Proses identifikasi korban Sukhoi libatkan 4 universitas
Dokter forensik dari Bogor dan ahli DNA asal Rusia juga dilibatkan dalam identifikasi korban di RS Polri Kramatjati.
Mabes Polri menjanjikan, proses identifikasi jenazah akan berlangsung secara profesional, transparan, akuntabel dan independen. Hal itu dilakukan agar keluarga korban kecelakaan Sukhoi dapat menerima kepastian dari jenazah yang ditemukan tim SAR.
"Kita kerja profesional, transparan, akuntabel dan independen. Kita juga melibatkan berbagai disiplin ilmu," ujar Kepala RS Polri, Brigjen Pol Agus Prayitno di RS Polri Kramatjati, Sabtu (12/5).
Agus menambahkan, tim Dissater Victim Identification (DVI) Indonesia juga akan melibatkan 4 universitas untuk membantu proses identifikasi jenazah yang dilaksanakan sampai saat ini. Keempatnya adalah Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Padjajaran dan Universitas Brawijaya.
"Juga dokter-dokter forensik dari Bogor serta tim DNA asal Rusia," ujarnya.
Sementara Direktur Eksekutif DVI Indonesia, Kombes Pol Anton Castilani mengatakan, untuk proses identifikasi, pihaknya menyiapkan sebanyak 45 peti jenazah.
"Disiapkan 45 bodybag atau peti jenazah untuk setiap potongan besar maupun kecil. Setiap potongan itu akan dicocokan dengan data yang diterima tim identifikasi," jelasnya.
Pencocokan itu dilakukan sesuai dengan data pembanding yang diterima tim DVI saat membuka posko di Lanud Halim Perdanakusuma. Diantaranya tato, tanda lahir, rahang gigi dan ciri-ciri khusus lainnya termasuk properti yang dikenakan korban semasa hidup.
"Termasuk ditentukan sampling DNA dari bagian-bagian yang ditemukan tim SAR," pungkas Anton.(mdk/bal)