West Point, menempa serdadu sejak berabad lalu
Beberapa pemimpin negara lain pernah belajar di West Point, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Calon prajurit itu berjalan tegap sambil matanya menatap lurus. Senapan dipapah mengikuti gerak langkah. Tampak seragam licin dengan tanda pangkat mengilap bak habis dipoles. Dia berpapasan dengan serdadu lainnya. Ternyata mereka bukan melaksanakan kegiatan baris-berbaris, tapi sedang dihukum. Begitulah cara mereka menebus kesalahan di Akademi Militer West Point.
Akademi Militer West Point, atau biasa disebut The Point, menjadi kawah candradimuka buat menempa serdadu dan calon perwira Amerika Serikat. Didirikan sejak Maret 1802 di Negara Bagian New York, tempat itu menjadi kebanggaan rakyat Amerika. Tercatat beberapa pemimpin negeri Paman Sam lulusan tempat pendidikan itu, yakni Presiden Ulysses S. Grant dan Dwight
D. Eisenhower. Tidak ketinggalan, beberapa kepala negara lain merupakan jebolan institusi elit ini, yakni Presiden Filipina, Fidel V. Ramos dan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.
West Point dulunya adalah benteng digunakan buat menangkis serangan kapal perang Angkatan Laut Inggris saat Perang Kemerdekaan Amerika Serikat. Setelah merdeka, tempat itu dijadikan gudang dan tempat pelatihan militer. Kolonel Sylvanus Thayer adalah orang yang pertama kali membuat kurikulum pertama kali dan masih dipakai sampai sekarang, seperti dikutip dari situs www.wikipedia.org, Selasa (3/7).
Di lahan seluas 65 kilometer persegi itu para taruna dididik menjadi prajurit tangkas dan trengginas. Saban awal Juli west Point membuka penerimaan siswa baru.
Dalam kurikulum buatan Thayer diharapkan lulusan akademi militer itu siap buat terjun di berbagai bidang, tidak hanya menjadi prajurit tempur. Terbukti, jebolan West Point menguasai bidang teknik sipil dan ilmu terapan lainnya banyak membantu pembangunan rel kereta, jembatan, pelabuhan, dan jalan umum.
Meski satu almamater, para lulusan West Point pernah terlibat dalam Perang Saudara di Amerika Serikat. Pimpinan pasukan Union, Ulysses S. Grant dan Panglima Konfederasi, Robert E. Lee, kerap beradu taktik dan strategi walau akhirnya Robert harus takluk.
Kelebihan West Point yang menjadikan institusi itu elit lantaran dalam kurikulum pendidikan militernya menggabungkan berbagai disiplin ilmu. Semua itu wajib dikuasai oleh para taruna. Modernisasi itu berlangsung setelah Perang Saudara berakhir sampai saat ini. Pendidikan prajurit di akademi itu setara sarjana strata satu. Jika seorang teruna memiliki otak encer, dia bakal mengikuti pendidikan tingkat lanjut gratis. Standar disiplin tinggi dipadukan pelajaran moral dan etika prajurit menjadi nilai lebih menjadi ciri lembaga itu. Fisik, otak, dan mental tiap taruna ditempa habis-habisan.
Bahkan mereka juga tidak malu belajar dari pengalaman bangsa lain. Buku Dasar-Dasar Perang Gerilya karangan Jenderal Abdul Haris Nasution menjadi salah satu buku wajib di akademi itu. Maka tidak heran para The Long Gray Line, sebutan bagi para alumni dan siswa West Point, betah mengenakan cincin khusus yang diberikan menandakan mereka pernah mengenyam pendidikan di salah satu akademi militer elit itu.
(mdk/fas)