LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Kisah Sugeng, veteran yang tetap berjuang buat hidup hingga tua

Sugeng mengaku tak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah, meski dia seorang veteran.

2015-11-10 15:24:41
Hari Pahlawan
Advertisement

10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sayang, masih banyak mereka yang berjasa dalam meraih kemerdekaan tersisihkan.

Bahkan para pejuang veteran sudah senja tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Sugeng Hadisuyatna, warga Plumbungan, Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta adalah salah satunya. Kakek dikaruniai 17 cucu dan 8 cicit ini pernah menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA), dan anggota Batalyon 10 Yogyakarta saat perang kemerdekaan.

Sehari-hari, Sugeng yang lahir pada 1926 kini tetap bekerja sebagai petani. Di masa tuanya, dia masih harus berjuang mengayun cangkul buat mendapatkan sesuap nasi.

"Sekarang jadi petani. Ke ladang. Kalau enggak ke ladang, mau makan apa?" kata Sugeng saat ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (10/11).

Perjuangan Sugeng saat mempertahankan kemerdekaan tidak mudah. Harta dan nyawa dipertaruhkannya buat memperjuangkan kebebasan. Pada 1948 saat Belanda mencoba menduduki Yogyakarta, rumah milik Sugeng ikut dibakar pasukan Belanda.

"Rumah saya limasan 5 habis dibakar Belanda tahun 1948, karena ada tentara mereka yang mati ditembak pejuang. Habis semua barang-barang," kenang Sugeng.

Perjalanan bersama veteran lainnya bermula pada 1944. Saat itu, Sugeng dan beberapa warga mendaftarkan diri ke PETA yang merupakan bentukan Jepang. Di PETA, Sugeng berpangkat Gyuhei, di PETA DAI.IV.Daidan, Gunungkidul.

"Tapi terus kan dibubarkan. Lalu saya masuk ke Batalyon 10 Yogyakarta bersama yang lain. Tugasnya menghadang sekutu di Ambarawa. Di sana kakak saya mati ditembak sekutu," ujar Sugeng.Karena kejadian itu, sang ibu memintanya keluar dari Batalyon. Keluarganya tidak ingin kehilangan anggota keluarga lagi. Lantas pada 1946, dia pun memutuskan keluar dari Batalyon 10. Namun itu bukan akhir dari perjuangannya. Secara diam-diam dia mengumpulkan logistik untuk dikirim ke pejuang. Dia sendiri yang mengantarnya.

"Itu perjuangan saya untuk negara. Saya tidak mau memelas bantuan. Sekarang ini saya juga makan dari keringat sendiri, belum pernah ada bantuan dari pemerintah," ucap Sugeng.

Baca juga:
Jokowi anugerahkan gelar pahlawan untuk 5 pejuang
Hari Pahlawan, Luhut kenang pertempuran sengit di Timor Timur
Meski cacat sejak lahir, pria ini hafal Alquran hingga jadi ulama
Dulu usir penjajah, 70 veteran ini kini melawan eksekusi rumah
'Bung Karno' dan 'Jenderal Sudirman' atur lalu lintas di Purwokerto

(mdk/ary)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.