Pemberontak Suriah kuasai perbatasan Irak dan Turki
FSA telah menguasai tiga kota di perbatasan Turki dan satu lagi di perbatasan Irak.
Tentara Pembebasan Suriah (FSA) kemarin berhasil menguasai wilayah perbatasan dengan Irak. Pihak oposisi itu juga telah membangun pos pertahanan di tiga wilayah dekat Turki.
Stasiun televisi Al Arabiya mendapatkan informasi ini dari kubu pemantau hak asasi independen, Jumat (20/7). Di dekat Turki, FSA menguasai perlintasan Bab al-Hawa, Jarablus, dan Idlib, sementara kota perbatasan Irak, Al-Bukamal, jatuh belakangan setelah tentara pemerintah sempat memberi perlawanan.
Tidak lama setelah menduduki kantor pemerintahan di sekitar perbatasan, pemberontak langsung menurunkan foto Presiden Basyar al-Assad. "Pertempuran terjadi siang hingga sore, akhirnya bendera Suriah diturunkan pihak pemberontak diganti milik FSA," ujar polisi perbatasan Irak tidak disebut namanya.
Jatuhnya kota-kota dekat negara tetangga ini vital bagi kelompok pembangkang. Arus barang dan manusia di sepanjang 910 kilometer perbatasan Turki-Suriah-Irak otomatis mereka kuasai. Kelompok FSA pun makin kuat bercokol membangun basis di Provinsi Idlib, tempat oposisi terbanyak kedua setelah Homs.
Pertempuran di perbatasan ini menyusul insiden peledakan bom dua hari lalu di Ibu Kota Damaskus, menewaskan tiga orang kepercayaan Assad. FSA dan tentara pemerintah hingga hari ini masih bertempur di dekat kantor pemerintahan.
Di lain pihak, kemarin Rusia dan China memveto rencana Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa memberi sanksi bagi Suriah. Resolusi itu diajukan koalisi negara Barat dan Timur Tengah lantaran rezim Assad tidak menghentikan penggunaan senjata berat terhadap warga sipil.
Wakil Rusia di PBB, Vitaly Churkin, menyatakan negaranya menolak resolusi Dewan Keamanan karena memungkinkan kekuatan asing terlibat di urusan internal Suriah. "Kami tidak ingin urusan dalam negeri Suriah melibatkan intervensi personel militer asing," ujar dia.(mdk/fas)