OKI bekukan keanggotaan Suriah
Iran dan Aljazair menolak keputusan itu karena dianggap tidak akan menyelesaikan konflik di Suriah.
Pertemuan tingkat menteri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Kota Mekkah, Arab Saudi, hari ini sepakat membekukan keanggotaan Suriah. Tindakan ini adalah sanksi tambahan untuk menekan dua pihak bertikai di negara itu agar menghentikan kekerasan.
Pagi tadi, Sekretaris Jenderal OKI Ekmleddin Ihsanoglu sudah membocorkan kesepakatan negara anggota untuk membekukan status Suriah kepada wartawan. "Keputusan itu telah disepakati, mayoritas anggota mendukung pembekuan keanggotaan Suriah," kata dia. Dari 57 negara anggota OKI, hanya Iran dan Aljazair menentang keputusan itu, seperti dilaporkan reporter stasiun Al Arabiya, Selasa (14/8), yang mengikuti sidang beberapa saat lalu.
Organisasi wadah negara Islam sedunia ini sejak akhir bulan lalu telah melakukan komunikasi informal buat mengambil tindakan ini. Sebagai buktinya, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa jauh-jauh hari telah membocorkan informasi pencabutan status anggota OKI merupakan sanksi atas kekerasan berlarut-larut di negara itu. "Kita akan membahas kemungkinan pembekuan keanggotaaan Suriah di OKI," kata dia awal bulan lalu kepada wartawan di Kementerian Luar Negeri.
Bagi Menteri Luar Negeri Iran Ali Akbar Salehi, langkah OKI gegabah dan tidak menyelesaikan permasalahan. "Tindakan ini gegabah dan bukan menyelesaikan akar masalah, hanya melenyapkan dari permukaan saja," ujar dia. Negeri Mullah itu selama dua dekade terakhir memang menjalin hubungan erat dengan rezim Syiah Alawite bercokol di Suriah.
Sejak konflik bersenjata meletup Maret tahun lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan sekitar 20 ribu orang tewas dan lebih dari sejuta lainnya mengungsi. Perang ini diperkirakan tidak lama lagi berakhir sebab banyak tangan kanan Presiden Basyar al-Assad, mulai dari jenderal, duta besar, dan kuasa usaha di pelbagai negara mulai membelot.(mdk/fas)