Selama Ramadan, pramunikmat tetap tersaji di Sarkem
Bisnis esek-esek di Sarkem tetap menggeliat di bulan Ramadan meski tak seramai hari-hari biasanya.
Seluruh Pemda menerapkan aturan agar selama bulan Ramadan semua tempat hiburan malam, seperti karaoke, diskotik, panti pijat Shiatsu dan adu bola ketangkasan tidak beroperasi. Tapi nyatanya, tak semua pemilik usaha yang menjual jasa hiburan plus-plus menaati imbauan tersebut seperti kompleks lokalisasi terbesar di Yogyakarta, Pasar Kembang.
Pasar Kembang terletak di sebelah selatan Stasiun Tugu Yogyakarta. Tak jauh dari Kawasan Wisata Malioboro Yogyakarta.
Kedua peraturan yang mendasari aturan itu adalah Peraturan Walikota Nomor 36/2011 dan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 4/2011 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan terkait Usaha Hiburan dan Rekreasi Jenis Usaha Malam.
"Termasuk(lokalisasi) Sarkem tidak boleh buka. Kami juga akan meningkatkan operasi pemberantasan penyakit masyarakat (pekat) mulai dari judi, minuman keras dan sejenisnya," ungkap Kepala Dinas Penertiban Kota Yogyakarta Suryanto kepada merdeka.com Minggu (29/7).
Tapi imbauan itu hanya tinggal pesan semata karena kenyataannya bisnis esek-esek di Sarkem tetap bergeliat. Hal itu diungkapkan oleh Lurah Sosromenduran, Mandrawa. Sampai saat ini jumlah Pekerja Seks Komersil (PSK) yang bekerja di Sarkem sebanyak 280 orang. Kebanyakan mereka berasal dari daerah Jateng, Jabar, Sumatera dan Kalimantan.
"Biasanya para pekerja sudah mulai pulang kampung H-7 puasa dan baru kembali setelah Lebaran. Memang tidak semuanya pulang kampung. Jika masih ada beberapa pekerja merekapun sudah sungkan sendiri dengan masyarakat. Kalau terjadi transaksi, transaksinya biasanya tidak begitu vulgar," ungkapnya.
Lokalisasi Sarkem memang sulit dilakukan sebab selain ada sejak masa penjajahan Belanda tempat yang berada di tengah jantung Kota Yogyakarta ini bagian sebagian warga adalah sumber mata pencarian.
Sarkem berbeda dengan lokasi prostitusi di kawasan Kebon Suwung atau taman kota yang lokasinya berdekatan dengan Bank Indonesia. Jika di tempat itu, para pekerja seks sudah tidak terlihat lagi sejak awal Ramadan.
Pantauan merdeka.com di lokasi, saat ini Sarkem memang tak seramai biasanya. Suara dentuman room karaoke yang biasanya terdengar kini sudah tidak ada lagi. Bila pun ada tidak riuh, mungkin karena berasal dari ruangan khusus yang kedap suara.
Selama puasa ini pula, para pramunikmat itu tampak lebih selektif saat mencari laki-laki hidung belang. Mereka hanya mau saling bersapa pada orang-orang yang dikenalnya saja. Bahkan tak jarang mereka langsung menolak jika melihat lelaki yang postur tubuhnya tinggi dan tegap.
"Harus hati-hati mas. Bisa-bisa tempat 'mami' (induk semang) saya ditutup jika melayani tamu yang sekiranya tidak dikenal dan mencurigakan. Khawatir jika itu adalah aparat kepolisian atau tentara," ungkap Susan (bukan nama sebenarnya), salah satu PSK asal Sumedang, Jabar.
Susan menceritakan, jika Ramadan datang biasanya dia meliburkan diri sampai hari ketiga. Dia akan memulai aktivitasnya kembali di hari keempat puasa.
"Itu pun kami lakukan hati-hati dan tidak sembarang meladeni tamu. Kalau di luar Ramadan kita berani duduk di depan halaman sambil senyam-senyum manggil-manggil. Tetapi kalau sekarang bisa-bisa jadi incaran aparat," jelas Susan.
Selama bulan puasa ini, Susan pun mengaku penghasilannya mengalami penurunan. Jika hari-hari biasa bisa mendapatkan enam sampai tujuh tamu, selama Ramadan hanya tiga sampai lima tamu dalam satu malam. Hal itu karena berkurangnya jam operasional.
"Mau tidak mau kita harus tetap bekerja karena dua anak saya menunggu kiriman uang saya setiap minggunya untuk sekolah dan makan dirumah bersama neneknya," ungkap wanita yang berstatus Janda dan mempunyai dua anak itu.
Susan mengatakan akan kembali ke kampung halaman tiga hari menjelang Lebaran. Bagi Susan, meskipun banyak orang memandang sebelah mata pekerjaannya, tapi urusan membahagiakan orangtua dan anak adalah tanggungjawab pribadi yang harus dilakukanya setiap hari.(mdk/lia)