4 Fakta nenek di Semarang tewas di bawah meja makan
WNI keturunan Tionghoa itu tewas dibunuh dalam keadaan terlentang berlumuran darah di bawah meja makan.
Ratnawati, nenek 86 tahun, warga Gang Kentangan Nomor 76, ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya di Kentangan Nomor 76, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (27/12) kemarin. Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono menyatakan, korban Ratnawati tewas akibat dianiaya. Apalagi saat ditemukan terakhir, korban dalam kondisi tewas terkapar dan terlentang di bawah meja makan dengan banyak luka di wajahnya. Ratnawati (86) warga Gang Kentangan, Kecamatan Semarang Tengah, Jawa Tengah yang tewas terkapar di bawah meja makan diduga karena dianiaya. Penganiayaan terlihat dari bekas luka pada tubuh korban di bagian wajah, tangan dan leher. Petugas Reskrim Polrestabes Semarang telah menyelidiki nenek Ratnawati (86) warga Kentangan 76, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah yang tewas di bawah meja makan. Dalam penyelidikannya, sertifikat rumah miliknya hilang. Nenek Ratnawati rupanya juga pernah menjadi korban perampokan. Namun kejadian tersebut terjadi sekitar tahun 1998 yang lalu. Dalam peristiwa itu, korban kehilangan duit Rp 30 juta yang merupakan uang asuransi kematian sang suami.
Perempuan Warga Negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa dengan nama Tancunu itu tewas dibunuh dalam keadaan terlentang berlumuran darah di bawah meja makan.
Agus harianto (65), warga Gang Kentangan saudara korban yang merupakan saksi kejadian mengatakan peristiwa tersebut diketahui sekitar pukul 06.30 WIB.
Berikut fakta-fakta nenek di Semarang tewas di bawah meja makan seperti dirangkum merdeka.com, Minggu (28/12):Sebelum tewas, nenek di Semarang dianiaya perampok
"Saya lihat fisik mayat ada luka di pipi kanan diduga akibat benda tajam. Pelipis kiri benda tumpul. Luka di jari tengah kiri diduga benda tajam," paparnya.
Untuk penyebab pasti kematian, petugas harus melakukan proses pemeriksaan pada jenazah korban. Usai dievakuasi, jenazah korban langsung dilarikan ke RSUD Kariadi Kota Semarang untuk menjalani autopsi guna memastikan penyebab kematian.Luka di bagian wajah, tangan dan leher
"Darah keluar dari bagian kepala, pelipis dan tangan jari tengah akibat benda tajam," ungkap petugas INAFIS Polrestabes Semarang Iptu Syawal.
Selain luka akibat penganiayaan di wajah, juga ditemukan luka bekas jeratan dileher korban. Namun, luka jeratan itu agak terlihat samar dan perlu dipastikan oleh tim medis.
"Ada jeratan tapi kelihatan tipis dan samar-samar," jelasnya.Sertifikat tanah hilang
Hilangnya sertifikat tanah itu menjadi salah satu perbincangan di antara beberapa petugas penyidik Reserse Kriminal (Reskrim) Polrestabes Semarang selama melakukan identifikasi dan penyelidikan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) pembunuhan.
"Tidak ada perhiasan atau barang berharga yang hilang. Sampai sekarang belum ditemukan barang berharga yang hilang. Namun, sebuah sertifikat rumah raib atau hilang," ungkap beberapa petugas Reskrim Polrestabes Semarang.Dulu juga pernah dirampok Rp 200 juta
Meski nyawanya selamat kala itu, Nenek Ratnawati juga kehilangan perhiasan setengah ember. Namun, hingga kini siapa pelaku perampokan dirumahnya tersebut juga belum terungkap oleh petugas kepolisian saat itu.
"Sudah dua kali ini. Beberapa tahun lalu. Setelah suami meninggal. Total kehilangan antara Rp 200 - Rp 250 juta terdiri dari setengah ember perhiasan dan uang asuransi kematian suami sekitar Rp. 30 juta," tegas Agustinus (54) keponakan korban kepada merdeka.com Sabtu (27/12) di sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP) pembunuhan.