LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Tes Swab Massal Digelar di Garut, Ditargetkan 1.000 Warga akan Ikut

Pelaksanaan swab tes massal dipantau langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil atau Emil. Menurutnya, kegiatan tes massal ini bagian dari fase adaptasi kebiasaan baru (AKB), di mana setelah melaksanakan PSBB, Gugus Tugas Covid-19 Jabar fokus melakukan penelusuran di wilayah lebih kecil yang berisiko.

2020-06-12 01:33:00
Covid-19
Advertisement

Sejumlah petugas kesehatan melakukan tes swab massal di Desa Samida, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Kamis (11/6). Kegiatan yang digelar oleh Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan Kabupaten Garut itu ditargetkan diikuti 1000-an warga di kampung yang sempat diisolasi tersebut.

Pelaksanaan swab tes massal dipantau langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil atau Emil. Menurutnya, kegiatan tes massal ini bagian dari fase adaptasi kebiasaan baru (AKB), di mana setelah melaksanakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Gugus Tugas Covid-19 Jabar fokus melakukan penelusuran di wilayah yang lebih kecil yang berisiko menjadi tempat penyebaran Covid-19.

"Jadi setelah PSBB, kewaspadaan kita tidak turun, malah dinaikan," kata Emil.

Advertisement

Emil mengungkapkan, tes swab massal di Kecamatan Selaawi tidak dilakukan tanpa alasan. Berdasarkan penelusuran (tracing) ketat tim kampung tersebut ditemukan delapan kasus positif Covid-19.

"Untuk memastikan kita memutuskan untuk menggelar tes swab massal agar jika terdapat kasus positif tambahan dapat segera langsung ditangani. Di desa ini akan dites lebih dari 1.000 warga," ungkapnya.

Emil menambahkan, pelaksanaan tes swab akan dilakukan selama dua hari. Hasilnya sendiri akan diketahui dengan cepat karena saat ini kapasitas pemeriksaan tes swab di Jawa Barat telah mencapai 2.000 per hari.

Advertisement

"Hasilnya mudah-mudahan lebih cepat didapatkan, tak sampai dua minggu seperti pada awal-awal," sebutnya.

Berdasarkan pantauan, tes swab massal itu digelar di dua lokasi, yaitu Kantor Desa Samida dan SDN 1 Samida. Hingga sore, jumlah warga yang mengikuti tes swab masih sedikit, kira-kira 250 orang. Padahal, terdapat kurang lebih 559 kepala keluarga (KK) yang dikarantina mandiri di kampung tersebut.

Sebelumnya, warga di salah satu kampung di Desa Samida telah menjalani karantina mandiri sejak 29 Juni. Karantina dilakukan setelah terdapat tiga kasus positif Covid-19 yang tertular dari pasien positif sebelumnya di kampung itu. Selama masa karantina, pasien positif justru bertambah kembali sebanyak tiga orang.

Emil mengungkapkan pelaksanaan karantina mandiri atau pembatasan sosial berskala mikro (PSBM) di kampung itu merupakan contoh yang baik. Menurutnya, dengan karantina, penyebaran Covid-19 bisa lebih dikendalikan.

Dia memastikan pihaknya terus melakukan tracing kasus Covid-19. Selain fokus di desa atau kelurahan yang berisiko, tes juga dilakukan di pasar-pasar. "Karena di Bandung ada tiga pasar kena. Ini akan menjadi perhatian," ucapnya.

Emil Klaim Kasus Covid-19 di Jabar Terkendali

Dalam kesempatan yang sama, Emil mengklaim kasus Covid-19 di Jawa Barat masih terkendali. Hal itu bisa tercapai karena kerja cepat tim survailans melakukan penelusuran (tracing)

"Kasus harian Jabar masih terkendali. Kadang menambah 12, kadang 50. Rata-rata 20 kasus," katanya.

Angka tersebut, di bawah kasus harian provinsi lain. Dengan kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun memutuskan untuk melanjutkan melakukan penanganan Covid-19 dengan PSBM.

"Artinya, penanganan difokuskan ke wilayah lebih kecil berupa desa, kelurahan, atau kampung, yang berisiko menjadi tempat penyebaran Covid-19. Namun warga harus tetap waspada meski tak ada lagi PSBB. Selama vaksin Covid-19 belum ditemukan, warga harus tetap menerapkan protokol kesehatan," jelasnya.

Hingga saat ini, menurutnya hanya ada tiga cara mencegah Covid-19, mulai memakai masker, jaga jarak dan rajin mencuri tangan. "Saya yakin tidak membuat nyaman, tapi itu harus dilakukan," kata dia.

Karantina 1 Kampung di Garut Tidak Diperpanjang

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut tak jadi memperpanjang karantina mandiri satu kampung di Desa Samida, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut. Sebabnya karena warga menolak untuk melakukan tes swab.

Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, mengatakan karantina mandiri yang dilaksanakan sejak Jumat (29/5) akan diakhiri pada Jumat (12/6).

"Syaratnya, seluruh warga di kampung itu harus menjalani tes swab massal yang dilakukan oleh Gugus Tugas Covid-19. Insyaallah karantina wilayah akan dibuka. Tapi warga harus menerapkan protokol kesehatan," ujarnya, Kamis (11/6).

"Jika dari hasil tes swab massal ditemukan ada warga yang positif Covid-19, hanya warga itu yang akan dibawa ke rumah sakit untuk menjalani isolasi. Sementara warga yang negatif dipersilakan kembali beraktivitas. Namun semua harus diperiksa, agar ada kepastiannya. Warga tak perlu takut," kata Helmi.

Dalam tes swab massal itu, ditargetkan 1.000 orang warga dapat diperiksa.

"Karena merupakan program Provinsi Jabar, hasil tes akan dapat diketahui dengan cepat. Hasilnya bisa satu hari. Mudah-mudahan negatif semua. Masyarakat semua saya harap periksa, jadi kita bisa tahu daerah ini sudah aman," katanya.

Meski ada sejumlah warga yang menolak dites swab, beberapa orang lainnya menyambut baik. Aus Komaria (58), mengaku tenang setelah mengikuti tes swab.

"Selama ini saya was-was karena ada pasien positif Covid-19 di kampung saya. Ya sekarang mah tenang setelah dites. Apalagi kalau hasilnya bisa cepat, jadi bisa tahu saya apakah kena atau engga," katanya.

Aus mengaku menjalani karantina mandiri. Selama karantina mandiri, ia hanya bisa menjaga warung di rumahnya, namun ia bersama warga lainnya tidak bisa keluar kampung karena seluruh akses jalan ditutup dan dijaga oleh petugas.

"Kalau kebutuhan sehari-hari mah ditanggung sama pemerintah. Alhamdulillah dapat beras dan lauk pauk selama dikarantina. Tapi tetap saja, saya inginnya karantina mandiri segera diakhiri agar bisa beraktivitas seperti biasa lagi. Sudah capek," katanya.

Warga lainnya, Suwendi (47) mengaku bosan dengan karantina mandiri yang dijalani. Kebosanan itu sendiri dirasakannya karena ia dan warga lainnya tidak bisa sama sekali keluar dari kampung.

"Hanya diam saja di rumah jadinya," kata pria yang sehari-hari berdagang ke wilayah Bandung ini.

(mdk/lia)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.