Dirjen Pendis Tegaskan Ekoteologi Madrasah Wajib Jadi Budaya, Bentuk Karakter Peduli Lingkungan
Direktur Jenderal Pendidikan Islam menegaskan pentingnya Ekoteologi Madrasah sebagai budaya untuk membentuk karakter siswa peduli lingkungan dan wujud syukur kepada Tuhan.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amin Suyitno menekankan pentingnya ekoteologi untuk menjadi budaya di lingkungan madrasah. Penegasan ini disampaikan dalam sebuah kegiatan di MAN 2 Kota Bengkulu pada hari Sabtu, 23 Mei.
Menurut Amin, ekoteologi merupakan bagian integral dari implementasi nilai-nilai keagamaan dan bentuk rasa syukur atas ciptaan Allah SWT. Oleh karena itu, siswa madrasah diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian mendalam terhadap kelestarian alam.
Pernyataan tersebut disampaikan Amin saat memimpin aksi pelepasan ratusan burung dan penanaman pohon. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi program ekoteologi Kementerian Agama yang berlangsung di lingkungan madrasah, menandai komitmen terhadap lingkungan.
Membangun Kesadaran Ekologis Sejak Dini
Amin Suyitno menegaskan bahwa program ekoteologi tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata, melainkan harus menjadi gerakan berkelanjutan. Gerakan ini bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik yang memiliki kesadaran ekologis.
Tujuan utamanya adalah menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini di kalangan siswa madrasah, memastikan mereka tumbuh dengan pemahaman akan pentingnya menjaga bumi. Madrasah memiliki posisi yang sangat strategis dalam menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan.
Pendidikan karakter dapat dibangun secara efektif melalui pembiasaan sehari-hari. Ini dimulai dari menjaga kebersihan lingkungan madrasah hingga merawat tanaman dan ekosistem sekitar, menjadikan madrasah sebagai garda terdepan dalam upaya pelestarian lingkungan.
Gerakan Penghijauan dan Perlindungan Satwa di Madrasah
Gerakan penghijauan, penanaman pohon, serta perlindungan terhadap satwa liar harus terus digelorakan. Inisiatif ini perlu dilakukan di seluruh satuan pendidikan madrasah sebagai bentuk tanggung jawab kolektif.
Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlangsungan lingkungan hidup bagi generasi mendatang. Amin Suyitno secara simbolis memulai aksi Kemenag ASRI dengan pelepasan burung, menandai dimulainya komitmen nyata.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh siswa-siswi MAN 2 Kota Bengkulu, menunjukkan partisipasi aktif dari generasi muda. Turut hadir pula aparatur sipil negara dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bengkulu serta sejumlah pejabat penting.
Pimpinan perguruan tinggi keagamaan juga turut serta dalam acara penting ini, menunjukkan dukungan lintas institusi terhadap program ekoteologi. Semua pihak menunjukkan komitmen yang kuat terhadap program ekoteologi ini.
Madrasah Bengkulu Siap Jadi Pelopor Ekoteologi
Kepala MAN 2 Kota Bengkulu, Rahayu, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan yang diberikan kepada madrasahnya sebagai tuan rumah kegiatan Kemenag ASRI. Ia secara khusus berterima kasih kepada Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Staf Khusus Menteri Agama, dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bengkulu, Saefuddin, menyatakan bahwa program ekoteologi sangat sejalan dengan komitmen Kementerian Agama. Komitmen ini bertujuan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan penguatan moderasi beragama.
Penguatan moderasi beragama ini secara khusus berbasis pada kepedulian terhadap lingkungan, menunjukkan dimensi spiritual dari pelestarian alam. Saefuddin menegaskan bahwa madrasah di Bengkulu siap menjadi pelopor gerakan peduli lingkungan di tingkat regional maupun nasional.
Ia berharap program ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi inspirasi berharga bagi seluruh satuan pendidikan di Indonesia. Ini menunjukkan ambisi untuk menciptakan dampak yang lebih luas.
Sumber: AntaraNews