Quraish Shihab: Hijrah bukan untuk berperang apalagi membunuh sesama
Quraish Shihab: Hijrah bukan untuk berperang apalagi membunuh sesama. Ulama ahli tafsir Muhammad Quraish Shihab mengatakan hijrah di masa sekarang harus dimaknai sebagai upaya menciptakan kehidupan yang lebih baik di segala bidang, bukan untuk berperang apalagi membunuh sesama manusia.
Ulama ahli tafsir Muhammad Quraish Shihab mengatakan hijrah di masa sekarang harus dimaknai sebagai upaya menciptakan kehidupan yang lebih baik di segala bidang, bukan untuk berperang apalagi membunuh sesama manusia.
"Hijrah itu meninggalkan yang buruk menuju yang baik," kata Quraish Shihab dikutip dari Antara, Rabu (28/9).
Dia mengatakan, hijrah adalah ungkapan cinta Tanah Air yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Bagi bangsa Indonesia hijrah harus dimaknai untuk lebih mencintai Tanah Air demi menciptakan negeri yang adil, damai, dan sejahtera.
Pernyataan itu sekaligus meluruskan pengertian hijrah yang digunakan kelompok ISIS dalam menjalankan misinya. ISIS menjadikan hijrah sebagai alat propaganda untuk menarik pengikutnya pindah ke Suriah untuk mendirikan khilafah.
Menurut Quraish Shihab, hijrah memiliki tiga nilai penting yang harus dipahami umat Muslim. Pertama, ada kaitan antara hijrah dengan keamanan karena pada waktu itu terjadi teror atau ancaman pembunuhan terhadap Rasulullah dan para pengikutnya.
Itu pun, kata Quraish Shihab, Rasulullah menunggu perintah Allah SWT. Sebelum perintah hijrah turun, sahabat Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah mengajak Rasulullah untuk hijrah, tetapi ajakan itu tidak dilaksanakan.
Kedua, meskipun hijrah perintah langsung dari Allah, Rasulullah tetap melakukan perencanaan sebelum melakukan hijrah ke Madinah.
Menurut Quraish Shihab, sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah lebih dulu hijrah ke Habasyah (sekarang Ethiopia), meski negeri itu dipimpin seorang raja beragama Nasrani.
"Namun, karena raja itu baik dan adil, Rasulullah memerintahkan hijrah ke Habasyah, sebelum kemudian hijrah lagi ke Madinah. Dari situ dipetik makna bahwa dalam hijrah harus ada optimisme," tuturnya.
Nilai ketiga, lanjut Quraish Shihab, dalam hijrah terdapat kebersamaan karena pada waktu itu terdapat anak, remaja, dan orangtua. Dikatakannya, Tahun Baru Islam dimulai dari hijrah Nabi Muhammad SAW, bukan pada waktu Nabi meraih kemenangan.
"Karena kalau kemenangan orang biasanya akan merasa puas," kata mantan Menteri Agama itu.
Baca juga:
Jokowi: Di medsos saling hujat & mengolok, apa ini Islam Indonesia?
Kisah orang Jawa bawa Islam ke Thailand
Semarak parade Hari Muslim di New York
Hangatnya persaudaraan sesama Muslim di Bangkok
Ini gadis berhijab pertama yang muncul di majalah Playboy
Dianggap hina Islam, lima orang ini dibunuh dengan sadis