Ada joki tes TKI, tes PNS, hingga joki narapidana
Mentalitas menerabas itu pula yang memunculkan istilah joki. Yang penting bayar, beres semuanya.
Entah bagaimana ceritanya, joki lebih kental dengan makna negatif. Joki yang aslinya bermakna penunggang kuda atau unta, kini lebih sering digunakan untuk memaknai tindakan pintas. Barangkali ini tidak lepas dari salah satu sifat manusia Indonesia menurut cendekiawan Koentjaraningrat yaitu mentalitas suka menerabas.
Menurut Koentjaraningrat, mentalitas menerabas ini bermula sejak zaman pendudukan Jepang. Waktu itu banyak timbul lowongan pada kedudukan-kedudukan tinggi dalam masyarakat akibat penangkapan pegawai-pegawai tinggi Belanda. Kedudukan dari pegawai-pegawai Indonesia meloncat ke atas. Gejala ini terulang beberapa kali dalam pengisian aparatur negara pada zaman perjuangan di Yogya.
Pada masa sesudah penyerahan kemerdekaan, selama proses ambil alih perusahaan Belanda tahun 1957 dan 1958 dan dalam masa sesudah 1963 terjadi peralihan posisi yang tidak wajar. Menurut Koentjaraningrat dalam buku Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, proses meloncat-loncat kedudukan yang terjadi berkali-kali itu menyebabkan orang yang tadinya setara, mampu menduduki posisi tinggi dalam waktu singkat. Menurut dia, sistem meloncat-loncat itu menyebabkan kemunduran keahlian di Indonesia. Akhirnya, mentalitas menerabas pun banyak dijumpai dalam berbagai kesempatan.
Mentalitas menerabas itu pula yang memunculkan istilah joki. Yang penting bayar, beres semuanya. Sampai ada istilah joki three in one, joki antrean SIM, KTP, joki narapidana dan lain-lain. Bahkan lebih parah lagi, calon mahasiswa universitas negeri menggunakan joki dalam sistem ujian masuk PTN. Joki ini sudah ada sejak masa Sipenmaru, UMPTN hingga SNMPTN.
Berikut beberapa kasus joki di banyak bidang:
1. Joki tes calon TKI
Pada 17 Juni lalu, puluhan joki dalam tes "Employment Permit System Test of Proficiency in Korean" atau tes kecakapan Bahasa Korea bagi calon TKI yang akan bekerja ke Korea Selatan di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta diamankan dan diserahkan ke Polres Sleman. Para joki tersebut diketahui dari perbedaan foto yang ada di nomor peserta dengan wajah peserta yang hadir dan ketika didesak akhirnya mereka tidak bisa menunjukkan identitas yang benar.
2. Joki narapidana
Pada Januari 2011 lalu, Bojonegoro gempar. Kepolisian mengungkap kasus joki narapidana yang melibatkan Kasiem dan Karni. Penyidik dari Kepolisian Resor Bojonegoro menilai kedua orang itu sebagai yang menyuruh dan melaksanakan penukaran narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Bojonegoro.
Kasiem statusnya sudah menjadi terpidana penyelewengan pupuk bersubsidi. Sedangkan Karni, warga Dusun Kalipang Desa Leran Kecamatan Kalitidu Bojonegoro ini, ditahan karena menjadi joki napi alias menggantikan Kasiem di tahanan. Joki tahanan terungkap saat Yayuk, warga Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas, membesuk tetangganya, yaitu Kasiem di Lembaga Pemasyarakatan Bojonegoro lalu. Tetapi begitu bertemu, ternyata yang ditemui Yayuk bukan Kasiem, tetangganya, tetapi orang asing.
3. Joki CPNS
Panitia dan pengawas ujian Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kota Makassar menggagalkan aksi perjokian saat ujian digelar Jumat, 10 Desember 2010. Dua joki, masing-masing asal Surabaya dan Bandung, ditangkap di lokasi ujian terpisah.
Joki asal Surabaya, Alief Wicaksono, 20, yang tertangkap di SMAN 14 Makassar mengaku mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Aksi Alief ditengarai sebagai sebuah sindikat. Itu berdasar pengakuan yang bersangkutan dan pesan singkat di BlackBerry miliknya. Alief sendiri mengaku baru tiba Jumat pagi di Makassar dan langsung ke lokasi ujian.
Alief yang terus menutupi wajahnya dengan tas menyebutkan rekannya yang lain menjadi joki di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Jalan AP Pettarani Makassar, SD IKIP Jalan AP Pettarani, dan di Kabupaten Maros. Peran joki ini, menurut Alief, sudah sering dia lakukan. Dia mengaku mendapat orderan dari temannya di Surabaya yang memang memiliki jaringan langsung dengan sindikat di Makassar.