FOTO: Wabah Ebola di Kongo Membuat Dunia Ketar Ketir
Pemerintah berbagai negara meningkatkan kewaspadaan setelah WHO menetapkan status darurat global terkait wabah Ebola di Kongo.
Wabah Ebola jenis langka kembali memicu kekhawatiran internasional setelah Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menetapkan status Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia terhadap penyebaran virus di Republik Demokratik Kongo.
Jenis virus yang menyebar kali ini adalah Bundibugyo, varian Ebola yang lebih jarang ditemukan dan sempat tidak terdeteksi selama berminggu-minggu. Kondisi itu terjadi karena pengujian awal dilakukan terhadap jenis Ebola lain yang lebih umum dan hasilnya menunjukkan negatif.
WHO menyebut wabah tersebut berkembang dengan cepat dan berpotensi berlangsung setidaknya selama dua bulan. Investigasi masih dilakukan untuk memastikan titik awal penyebaran, namun lembaga kesehatan dunia memperkirakan penularan sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu sebelum teridentifikasi secara resmi.
Hingga pertengahan Mei 2026, WHO mencatat 51 kasus terkonfirmasi di provinsi Ituri dan Kivu Utara di Kongo bagian utara serta dua kasus lain di Uganda. Selain itu terdapat 139 kematian yang diduga berkaitan dengan Ebola dan hampir 600 kasus suspek.
Pusat Analisis Penyakit Menular Global MRC di London memperkirakan jumlah kasus sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar dibanding angka resmi. Lembaga itu menilai total infeksi kemungkinan telah melampaui 1.000 kasus meski skala pasti wabah masih belum dapat dipastikan.
Ini menjadi wabah Ebola ke-17 yang terjadi di Kongo. Meski negara tersebut dinilai memiliki pengalaman dalam penanganan Ebola, sebagian besar wabah sebelumnya berasal dari jenis virus yang lebih umum sehingga tantangan kali ini dianggap berbeda.
WHO juga menyebut vaksin khusus untuk varian Bundibugyo belum akan tersedia dalam waktu dekat. Pengembangan vaksin diperkirakan membutuhkan waktu enam hingga sembilan bulan sebelum dapat digunakan secara luas.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan memastikan belum ditemukan kasus Ebola. Pemerintah memperkuat pengawasan di seluruh pintu masuk negara, termasuk bandara dan pelabuhan, terutama terhadap pelaku perjalanan yang berasal dari negara terdampak.
Ebola dikenal sebagai salah satu virus paling mematikan di dunia dengan tingkat kematian tinggi. Virus ini pertama kali ditemukan pada 1976 di dekat Sungai Ebola di Republik Demokratik Kongo dan sejak itu beberapa kali memicu wabah besar di kawasan Afrika Tengah dan Barat.
Penularan Ebola terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita yang terinfeksi seperti darah, air liur, keringat, urin, dan cairan tubuh lainnya. Virus juga dapat menyebar melalui benda yang terkontaminasi maupun kontak dengan jenazah pasien yang meninggal akibat Ebola.
Kelelawar buah diyakini menjadi reservoir alami virus yang kemudian dapat menularkan penyakit ke manusia maupun hewan primata lainnya. Karena risiko penularan yang tinggi, penanganan pasien dan proses pemakaman korban Ebola harus dilakukan dengan prosedur keamanan ketat.