Tiga pertanyaan kunci buat Trump saat kunjungi Israel
Tiga pertanyaan kunci buat Trump saat kunjungi Israel. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemarin tiba di Tel Aviv, Israel setelah dua hari kunjungan di Arab Saudi. Kunjungan kenegaraan pertama ke Timur Tengah yang dilakoninya sebagai presiden AS ini jelas menjadi sorotan dunia Internasional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemarin tiba di Tel Aviv, Israel setelah dua hari kunjungan di Arab Saudi. Kunjungan kenegaraan pertama ke Timur Tengah yang dilakoninya sebagai presiden AS ini jelas menjadi sorotan dunia Internasional.
Selama ini kebijakan Trump dalam isu Timur Tengah masih sulit diterka, meski dalam masa kampanye dia sudah beberapa kali dengan cukup gamblang menyatakan posisinya.
Dilansir dari majalah Time, Senin (22/5), kunjungan presiden AS ke-45 itu ke Israel diharapkan bisa menjawab setidaknya tiga pertanyaan kunci terkait konflik Palestina-Israel yang tak kunjung usai.
1. Mampukah Trump membuat 'kesepakatan final' bagi dua kubu bertikai?
Bagi Timur tengah, Trump memang tampaknya bukan sosok yang bisa diharapkan menjadi juru damai. Trump dipandang kurang punya pengalaman untuk menjadi seorang pendamai konflik yang berkepanjangan itu.
Meski begitu dia masih dianggap sosok yang bisa memberi harapan baru yang disetujui kedua pihak.
"Sejauh ini masing-masing pihak tidak ada yang menolak Trump. Itulah yang bisa membuat dia mendapatkan sesuatu untuk jangka pendek,"
kata pengamat Davids Makovsky dari Institut Washington untuk Kebijakan Timur jauh yang juga bagian dari tim Timur Tengahnya, mantan Menteri Luar Negeri John Kerry.
2. Solusi dua negara atau satu?
Trump sempat membuat para pengamat terkejut dengan pernyataannya saat jumpa pers di Gedung Putih dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu Februari lalu. Saat itu Trump mengabaikan posisi AS yang selama ini bertahan dengan kebijakan solusi dua negara dalam konflik Palestina-Israel.
Trump ketika itu mengatakan dia mengharapkan solusi dua negara dan satu negara serta bisa menerima solusi mana pun di antara dua itu.
Netanyahu belakangan menunjukkan kecenderungan untuk mundur dari solusi dua negara. Sebaliknya di kubu Palestina, Hamas dalam pernyataan terbarunya mulai bersedia mendukung solusi itu.
3. Apakah Kedutaan AS akan pindah ke Yerusalem?
Pertanyaan ini sama halnya dengan mempertanyakan apakah Ibu Kota Israel akan pindah ke Yerusalem yang berarti AS mengakui keputusan Negeri Bintang Daud itu.
Israel selama ini ingin Yerusalem menjadi ibu kota mereka, sementara Palestina menginginkan kota itu seperti yang tercantum dalam peta 1967 supaya mereka punya ibu kota sendiri di Yerusalem Timur.
Saat ini tak satu pun komunitas internasional mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan hingga kini Kedutaan Besar AS masih bercokol di Tel Aviv. Namun semasa kampanye Trump pernah berjanji akan memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem.
"Soal apakah kedutaan akan pindah ke Yerusalem, saya mengharapkan itu terjadi," ujar Trump.
Baca juga:
Sibuknya persiapan Israel demi menyambut Donald Trump
Trump ingin teroris segera diusir dari muka bumi
Dikunjungi Trump, Saudi siap beri Rp 266 triliun ke perusahaan AS
Kecapekan, Trump minta putrinya gantikan hadiri acara di Saudi
Pulang dari Saudi, Trump langsung cetak sejarah
Doa Trump dan keluarga di Tembok Ratapan Yerusalem