LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Reporter Natas diinterogasi saat meliput pengepungan asrama Papua

Saat meliput, kedua reporter ini didatangi pria berbadan gempal dan menanyakan identitas diri.

2016-07-18 14:06:39
Demo mahasiswa Papua di Jogja
Advertisement

Wartawan dari Pers Mahasiswa (Persma) Natas universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengalami intimidasi saat meliput peristiwa pengepungan polisi terhadap asrama Papua, Jumat (15/7). Intimidasi tersebut berupa interogasi identitas diri atas dasar rasial.

Pimpinan Umum Persma Natas, Gregorius Adhytama, membenarkan bahwa dua anggotanya yang bernama Benidiktus Fatubun (Benfa) dan Fileksius Gulo (Fileks) mengalami intimidasi saat melakukan peliputan. Benfa dan Fileks yang merupakan mahasiswa jurusan pendidikan sejarah tersebut dimintai identitasnya oleh polisi.

"Tiba-tiba datang seseorang yang berpakaian jaket kulit dan berbadan gempal datang menghampiri Benfa dan Fileks. Mereka berdua bertemu dengan seorang anggota kepolisian di depan kampus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Jalan Kusumanegara," jelas Gregorius Adhytama, Senin (18/7).

Gregorius Adhytama menjelaskan bahwa polisi kemudian meminta Benfa dan Fileks menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan kartu id Pers. Tak hanya itu saja, polisi kemudian juga memfoto identitas tersebut.

"Mereka berdua diminta menunjukan KTM, KTP, dan kartu pers. Kemudian setelah dilihat lalu difoto oleh polisinya," ujar Gregorius Adhytama.

Menurut Gregorius Adhytama, saat peristiwa peliputan tersebut sedang marak razia yang dilakukan oleh kepolisian atas terhadap orang-orang yang berasal dari Papua. Mereka yang berkulit hitam dan berambut kriting kerap dicurigai dan dilakukan interogasi.

"Benfa itu orang Maluku yang dari lahir di Papua jurusan pendidikan sejarah semester lima. Sedangkan Fileks itu jurusan pendidikan sejarah semester tiga asli Nias," ujarnya.

Gregorius Adhytama menyayangkan perbuatan polisi yang melakukan intimidasi terhadap dua wartawan persma tersebut. Menurutnya polisi sebagai pejabat negara tak selayaknya berbuat rasis.

"Perbuatan polisi itu kan menunjukan diskriminasi terhadap orang Papua yang berkulit hitam. Miris polisi kok sangat rasis," ujarnya.

Kami jelas mengecam tindakan aparat terhadap intimidasi wartawan pers mahasiswa Natas Universitas Sanatadharma. Karena aparat sendiri telah menutup akses informasi atas apa yang terjadi di asrama Papua.

Sementara itu sekjen Perhimpunan Pers Mahasiswa Indosenia (PPMI) Yogyakarta, Taufik Hidayat, Mengecam upaya polisi dalam mengintimidasi wartawan Persma Natas. Dia menilai kepolisian sama saja menutup kran informasi terhadap publik.

"Polisi yang mengintimidasi wartawan sama dengan upaya penutupan fakta terhadap peristiwa di asrama Papua," ujar Taufik Hidayat.

Menurut taufik, polisi semestinya mengerti wilayah kerja masing-masing institusi. "Kalau kerjanya polisi mengamankan ya sudah cukup dengan mengamankan saja. Tidak perlu melakukan intimidasi dengan menginterogasi wartawan apalagi berdasarkan rasial," imbuhnya.

Baca juga:
Ini tujuan aksi mahasiswa Papua di Yogya sebelum akhirnya dikepung
Polda DIY sebut 1 mahasiswa Papua jadi tersangka karena bawa panah
Mahasiswa Papua di Yogya menolak dianggap biang kerok & pro OPM
Pengepungan mahasiswa Papua di Yogyakarta melanggar HAM
Kronologi pengepungan mahasiswa Papua di Yogyakarta

Advertisement
(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.