Kisah Bang Pi\'i: Jawara Jakarta Hampir Habisi Soeharto, Berakhir Dipenjara Orde Baru
Bagaimana seorang preman yang kerap keluar masuk penjara bermetamorfosis dari masa ke masa. Mulai menjadi seorang pejuang dan pejabat negara, sebelum akhirnya kembali menjadi pesakitan.
Bagaimana seorang preman yang kerap keluar masuk penjara bermetamorfosis dari masa ke masa. Mulai menjadi seorang pejuang dan pejabat negara, sebelum akhirnya kembali menjadi pesakitan.
Penulis: Hendi Jo
Cerita tentang Letnan Kolonel Imam Syape’i alias Bang Pi’i, sekilas seperti kisah 1001 malam: dari anak berandalan yang kerap beraksi dari gang-gang kumuh di Pasar Senen hingga menjadi warlord yang ditakuti di seantero Jakarta Raya. Sebelum akhirnya diasingkan pemerintahan Presiden Soeharto ke penjara.
Hikayat Pi’i bermula saat dia menjadi jagoan di Pasar Senen pada akhir kekuasaan Belanda di Indonesia. Karena sering terjadi bentrok antara para pedagang dengan para bandit di pasar tersebut, Pi’i berinisatif mendirikan Kumpulan 4 Sen (P4 Sen).
Itu nama perhimpunan para pelaku bisnis di Pasar Senen. Meliputi para pedagang sayur, tukang asong, pedagang buah-buahan, tukang becak, sais delman, kuli panggul, dan para sopir angkutan umum (opelet dan taksi). Dengan organisasi tersebut, Bang Pi’i mengatur keseimbangan sosial di Pasar Senen dengan mewajibkan anggota P4 Sen untuk membayar sejenis upeti berkedok iuran sebanyak 4 sen.
"Seperti zaman sekarang, saat itu soal keamanan di pusat-pusat perniagaan seperti Pasar Senen juga ditentukan oleh para preman," ungkap sejarawan Rushdy Hoesein.
Bergabung dengan Jagoan Betawi
Menjelang kedatangan tentara Jepang ke Indonesia, P4 Sen berganti nama menjadi Oesaha Pedagang Indonesia (OPI). Selanjutnya OPI tidak hanya berlaku sebagai 'centeng' bagi para pelaku bisnis di Pasar Senen, namun juga mengkoordinasi bantuan kepada para keluarga korban romusha, kewajiban melakukan pekerjaan kasar untuk kepentingan militer Jepang dengan upah yang sangat minim.
Karena banyaknya anggota OPI yang menjadi korban romusha, menjadikan kelompok tersebut mengalami radikalisasi. Tak jarang mereka kerap melakukan penculikan terhadap para serdadu Jepang dan membunuhnya hingga dianggap sebagai musuh pemerintah militer Jepang.
Pasca proklamasi 17 Agustus 1945, terjadi perubahan politik yang drastis di kancah internasional. Tentara Inggris merapat di Pelabuhan Tanjungpriok pada September 1945. Mereka yang awalnya datang untuk mengurusi para tawanan perang dan pemindahan kekuasaan dari militer Jepang kemudian menjadi pembela kepentingan Belanda. Maka jadilah mereka musuh orang-orang Republik di Jakarta.
Meskipun begundal, jiwa Pi’i terpanggil pula untuk terjun ke dunia heroisme mengatasnamakan cinta tanah air. Maka dia mendirikan Pasukan Istimewa (PI) dan saling bahu membahu dengan Lasjkar Senen pimpinan Daan Anwar bertarung melawan tentara Inggris dan NICA. Belakangan pasukan Bang Pi’i bergabung dengan Barisan Rakjat Indonesia (BARA) yang didirikan oleh Haji Darip, jagoan Betawi asal Klender.
Sayangnya, demi kemenangan politik, Perdana Menteri Sutan Sjahrir saat itu lebih memilih bermanis muka dengan Sekutu. Karena kesepakatan politik Sjahrir juga, para jagoan Jakarta akhirnya harus terusir dari Jakarta dan terpaksa menyingkir ke wilayah ommenlanden, seperti Bekasi, Karawang hingga Bogor.
Hampir Habisi Soeharto
Bang Pi’i tentu saja termasuk orang yang harus meninggalkan Jakarta. Sesuai dengan pembawaannya yang dramatis, dikisahkan dia meninggalkan Jakarta (menuju Bekasi) sambil menunggang seekor kuda putih dan menyandang sebilah guntho (pedang Jepang).
"Di depan para pengikutnya, dia berjanji akan kembali pada suatu hari…" demikian penuturan Robert B. Cribb dalam Gangsters and Revolutionaries.
Singkat cerita, Pi’i kemudian bergabung dengan Siliwangi, divisi tentara Jawa Barat yang pada September 1948 kemudian ribut dengan orang-orang kiri saat ditugaskan hijrah ke Jawa Tengah.
Syahdan, saat seksinya bertugas di batas kota Solo, Pi’i hampir menghabisi seorang “overste PKI yang berparas tampan” bernama Soeharto. Untunglah, opsir yang mengaku sebagai utusan Panglima Besar Soedirman itu bisa diselamatkan oleh komandannya Pi’i yang bernama Mayor Omon Abdoerachman.
Nasib Sang Raja Pusat Dunia Hitam Jakarta
Selepas perang, karir Pi’i semakin moncer. Berbeda dengan dua puluh tahun sebelumnya, Pi’i yang dicap bajingan telah berubah menjadi seorang pejabat terhormat. Rupanya Pemimpin Besar Revolusi berkenan mendapuk sang jagoan menjadi Menteri Negara Keamanan Rakyat dalam Kabinet Dwikora. Itu baru peran resminya. Dalam panggung yang lain, Pi’i rupanya kembali merajai Pasar Senen, pusat dunia hitam di Jakarta Raya.
Hingga tibalah hari jahanam itu. Sejak 1 Oktober 1965, kedudukan Presiden Sukarno mulai goyah. Puncaknya terjadi pada 1966-1967, saat Si Bung Besar mulai dibeslah dan para pendukungnya disingkirkan secara besar-besaran, senasib dengan orang-orang komunis. Pi’i yang loyalis Sukarno pun tak lepas mendapat giliran digilas roda zaman: terpental dari kekuasannya dan masuk penjara. Rupanya Jenderal Soeharto yang menjadi biang Orde Baru tak melupakan dirinya pernah akan dihabisi jagoan Senen itu.
Sejak keluar dari penjara Orde Baru pada awal 1970-an, Pi’i yang malang, pamornya mulai meredup. Dia lantas sering sakit-sakitan dan lebih banyak tergolek di rumahnya yang terletak di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pada 9 September 1982, sang jagoan dari Pasar Senen itu pun pergi untuk selamanya.