Pemda minta warga diajak kelola Tangkuban Parahu
Loket penjualan objek wisata Tangkuban Perahu dibakar warga sekitar pada hari Selasa (15/5) kemarin.
Loket penjualan objek wisata Tangkuban Parahu dibakar warga sekitar pada hari Selasa (15/5) kemarin. Peristiwa ini diduga sebagai bentuk protes mereka yang selama ini tidak pernah diikutsertakan dalam pengelolaan kawasan wisata yang terletak di kawasan Jawa Barat itu.
Berdasarkan informasi yang dihimpun merdeka.com, Kamis (17/5), sebelum membakar, warga melempari loket itu dengan batu. Kaca-kaca loket pun pecah.
Saat dimintai tanggapan perihal insiden itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Nunung Sobari berharap, pengelola Tangkuban Parahu bisa menjalankan konsep pengelolaan berbasis masyarakat. Meski demikian pihak pemda tetap akan memandang serius masalah ini.
"Ya harapannya agar masyarakat merasa dilibatkan," kata Nunung, ketika dihubungi.
Nunung mengimbau, harusnya pengelola Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu dipegang PT Graha Rani Putra Persada (GRPP) sudah harusnya memikirkan hal itu. Dia berharap agar pengelola Tangkuban Perahu bisa berubah ke arah yang lebih baik.
"Bahwa pengelolaan wisata itu harus berbasis masyarakat. Dan masyarakat juga harus peduli atau sadar wisata," sarannya.
Disparbud pun menyayangkan terjadinya aksi massa tersebut. Dia hanya bisa menyarankan dan tidak bisa melakukan kebijakan lebih jauh terkait pengelolaan Tangkuban Parahu.
"Kan Tangkuban Perahu dikelola langsung oleh Kementerian Kehutanan melalui perusahaan swasta," ujarnya.
Tangkuban Perahu kata dia, memiliki potensi wisata yang bagus. Jika ada ulah pengrusakan takutnya wisatawan menjadi takut untuk berkunjung. Karena itu dia menekankan betapa pentingnya sinergitas.
"Buat dunia wisata ini sangat disayangkan. Padahal secara potensinya itu bisa menjadi daya tarik wisata yang hebat," terangnya.(mdk/lia)