskipun terus menerus ditekan), masih memerlukan campur tangan banyak pihak terutama dari sisi penegakan hukum. Perlu ada upaya yang signifikan dari sisi hukum untuk membuat efek jera sehingga kasus-kasus perburuan dan perdagangan ini bisa dikendalikan. Dan, kalau memungkinkan sampai 'zero tolerance'.

T: Seberapa sering orangutan mengganggu perkebunan milik warga? Kenapa ini terjadi?

Dalam konteks ini, kami hanya akan menjawab untuk scope Kalbar saja. Di Ketapang terjadi beberapa kasus. Sedangkan untuk di Kota Pontianak sendiri, minimal ada 2 kasus. Yang pertama terjadi di Bukit Peniraman, Pontianak pada tahun 2010 yang ditangani oleh Balai KSDA.

Selanjutnya pada tahun 2012 di Desa Wajok Hilir ini. Ada kecenderungan terjadi peningkatan kasus dari tahun ke tahun. Hal ini terjadi karena akar permasalahan seperti yang disampaikan di atas. Orangutan kehilangan rumah dan tempat mencari makan. Hutan dan pohon pakan berkurang secara signifikan, sehingga untuk bertahan hidup mau tidak mau mereka harus mencari kawasan berhutan. Akhirnya pilihannya jadi ke kebun masyarakat yang notabene juga adalah kebun buah).


T: Upaya apa yang dilakukan WWF untuk melestarikan orangutan?

WWF Indonesia semenjak tahun 2004 sudah memulai program konservasi orangutan, yang dilaksanakan pertama kali di Kabupaten Kapuas Hulu untuk konservasi sub spesies Pongo pygmaeus pygmaeus, satu sub spesies yang paling terancam di antara 3 sub spesies Kalimantan. Upaya konservasi orangutan dilakukan pertama kali adalah survei populasi dan habitat di kawasan TN Betung Kerihun.

Program penting lainnya adalah kegiatan kampanye kesadartahuan, advokasi kebijakan, hukum, dan penegakan hukum dalam upaya perlindungan orangutan, serta mempromosikan konservasi orangutan hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat melalui program ekowisata minat khusus pengamatan satwa liar, orangutan.

Berbagai upaya yang dilaksanakan WWF di tingkat lapangan menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Para pihak yang ikut terlibat juga semakin banyak, selain mitra di awal yang bergabung dalam tim survei. Kampanye kesadartahuan yang melibatkan masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang bermukim di sekitar hutan semakin bersemangat ketika program PANDA Click! salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat melalui ketrampilan fotografi diajarkan.

Saat ini tidak kurang dari 15 desa telah disentuh dengan upaya program kampanye ini dan hasilnya sungguh luar biasa dimana masyarakat yang dulunya awam dengan kamera, namun sekarang dapat menghasilkan foto berkualitas tinggi termasuk foto orangutan.

Dari sisi advokasi kebijakan dan penegakan hukum, WWF sudah memiliki mitra-mitra dari bidang penegakan hukum di antaranya hakim, jaksa, polisi, dan juga tentara yang siap menegakkan kasus-kasus kejahatan bidang kehutanan, tentunya setelah mendapat pembekalan melalui serangkaian pelatihan intensif yang difasilitasi WWF.

Di bidang ekowisata, saat ini kita sudah memiliki 10 lokasi destinasi, separuh di antara paket perjalanan ekowisata ini juga menjual potensi keberadaan orangutan, dan kelompok pemandu pariwisata yang berasal dari masyarakat lokal siap memandu perjalanan wisata ini. Pelan-pelan, ekowisata minat khusus pengamatan orangutan di alam telah mulai dilirik dan menjadi salah satu pendapatan tambahan yang menjanjikan buat masyarakat dampingan.

Di level nasional WWF Indonesia program Kalbar turut berkontribusi dengan menyumbangkan data untuk penulisan dokumen 'Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan 2007-2017'. Dokumen rencana aksi ini menjadi acuan implementasi program konservasi orangutan di seluruh Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat.(mdk/ian)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.