Menteri Kebudayaan Ajak Masyarakat Pahami Keris Warisan Budaya Tanpa Mistik
Menteri Kebudayaan mendorong masyarakat melihat Keris Warisan Budaya sebagai karya seni dan peninggalan sejarah, bukan hanya dari sisi mistis. Simak pentingnya literasi keris untuk generasi mendatang!
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memandang keris sebagai warisan budaya dan karya seni adiluhung yang kaya makna. Ajakan ini disampaikan untuk menggeser persepsi publik yang selama ini terlalu lekat dengan unsur mistis.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah pembukaan Pameran Keris Nusantara dalam rangka Hari Keris Nasional 2026 di Museum Pusaka TMII, Jakarta, pada Sabtu, 23 Mei 2026. Fadli Zon menekankan pentingnya literasi dan edukasi agar pemahaman tentang keris menjadi lebih komprehensif dan mendalam di kalangan masyarakat luas.
Selama ini, diskusi mengenai keris seringkali diwarnai pertanyaan seputar keberadaan roh atau kekuatan gaib di dalamnya, yang seringkali mengesampingkan nilai-nilai intrinsiknya. Padahal, keris memiliki nilai sejarah, filosofi, artistik, dan budaya yang sangat kuat dan mendalam, yang patut dipelajari dan dilestarikan oleh setiap generasi.
Menggali Nilai Historis dan Filosofis Keris
Persepsi masyarakat terhadap keris telah lama terbentuk oleh narasi mistis yang kuat, seringkali mengabaikan kekayaan nilai historis dan filosofisnya yang luar biasa. Padahal, keris adalah sebuah ekspresi budaya luhur yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur bangsa Indonesia, mencerminkan kearifan lokal.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengakui bahwa elemen spiritual memang tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari sejarah panjang dan proses pembuatan keris yang rumit. Namun, ia menegaskan bahwa fokus utama harus tetap pada nilai-nilai budaya, estetika, dan seni yang terkandung di dalamnya.
Keris merepresentasikan budaya material dengan nilai seni tinggi, memadukan keahlian tempaan logam yang presisi, tradisi ukir yang detail, filosofi mendalam, serta sejarah panjang peradaban di Nusantara. Pemahaman yang lebih luas mengenai aspek-aspek ini perlu terus digalakkan di seluruh lapisan masyarakat.
Upaya penguatan literasi dan narasi tentang keris terus dilakukan melalui berbagai jalur, termasuk pendidikan formal, penyebaran informasi di media massa, dan jangkauan digital. Hal ini sangat penting, terutama untuk menjangkau generasi muda agar mereka lebih mengenal dan bangga akan warisan budayanya sendiri.
Keris sebagai Warisan Budaya Dunia dan Hari Keris Nasional
Budaya keris tidak hanya berkembang pesat di Pulau Jawa, tetapi juga menyebar luas ke berbagai wilayah lain di Indonesia seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Lombok. Pengaruhnya bahkan meluas hingga mencapai negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, menunjukkan jangkauan budayanya.
Pengakuan internasional terhadap keris telah diberikan secara resmi oleh UNESCO, sebuah badan PBB yang menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda. Pengakuan global ini semakin menegaskan pentingnya keris dalam khazanah budaya dunia yang harus dijaga kelestariannya.
Dengan adanya pengakuan bergengsi ini, pemerintah berharap masyarakat dapat lebih memahami nilai budaya keris secara menyeluruh dan tidak hanya terpaku pada aspek mistisnya. Hal ini sejalan dengan upaya pelestarian, promosi, dan edukasi keris di kancah nasional maupun internasional.
Sebagai bentuk apresiasi dan pelestarian, sejak tahun 2025, Indonesia telah menetapkan tanggal 19 April sebagai Hari Keris Nasional. Penetapan ini dilakukan oleh pemerintah untuk memperingati berdirinya Sekretariat Nasional Keris Indonesia (SNKI) dan menjadi momentum penting bagi pelestarian Keris Warisan Budaya bangsa.
Sumber: AntaraNews