LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. GAYA

Akankah cinta mampu menghapus trauma perceraian itu? (Part 1)

Sampai suatu ketika, dia datang dengan sejuta impian.

2016-02-09 05:09:00
Tentang Cinta
Advertisement

Rumah tanggaku berantakan. Ayahku selalu melayangkan tamparan. Pukulan. Bahkan tak jarang menyeret dan memaki Bundaku hingga menangis. Itu adalah sebuah gambaran keluarga yang buruk.

Ini seperti proyek jangka panjang yang entah sampai kapan berakhir. Kedua orang tuaku selalu ribut dan mempermasalahkan hal-hal sepele. Mereka tak pernah akur. Ekonomi keluarga kacau. Perusahaan kecil yang dibangun mereka perlahan ambruk. Utang menumpuk. Tagihan silih berganti datang ke rumah. Sanak saudara lain tak ada yang berani masuk ke rumah. Ayah selalu memperlakukan mereka dengan kasar. tidak ada yang lebih buruk dari keluargaku. Mungkin.

Namaku Dena. Denasya Kharisma. Adik laki-lakiku satu-satunya bernama Fikri Satria, atau yang biasa dipanggil Fikri. Kami hidup di bawah payung keluarga yang tak lagi utuh. Bisa dibayangkan, adikku yang masih duduk di bangku kelas 6 SD harus melihat jerit tangis Bunda saat berdebat dengan Ayah. Aku? Hanya bisa meratapi ketidakadilan ini.

Pertengkaran mereka berakhir pada sebuah perceraian. Ya, perpisahan orang tua yang sama sekali tidak terpikirkan olehku. Ini seperti cerita di sinetron televisi.

Pasca perceraian, aku berharap semua akan kembali normal. Kedua orang itu tak lagi serumah. Tapi nyatanya itu hanya sebatas harapan. Masalah baru terus datang. Kecemburuan mereka masih ada meski telah berpisah.

Studiku di perguruan tinggi terpaksa harus berakhir prematur di tahun ke-2. Terkadang aku mempertanyakan ini pada Tuhan. Mungkinkah semua akan berakhir indah?

Perceraian orang tuaku berbuntut pada kisah cintaku yang tak pernah bahagia. Sejak kecil, pikiranku selalu dipenuhi dengan sifat lelaki yang kasar, penuh emosi, dan suka main tangan. Seperti Ayahku. Tidak sedikit teman cowokku yang mendekat. Tetapi selalu tak pernah kuanggap serius. Bagiku mereka sama saja. Kasar!

Sampai suatu ketika, dia datang dengan sejuta impian. Mungkinkah cinta dapat mengubah segalanya?

Bersambung...

Baca juga:
[Part 1] Cinta yang terkoyak di tengah gejolak perang
[Part 2] Cinta yang terkoyak di tengah gejolak perang
[Part 1] Taj Mahal, monumen cinta paling agung yang pernah dibuat
[part 2] Taj Mahal, monumen cinta paling agung yang pernah dibuat
[part 3] Taj Mahal, monumen cinta paling agung yang pernah dibuat

Advertisement
(mdk/ega)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.